Kemarau Picu Kematian Ikan di Bantul, Pembudidaya Tetap Tenang

Yosef Leon
Yosef Leon Selasa, 07 Juli 2026 08:57 WIB
Kemarau Picu Kematian Ikan di Bantul, Pembudidaya Tetap Tenang

Seorang pembudidaya ikan nila di Tamantirto, Kasihan, Bantul saat memberi pakan ikan peliharaannya pada Senin (6/7/2026). Kelompok yang tergabung dengan nama Mino Jolontoro itu mengaku tidak khawatir dengan fenomena kematian ikan akibat musim kemarau.

Harianjogja.com, BANTUL — Pembudidaya ikan air tawar di Kabupaten Bantul mulai menghadapi dampak musim kemarau 2026. Meski sejumlah kasus kematian ikan sempat terjadi, para peternak mengaku belum terlalu khawatir selama perawatan dilakukan secara optimal.

Fenomena kematian ikan dilaporkan muncul di beberapa titik wilayah Bantul. Salah satunya di Tamantirto, Kasihan, di mana sekitar 150 ekor ikan gurame mati dalam waktu singkat beberapa waktu lalu.

Namun, kondisi tersebut tidak sepenuhnya membuat pembudidaya panik. Tri Sunaryadi, pembudidaya ikan nila di Tamantirto, mengatakan jenis ikan tertentu seperti nila dan bawal memiliki daya tahan yang relatif tinggi terhadap perubahan kualitas air di musim kemarau.

“Kalau nila dan bawal relatif aman, kecuali ada pencemaran limbah yang cukup besar. Yang perlu diwaspadai justru saat awal hujan setelah kemarau, karena kotoran dari berbagai sumber ikut terbawa ke kolam,” ujar Tri, Senin (6/7/2026).

Kelompok pembudidaya Mino Jolontoro yang diikuti Tri saat ini mengelola sekitar 20 kolam. Setiap kolam berukuran 4 x 7,5 meter diisi sekitar 1.500 ekor ikan nila dan 200 ekor ikan bawal.

Meski begitu, Tri mengakui tantangan utama berasal dari kualitas air, terutama karena sumber air berasal dari sungai dan irigasi yang rentan tercemar limbah rumah tangga maupun usaha di sekitar.

“Sekarang banyak aktivitas seperti warung, laundry, hingga rumah tangga yang membuang limbah ke sungai. Itu yang paling berpengaruh ke kualitas air,” jelasnya.

Dalam menghadapi kondisi tersebut, para pembudidaya tidak menerapkan perlakuan khusus selama musim kemarau. Mereka tetap mengandalkan pola pemberian pakan rutin pada siang dan sore hari, menggunakan kombinasi pelet dan sisa makanan.

Namun, ada catatan penting yang harus diperhatikan. Jika aliran air kolam tidak lancar, pemberian pakan justru dihentikan sementara.

“Kalau air tidak mengalir, sebaiknya tidak diberi makan karena ikan bisa stres bahkan muntah,” tambahnya.

Sementara itu, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Bantul mengingatkan para pembudidaya untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi puncak kemarau. Perubahan suhu ekstrem antara siang dan malam hari dinilai berisiko memicu gangguan kesehatan ikan.

Petugas Kesehatan Ikan DKP Bantul, Tri Rahmayanti, menjelaskan fluktuasi suhu dapat menurunkan kualitas air, terutama kadar oksigen terlarut yang sangat dibutuhkan ikan.

“Kondisi ini bisa memicu stres pada ikan dan berpotensi menyebabkan kematian massal jika tidak diantisipasi,” ujarnya.

Karena itu, pembudidaya diimbau lebih memperhatikan sirkulasi air, kualitas lingkungan kolam, serta pola pemberian pakan agar tetap sesuai dengan kondisi air.

Dengan pengelolaan yang tepat, risiko kerugian akibat kematian ikan di musim kemarau diharapkan dapat ditekan, sekaligus menjaga produktivitas budidaya ikan air tawar di Bantul tetap stabil.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online