Dampak Bullying Bisa Terbawa, Sikomhati.di Diterapkan SMK di Tepus

Sunartono
Sunartono Jum'at, 04 September 2026 23:27 WIB
Dampak Bullying Bisa Terbawa, Sikomhati.di Diterapkan SMK di Tepus

Dampak bullying dapat terbawa hingga sekolah baru. SIKOMHATI.ID diterapkan di SMK YPKK Tepus untuk memperkuat empati dan komunikasi siswa. /Istimewa.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Dampak bullying tidak selalu terlihat setelah tindakan perundungan berhenti. Pengalaman tersebut bahkan dapat terbawa hingga lingkungan sekolah berikutnya dan memengaruhi rasa percaya diri, kenyamanan berinteraksi, hingga keberlanjutan pendidikan siswa.

Kondisi tersebut menjadi perhatian SMK YPKK Tepus, Gunungkidul, meski sekolah sejauh ini belum menemukan kasus bullying maupun cyberbullying yang terjadi di antara siswanya. Kepala SMK YPKK Tepus Gunungkidul, Sukiter, mengatakan pihak sekolah pernah mendampingi sejumlah siswa yang membawa pengalaman bullying dari sekolah sebelumnya.

"Tetapi kami pernah mendampingi sejumlah siswa yang membawa pengalaman bullying dari sekolah sebelumnya," katanya, Jumat (4/9/2026).

Dalam pendampingan tersebut, pihak sekolah mencari keberadaan siswa hingga ke rumah. Sekolah kemudian berkomunikasi dengan orang tua dan membujuk siswa agar kembali melanjutkan pendidikan.

Pendampingan juga diberikan kepada siswa yang merasa tidak nyaman bertemu dengan banyak orang setelah mengalami bullying. Agar tetap dapat mengikuti pembelajaran, sekolah melakukan sejumlah penyesuaian, termasuk pembelajaran privat dan kunjungan guru ke rumah ketika siswa tidak dapat datang ke sekolah.

Dampak Bullying Bisa Memengaruhi Pendidikan

Pengalaman yang dialami siswa tersebut menunjukkan bahwa dampak bullying tidak selalu berhenti ketika tindakan perundungan berakhir. Pengalaman dari lingkungan sebelumnya dapat memengaruhi cara siswa memandang dirinya sendiri, berinteraksi dengan orang lain, serta menjalani proses pendidikan.

Karena itu, sekolah tidak hanya memiliki peran ketika persoalan bullying muncul. Lingkungan pendidikan juga perlu menjadi ruang yang membuat siswa merasa aman untuk kembali belajar, membangun relasi, dan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Penguatan kemampuan tersebut menjadi bagian dari implementasi SIKOMHATI.ID di SMK YPKK Tepus. Program ini merupakan prototipe berbasis digital yang dikembangkan oleh Profesor Puji Lestari, Dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta sekaligus penggagas Teori Komunikasi Hati.

Pendekatan Komunikasi Hati mengajak siswa memahami bahwa komunikasi bukan hanya mengenai bagaimana seseorang menyampaikan pesan. Siswa juga diajak memahami pentingnya mengelola pikiran dan perasaan serta mempertimbangkan dampak komunikasi terhadap orang lain.

"Mari ubah “sampah hati” menjadi energi yang memberi semangat kepada diri untuk lebih berprestasi, kata Prof. Puji saat menjelaskan teori yang ia temukan di depan siswa kelas X dan XII peserta simulasi. Rumus Teori Komunikasi hati : Olah pikir + olah Rasa+Empati = Kedamaian Hati," ujarnya.

Siswa Diajak Mengenali Bentuk Komunikasi

Implementasi SIKOMHATI.ID di SMK YPKK Tepus merupakan bagian dari hasil kolaborasi penelitian antara UPN Veteran Yogyakarta, Balai Tekkomdik DIY, dan SMK YPKK Tepus.

Kegiatan berlangsung secara interaktif melalui penyampaian materi dan sesi berbagi bersama siswa. Peserta mendapatkan kesempatan untuk bertanya sekaligus menyampaikan pandangan mengenai pertemanan, bullying, serta cara berkomunikasi dengan orang lain.

"Siswa diajak memahami bahwa persoalan dalam komunikasi sehari-hari tidak selalu muncul dalam bentuk tindakan yang besar atau terlihat secara langsung. Ejekan, candaan yang berlebihan, pemberian nama panggilan yang tidak menyenangkan, hingga komentar mengenai kondisi fisik maupun latar belakang keluarga dapat menjadi pengalaman yang memengaruhi perasaan seseorang," ujarnya.

Materi tersebut kemudian dikaitkan dengan pengalaman yang dekat dengan kehidupan siswa. Dengan demikian, pembahasan mengenai komunikasi tidak hanya ditempatkan sebagai teori, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memahami hubungan sehari-hari.

Mahasiswa Kenali Konsep Olah Pikir dan Empati

Sementara itu, Mahya, siswi kelas 10 SMK YPKK Tepus, menilai materi yang diberikan mudah dipahami. Ia terutama menyoroti pembahasan mengenai olah pikir, olah rasa, empati, dan kedamaian hati.

Menurut Mahya, sejumlah nilai tersebut sebenarnya sudah dekat dengan kehidupan sehari-hari. Namun, sebelumnya ia belum mengetahui bahwa sikap tersebut merupakan bagian dari konsep Komunikasi Hati.

“Kadang kita sudah berpikir tentang bagaimana seharusnya bersikap kepada orang lain atau mencoba memahami perasaan orang lain, tetapi kita tidak tahu bahwa itu termasuk olah rasa atau empati,” ujar Mahya.

Setelah memperoleh materi, Mahya merasa lebih mudah memahami sekaligus menyadari bahwa nilai-nilai tersebut sebenarnya telah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan simulasi penggunaan sistem. Bersama tim peneliti dan pendamping dari Balai Tekkomdik DIY, siswa mencoba sistem yang telah disiapkan untuk mendukung proses literasi.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online