Tujuh Kambing Mati Mendadak, 5 Warga Semanu Suspek Antraks

David Kurniawan
David Kurniawan Selasa, 29 September 2026 15:57 WIB
Tujuh Kambing Mati Mendadak, 5 Warga Semanu Suspek Antraks

Ilustrasi kambing ternak/Freepik

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Dugaan penyebaran antraks kembali ditemukan di Gunungkidul. Kali ini, dugaan kasus berada di Padukuhan Pelem, Kalurahan Dadapayu, Semanu, setelah tujuh ekor kambing milik lima warga mati mendadak.

Lurah Dadapayu, Nanang Arijana mengatakan kejadian tersebut ditemukan pada awal September 2026. Dari tujuh kambing yang mati, tiga ekor di antaranya sempat disembelih untuk kemudian dibagikan dan dikonsumsi warga.

“Kambing yang mati ada yang dikubur. Tapi, ada juga yang dibrandu dua atau tiga ekor untuk dibagi-bagikan ke warga,” kata Nanang saat dihubungi Selasa (29/9/2026).

Setelah daging kambing dibagikan, terdapat warga yang mengalami luka yang mirip dengan gejala penyakit antraks. Pemerintah kabupaten kemudian menindaklanjuti temuan tersebut dengan penyelidikan epidemiologis.

Berawal dari Kambing Mati Mendadak

Nanang menjelaskan warga sempat mengira kambing yang mati mendadak mengalami keracunan. Karena itu, ketika masih hidup, beberapa kambing langsung dipotong untuk kemudian dibagikan kepada warga.

“Kambing disembelih karena warga mengira hanya keracunan sehingga saat masih hidup langsung dipotong untuk kemudian dibagi-bagikan. Ternyata, setelah itu ada dua warga yang mengalami sakit karena luka dibagian jari,” ungkap Nanang.

Menurut dia, warga sebelumnya tidak menduga adanya penyakit antraks di wilayah tersebut. Apalagi, kambing yang mati mendadak itu telah lama dipelihara oleh masing-masing pemilik.

“Dugaannya berasal dari pakan karena ada yang membeli. Di sisi lain, lokasinya juga tidak jauh dari Kalurahan Gombang yang beberapa tahun lalu juga terjadi kasus antraks,” katanya.

Nanang memastikan dua warga yang menjadi suspek antraks telah mendapatkan penanganan. Kondisi luka yang dialami keduanya juga disebut sudah mengering.

Untuk memastikan dugaan kasus tersebut, pengambilan sampel telah dilakukan untuk kemudian diuji di laboratorium. Hasil pemeriksaan masih ditunggu.

“Uji lab sudah dilakukan dan sekarang tinggal menunggu hasilnya,” imbuh Lurah Dadapayu.

54 Warga Konsumsi Daging Kambing

Terpisah, Programmer Penyakit Menular Zoonosis Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan Gunungkidul, Eko Mujiarto mengatakan suspek antraks di Kalurahan Dadapayu berada di Padukuhan Pelem dan Kerdon.

Dugaan kasus bermula ketika seorang warga memeriksakan luka di bagian tangan ke puskesmas. Setelah temuan tersebut diketahui, dilakukan pemeriksaan dan penelusuran lebih lanjut.

Hasil penelusuran menunjukkan pada 29 Agustus 2026 terdapat kambing yang mati, kemudian diolah dan dikonsumsi oleh 54 orang di kedua padukuhan tersebut.

“Ada lima warga yang mengalami luka kulit. Empat lukanya masih basah dan satu mulai mengering. Selain itu, juga ada dua warga yang mengalami diare,” katanya.

Menurut Eko, sejak 29 Agustus hingga 10 September 2026 tercatat total tujuh ekor kambing mati. Upaya penanggulangan telah dilakukan, termasuk pengambilan sampel untuk memastikan kasus yang terjadi.

“Warga yang bergejala juga terus dipantau kesehatannya,” katanya.

Warga Diminta Tak Brandu Ternak Mati

Pemkab bersama pihak terkait juga melakukan langkah pencegahan agar dugaan penyebaran antraks tidak meluas. Salah satunya melalui sosialisasi mengenai larangan melakukan brandu terhadap ternak yang mati mendadak.

Warga juga diberikan edukasi agar ternak yang mati segera dikubur. Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengurangi risiko penyebaran penyakit hewan menular.

Nanang mengatakan warga juga mendapat sosialisasi bahwa ternak yang mati mendadak dapat memperoleh kompensasi dari pemerintah kabupaten. Kebijakan tersebut diharapkan mendorong warga tidak menyembelih maupun membagikan ternak yang mati secara mendadak.

“Untuk menanggulangi antraks, juga disosialisasikan bahwa ternak warga yang mati secara mendadak bisa mendapatkan kompensasi dari pemkab,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online