Gapura Keistimewaan DIY Direncanakan Berdiri di Perbatasan Rongkop

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 22 Juli 2026 17:17 WIB
Gapura Keistimewaan DIY Direncanakan Berdiri di Perbatasan Rongkop

Gapura penanda dengan tema Cahaya Pradipta/Tangkapan layar

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Rencana pembangunan gapura penanda keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di wilayah perbatasan timur Gunungkidul mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Kehadiran bangunan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi penanda batas wilayah, tetapi juga memperkuat identitas daerah bagi masyarakat maupun pengguna jalan yang memasuki DIY dari arah Jawa Tengah.

Lokasi yang diproyeksikan untuk pembangunan berada di kawasan perbatasan Kapanewon Rongkop dengan Kecamatan Pracimantoro, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Meski demikian, pelaksanaan proyek masih berada pada tahap perencanaan dan menunggu koordinasi lanjutan antara pemerintah daerah dengan pihak terkait.

Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPUPRKP) Gunungkidul, Eli Martono, mengatakan pihaknya telah mengetahui rencana pembangunan tersebut. Bahkan, desain gapura yang menjadi pemenang sayembara telah beredar luas dan mendapat perhatian masyarakat melalui media sosial.

Menurut Eli, desain yang dipilih mengusung tema “Cahaya Pradipta”. Konsep tersebut terinspirasi dari semburat cahaya matahari yang menjadi salah satu karakter lanskap alam Gunungkidul.

“Sudah ada desain dari pemenang lomba. Kami sudah melihatnya lewat media sosial dengan tema Cahaya Pradipta yang terinspirasi dari semburat cahaya matahari di Gunungkidul,” kata Eli, Rabu (22/7/2026).

Meski konsep desain telah tersedia, Pemkab Gunungkidul mengakui masih diperlukan pembahasan lebih lanjut sebelum proyek dapat direalisasikan. Sejumlah aspek teknis, mulai dari lokasi pasti pembangunan hingga status lahan yang akan digunakan, masih harus dipastikan melalui koordinasi lintas instansi.

Eli menjelaskan pembangunan gapura tersebut direncanakan menggunakan Dana Keistimewaan DIY. Karena itu, tahapan pelaksanaannya akan mengikuti mekanisme dan perencanaan yang ditetapkan oleh Pemerintah DIY.

Menurutnya, keberadaan gapura di wilayah Rongkop berpotensi menjadi ikon baru bagi kawasan timur Gunungkidul. Selain berfungsi sebagai penanda batas wilayah administratif, bangunan itu juga dapat memperkuat citra daerah serta menjadi daya tarik visual bagi pengguna jalan yang melintas.

“Tentunya kami mendukung karena ini bisa menjadi ikon di sisi timur Gunungkidul. Tapi, untuk detail pelaksanaan pembangunan masih akan dikoordinasikan lebih lanjut,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Kepala Bidang Cipta Karya DPUPRKP Gunungkidul, Ashari Nurkalis. Ia menilai realisasi pembangunan masih membutuhkan kajian dan koordinasi lebih mendalam agar sesuai dengan kebutuhan serta karakter wilayah yang akan menjadi lokasi pembangunan.

Ashari mengungkapkan gagasan pembangunan gapura di kawasan perbatasan sebenarnya sudah pernah muncul sebelumnya. Salah satu tujuannya adalah menghadirkan identitas visual yang kuat di setiap akses masuk menuju Gunungkidul.

“Dulu saya pernah dengar bahwa Ibu Bupati menginginkan di perbatasan dibangun gapura sebagai penanda batas wilayah. Tapi sekarang memang belum bisa terealisasi semua,” katanya.

Saat ini, sejumlah gapura penanda wilayah telah berdiri di beberapa titik perbatasan Gunungkidul. Di bagian barat, gapura telah dibangun di kawasan Patuk yang berbatasan dengan Kabupaten Bantul.

Sementara itu, di wilayah utara, penanda batas telah hadir di Kapanewon Semin dan Kapanewon Ngawen. Masing-masing gapura dirancang dengan identitas yang berbeda sesuai karakteristik daerah setempat.

Gapura di Patuk mengusung identitas kawasan Geopark Gunungsewu yang telah dikenal luas sebagai warisan geologi dunia. Adapun gapura di Semin yang berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo menampilkan ikon “I Love Gunungkidul” sebagai simbol promosi daerah.

Sementara di Ngawen, desain gapura mengangkat ikon canting yang merepresentasikan Batik Tancep, salah satu produk budaya khas wilayah tersebut.

“Untuk Ngawen dengan ikon canting karena di sana terkenal dengan Batik Tancep,” kata Ashari.

Apabila pembangunan di Rongkop terealisasi, maka kawasan timur Gunungkidul akan memiliki penanda perbatasan yang melengkapi identitas wilayah di sisi barat dan utara. Kehadiran gapura bertema Cahaya Pradipta juga diharapkan menjadi simbol keistimewaan DIY sekaligus memperkuat karakter Gunungkidul sebagai daerah yang memiliki kekayaan budaya dan bentang alam khas.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online