MBG Aktif Lagi, Harga Ayam di Gunungkidul Naik Rp5.000 per Kg

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 15 Juli 2026 14:07 WIB
MBG Aktif Lagi, Harga Ayam di Gunungkidul Naik Rp5.000 per Kg

Aktivitas jual beli di kawasan pasar Argosari di Kapanewon Wonosari, Rabu (15/7/2026)/ Harian Jogja-David Kurniawan

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Kembalinya pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bersamaan dengan dimulainya tahun ajaran baru 2026/2027 mulai memberikan dampak terhadap pergerakan harga sejumlah komoditas pangan di Gunungkidul.

Salah satu komoditas yang mengalami kenaikan adalah daging ayam ras. Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Perdagangan dan Tenaga Kerja (Disdagnaker) Gunungkidul, harga ayam potong kini berada di kisaran Rp35.000 per kilogram.

Kepala Bidang Perdagangan Disdagnaker Gunungkidul, Ris Heryani, mengatakan kenaikan harga mulai terlihat sejak program MBG kembali berjalan pada Senin (13/7/2026).

Menurut dia, harga ayam sebelumnya sempat turun hingga sekitar Rp30.000 per kilogram ketika program MBG dihentikan sementara selama masa libur sekolah.

Namun setelah aktivitas sekolah kembali normal dan program makan bergizi kembali berjalan, harga ayam kembali mengalami kenaikan.

“Mulai Senin terpantau menjadi Rp35.000 per kilogram,” kata Ris Heryani, Rabu (15/7/2026).

Ia mengungkapkan saat pelaksanaan MBG berlangsung sebelum masa liburan sekolah, harga ayam bahkan pernah mencapai Rp40.000 per kilogram.

Meski tidak secara langsung menyimpulkan bahwa kenaikan tersebut disebabkan oleh program MBG, Ris mengakui peningkatan permintaan di pasar menjadi faktor utama yang mendorong harga naik.

Menurutnya, kondisi tersebut sesuai dengan mekanisme pasar. Ketika kebutuhan meningkat sementara pasokan tidak bertambah signifikan, harga cenderung ikut terdorong naik.

“Mungkin naiknya harga ayam juga ada kaitannya dengan program MBG,” ujarnya.

Telur dan Cabai Ikut Merangkak Naik

Kenaikan harga tidak hanya terjadi pada komoditas daging ayam.

Disdagnaker Gunungkidul juga mencatat harga telur ayam ras mulai bergerak naik dari sebelumnya Rp23.500 menjadi Rp24.500 per kilogram.

Sementara itu, cabai rawit merah mengalami kenaikan dari Rp45.000 menjadi Rp50.000 per kilogram.

Di sisi lain, beberapa kebutuhan pokok lainnya masih relatif stabil.

Harga minyak goreng tercatat berada di kisaran Rp21.000 per kilogram, sedangkan beras dijual antara Rp13.200 hingga Rp14.900 per kilogram tergantung kualitas dan jenisnya.

“Kami juga mencatat minyak goreng dan beras masih relatif stabil,” kata Ris.

Bawang Merah dan Putih Justru Turun

Meski sejumlah komoditas mengalami kenaikan, terdapat pula bahan pangan yang menunjukkan tren penurunan harga.

Bawang putih yang sebelumnya dijual sekitar Rp40.000 per kilogram kini turun menjadi Rp38.000 per kilogram.

Penurunan serupa terjadi pada bawang merah yang turun dari Rp35.000 menjadi Rp32.000 per kilogram.

Kondisi ini menunjukkan pergerakan harga kebutuhan pokok di pasar masih cukup dinamis dan dipengaruhi berbagai faktor, baik dari sisi pasokan maupun permintaan.

Pemkab Gunungkidul Intensif Pantau Harga Pasar

Kepala Disdagnaker Gunungkidul, Kelik Yuniantoro, memastikan pemerintah daerah terus melakukan pemantauan harga kebutuhan pokok secara rutin di berbagai pasar tradisional.

Pemantauan tersebut dilakukan untuk mengetahui perkembangan harga sekaligus memastikan ketersediaan stok barang di lapangan.

Menurut Kelik, hasil pemantauan secara berkala juga dilaporkan kepada Kementerian Perdagangan melalui Pemerintah Daerah DIY sebagai bagian dari sistem pengendalian inflasi.

“Kami pastikan terus dilakukan pengawasan dan pemantauan. Adapun hasilnya rutin dilaporkan ke Kementerian Perdagangan melalui Pemerintah DIY,” katanya.

Selain pemantauan, pemerintah juga menjalankan sejumlah program stabilisasi harga untuk menjaga daya beli masyarakat.

Salah satunya melalui operasi pasar yang beberapa waktu lalu dilakukan dengan komoditas minyak goreng bersubsidi Minyakita.

Pemkab Gunungkidul juga menggandeng pedagang melalui program Toko Pengendali Inflasi yang bertujuan menjaga ketersediaan barang, keterjangkauan harga, dan stabilitas pasokan kebutuhan pokok di masyarakat.

“Kami memiliki kerja sama dengan pedagang melalui program toko pengendali inflasi sebagai upaya menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilitas harga di pasaran,” ujar Kelik.

Kenaikan harga ayam, telur, dan cabai setelah MBG kembali berjalan menjadi indikator meningkatnya kebutuhan pangan di masyarakat. Pemerintah daerah berharap pengawasan pasar dan program stabilisasi yang dijalankan dapat menjaga harga tetap terkendali sehingga tidak membebani konsumen maupun pelaku usaha.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online