MBG Prasmanan di DIY Belum Diperluas, BGN Evaluasi Hasil Uji Coba
BGN DIY mengevaluasi uji coba MBG prasmanan di Sentolo dan Turi. Perluasan layanan masih menunggu kesiapan teknis dan arahan pusat.
Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla ditemui di Kompleks Kepatihan setelah melantik Dewan Kehormatan dan Pengurus PMI DIY Masa Bakti 2026-2031, Minggu (13/9/2026)./Harian Jogja-Anisatul Umah
Harianjogja.com, JOGJA—Mantan Wakil Presiden Muhammad Jusuf Kalla menyoroti banyaknya sarjana yang masih menganggur di Indonesia. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan jumlah lulusan perguruan tinggi lebih besar dibandingkan dengan kebutuhan tenaga kerja yang tersedia.
Jusuf Kalla atau yang akrab disapa JK mengatakan persoalan tersebut tidak hanya berkaitan dengan terbatasnya lapangan kerja. Perguruan tinggi juga dinilai perlu memperbaiki kualitas pendidikan agar lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
"Tidak asal selesai bagi sarjana, tapi pada perguruan tinggi untuk meningkatkan kualitas. Sehingga tidak asal produksi sarjana begitu saja," ujarnya ditemui di Kompleks Kepatihan setelah melantik Dewan Kehormatan dan Pengurus PMI DIY Masa Bakti 2026-2031, Minggu (13/9/2026).
Menurut JK, pemerintah juga perlu memperbaiki pengelolaan ekonomi untuk memperluas lapangan kerja. Pasalnya, masih banyak sarjana yang bekerja di bidang yang tidak sesuai dengan potensi maupun latar belakang pendidikannya.
Dia mencontohkan sejumlah lulusan perguruan tinggi yang justru bekerja sebagai petugas keamanan atau pekerja kebersihan. Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya persoalan antara jumlah lulusan dan kemampuan pasar kerja dalam menyerap tenaga berpendidikan tinggi.
"Setiap tahun ada 1 juta sarjana keluar, lapangan kerjanya terbatas," ujar JK sapaan akrabnya.
Kualitas Pendidikan Perguruan Tinggi Perlu Diperkuat
Lebih lanjut, Jusuf Kalla mengatakan peningkatan kualitas pendidikan perlu dilakukan di berbagai bidang, termasuk teknik, kedokteran, dan ilmu lainnya. Menurut dia, proses pendidikan hingga ujian perlu diperketat agar lulusan perguruan tinggi memiliki kompetensi yang baik.
JK menilai kualitas lulusan menjadi salah satu faktor penting agar pendidikan tinggi dapat menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan lapangan. Karena itu, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengejar jumlah lulusan setiap tahun.
"Sehingga kalau diperbaiki tingkat kualitasnya maka alumni akan berkurang karena kualitas yang baik. Ketat ujiannya. Supaya lapangan kerja cocok, gitu," lanjutnya.
Persoalan kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan dunia kerja juga disoroti pengamat pendidikan dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Tadjuddin Noer Effendi. Melansir dari JIBI/Bisnis.com, dia menilai ketidaksesuaian atau mismatch antara pendidikan yang ditempuh lulusan perguruan tinggi dan kebutuhan dunia kerja menjadi salah satu faktor utama tingginya pengangguran sarjana di Indonesia.
Menurut Tadjuddin, persoalan tersebut terjadi karena perguruan tinggi masih banyak memberikan pembelajaran berbasis teori. Sementara itu, dunia usaha membutuhkan lulusan yang memiliki keterampilan praktis dan mampu langsung menjalankan pekerjaan.
"Dunia pendidikan dengan dunia kerja itu enggak match. Dunia pendidikan terlalu banyak memberi teori," kata Tadjuddin kepada Bisnis, Kamis (20/8/2026).
Ijazah Saja Dinilai Tak Cukup
Tadjuddin mengatakan kondisi tersebut membuat ijazah perguruan tinggi tidak lagi cukup menjadi modal bagi lulusan untuk memasuki pasar kerja. Perusahaan kini cenderung mencari tenaga kerja yang telah memiliki keterampilan dan pengalaman sehingga dapat langsung bekerja tanpa membutuhkan pelatihan dalam waktu panjang.
Menurutnya, perusahaan semakin selektif karena proses pelatihan bagi pekerja baru membutuhkan biaya. Akibatnya, lulusan baru yang belum memiliki pengalaman kerja menghadapi tantangan lebih besar untuk mendapatkan pekerjaan pertama.
"Kalau cuman bermodalkan ijazah, itu enggak laku sekarang. Yang ditanya sama perusahaan itu, kamu bisa kerja apa? Keterampilanmu apa? Sudah punya pengalaman kerja belum?." katanya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan pengangguran sarjana tidak hanya berkaitan dengan jumlah lapangan kerja. Kualitas pendidikan, keterampilan praktis, pengalaman kerja, serta kesesuaian kompetensi lulusan dengan kebutuhan perusahaan juga menjadi bagian dari persoalan yang perlu diperhatikan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BGN DIY mengevaluasi uji coba MBG prasmanan di Sentolo dan Turi. Perluasan layanan masih menunggu kesiapan teknis dan arahan pusat.
NIK tidak bisa langsung digunakan untuk mengecek riwayat judi online melalui SLIK OJK. Simak perbedaan catatan kredit dan penelusuran transaksi.
Xiaomi meluncurkan Redmi Book 2027 di China dalam ukuran 14 dan 16 inci. Laptop ini membawa prosesor Intel Wildcat Lake, layar 120 Hz, dan baterai 72 Wh.
Pedro Acosta akan bergabung dengan Ducati pada MotoGP 2027 dan 2028. Ia ingin belajar dari Marc Marquez sembari beradaptasi dengan tim barunya.
Timnas Indonesia U-15 menyingkirkan Moldova lewat adu penalti 9-8 setelah bermain imbang 3-3 dan melaju ke 16 besar Tier C.
Toprak Razgatlioglu menjalani operasi bahu setelah kecelakaan di Mandalika. Pebalap Yamaha itu harus mengakhiri musim debut MotoGP 2026 lebih cepat.