14 Tahun UUK DIY, Malioboro Jadi Panggung Seni Memetri Jogja

Yosef Leon
Yosef Leon Minggu, 30 Agustus 2026 21:27 WIB
14 Tahun UUK DIY, Malioboro Jadi Panggung Seni Memetri Jogja

Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra bersama sejumlah tokoh saat menghadiri Memetri Jogja Merawat Nusantara peringatan 14 tahun UUK DIY, Minggu (30/8/2026). Dokumentasi Istimewa

Harianjogja.com, JOGJA— Kawasan Malioboro berubah menjadi ruang pertunjukan seni pada Minggu (30/8/2026) petang hingga malam. Tepat di depan Hamzah Batik Malioboro, berbagai kesenian ditampilkan dalam kegiatan Memetri Jogja Merawat Nusantara untuk memperingati 14 tahun disahkannya Undang-Undang Keistimewaan (UUK) DIY.

Kegiatan yang dimulai pukul 17.30 WIB tersebut tidak hanya menghadirkan pertunjukan seni. Momentum peringatan UUK DIY itu juga digunakan untuk mengingat kembali perjalanan sejarah Jogja sekaligus memperkuat jejaring masyarakat dalam merawat nilai-nilai keistimewaan.

Acara tersebut merupakan kolaborasi Sekber Keistimewaan DIY, Paguyuban Lurah dan Pamong DIY Nayantaka, Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa Daerah DIY, serta komunitas Malioboro.

Bukan Sekadar Pertunjukan Seni

Ketua Sekber Keistimewaan DIY, Widihasto Wasana Putra, mengatakan Memetri Jogja Merawat Nusantara dirancang bukan sekadar sebagai pertunjukan seni. Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk merawat ingatan kolektif mengenai sejarah Jogja yang menjadi salah satu fondasi status keistimewaan DIY.

“Status keistimewaan bukanlah hadiah, melainkan hasil sintesis panjang buah pergulatan sejarah, komitmen kebangsaan, serta pengakuan hukum atas tatanan Kasultanan yang mengakar jauh sebelum Republik Indonesia,” kata Widihasto, Minggu (30/8/2026).

Ia mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi ajang konsolidasi jejaring lintas komponen masyarakat. Konsolidasi itu dinilai penting untuk menjaga nilai dan spirit ke-Jogja-an serta memperkokoh keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Esensinya juga untuk memperkuat jejaring lintas komponen masyarakat sebagai modal utama menjaga, merawat, dan memelihara nilai serta spirit ke-Jogja-an untuk memperkokoh NKRI,” ujarnya.

Dari 50 Pemain Biola hingga Tari Tradisional

Rangkaian pertunjukan dibuka oleh Sanggar Biola Quinta. Sebanyak 50 pemain biola tampil membawakan sejumlah lagu nasional dan daerah.

Setelah itu, Agus Becak dan kawan-kawan menghadirkan fragmen drama Spiritual Art. Pertunjukan tersebut menggambarkan perjuangan dalam proses menuju pengesahan UUK DIY.

Panggung kemudian dilanjutkan dengan beragam kesenian dari berbagai daerah dan komunitas. Tari Pujiastuti ditampilkan Paguyuban Nayantaka, disusul Tari Angguk Nganglang dari Sanggar Lestari Budaya Imogiri Bantul.

Paduan Suara Mahasiswa Universitas Sanata Dharma kemudian turut mengisi panggung. Pertunjukan berlanjut dengan Tari Bawin dari Sanggar Hamaring Kalimantan Tengah.

Forum Pemuda Pemudi Dayak Kalimantan menampilkan Tari Tunggal, sedangkan Ikatan Keluarga Malaka NTT membawakan Tari Bidu Elele.

Rangkaian tersebut membuat peringatan 14 tahun UUK DIY di kawasan Malioboro tidak hanya menghadirkan kesenian dari Jogja, tetapi juga mempertemukan berbagai ekspresi budaya dari sejumlah daerah.

Ikrar Keistimewaan Dibacakan

Salah satu bagian penting dalam kegiatan tersebut adalah pembacaan Ikrar Keistimewaan. Ikrar itu memuat komitmen untuk menjunjung cita-cita adiluhung pendiri Jogja melalui falsafah Hamemayu Hayuning Bawana dan semangat Golong Gilig.

Ikrar tersebut juga menegaskan tekad untuk merawat jati diri masyarakat yang inklusif, nasionalis, dan berbudaya. Selain itu, terdapat komitmen untuk mengamalkan nilai kepemimpinan Tahta untuk Rakyat.

Komitmen tersebut kemudian diperluas melalui semangat kolaborasi untuk menjaga kelestarian Jogja dan keutuhan NKRI. Keistimewaan DIY juga ditegaskan untuk didedikasikan bagi kejayaan Nusantara.

Peringatan UUK DIY Sekaligus Galang Donasi

Selain memperingati pengesahan UUK DIY, Memetri Jogja Merawat Nusantara juga menjadi momentum solidaritas kemanusiaan.

Panitia menggalang donasi untuk membantu korban bencana alam di Nusa Tenggara Timur (NTT). Dengan demikian, kegiatan yang berlangsung di pusat kawasan Malioboro tersebut membawa pesan kebudayaan sekaligus kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak bencana.

Peringatan 14 tahun UUK DIY pun dikemas melalui perpaduan seni, refleksi sejarah, konsolidasi masyarakat, pembacaan ikrar, serta aksi solidaritas kemanusiaan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online