Jelang Pilur Bantul, Warga Diingatkan Tak Mudah Percaya Hoaks di Media Sosial

Yosef Leon
Yosef Leon Jum'at, 02 Oktober 2026 14:07 WIB
Jelang Pilur Bantul, Warga Diingatkan Tak Mudah Percaya Hoaks di Media Sosial

Gedung DPRD Bantul./JIBI

Harianjogja.com, BANTUL— Masyarakat Kabupaten Bantul diingatkan untuk lebih cermat menyaring informasi yang beredar di media sosial menjelang Pemilihan Lurah (Pilur) serentak 2026. Warga diminta tidak langsung mempercayai maupun menyebarkan informasi yang berkaitan dengan calon lurah sebelum memastikan kebenarannya.

Imbauan tersebut disampaikan saat tahapan Pilur Bantul memasuki masa tenang pada 1–3 Oktober 2026. Pemungutan suara di 30 kalurahan dijadwalkan berlangsung pada Minggu (4/10/2026), dengan 87 calon lurah yang telah ditetapkan.

Anggota Komisi A DPRD Bantul, Muhammad Dhavid, mengatakan masa tenang seharusnya digunakan untuk menjaga suasana Pilur tetap aman dan kondusif, bukan menjadi ruang untuk kembali melakukan kampanye.

“Harapan kami minggu tenang itu digunakan sebaik-baiknya. Bukan untuk kampanye, tetapi bagaimana mengajak masyarakat untuk sama-sama menjaga keamanan, tenteram dan terkendali,” kata Dhavid, Jumat (2/10/2026).

Hoaks hingga Video Terpotong Beredar

Dhavid mencontohkan sejumlah informasi yang sempat beredar di media sosial selama tahapan Pilur. Salah satunya dialami Dukuh Krapyak Wetan, Danang Kurniawan, yang disebut menjadi sasaran informasi palsu terkait larangan UMKM berjualan dan larangan beribadah di Lapangan Segaran.

Informasi tersebut disebut berdampak hingga Danang mengajukan pengunduran diri dari jabatannya.

Kasus lain muncul di Kalurahan Baturetno, Kapanewon Banguntapan. Sebuah potongan video yang tidak menampilkan rekaman secara utuh beredar di media sosial dan disertai narasi mengenai dugaan pembacokan terhadap seorang ibu oleh simpatisan salah satu calon lurah.

Dhavid mengatakan dirinya mengetahui informasi tersebut dari media sosial. Setelah ditelusuri, kejadian sebenarnya berkaitan dengan kecelakaan lalu lintas yang kemudian memicu keributan.

Benda yang disebut sebagai senjata tajam dalam narasi yang beredar, menurut Dhavid, ternyata merupakan tangkai rem yang patah.

“Seperti yang di Baturetno kemarin. Itu kan hanya potongan rekaman CCTV, sekilas memang terlihat seperti sajam karena buram dan masyarakat pasti mengira narasi yang dibuat benar. Padahal kenyataannya tidak begitu. Makanya cerdas bersosial media,” ujarnya.

Pilur Diminta Jadi Adu Gagasan

Dhavid mengingatkan agar perbedaan pilihan dalam Pilur tidak berkembang menjadi konflik di tengah masyarakat. Menurutnya, Pilur memiliki karakter berbeda dengan pemilihan legislatif karena cakupan wilayahnya lebih kecil dan para pendukung calon umumnya masih memiliki hubungan sosial yang dekat.

Bahkan, kata dia, para pendukung calon lurah bisa saja masih bertetangga atau memiliki hubungan keluarga.

“Himbauan kami ya mari kita sama-sama menjaga kondusivitas. Jadikan hajatan Pilur ini pertarungan gagasan, ide dan program untuk menarik simpati masyarakat. Jangan saling adu kampanye hitam dan hoaks,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa dalam sebuah pemilihan akan ada pihak yang memperoleh suara lebih banyak dan ada yang tidak terpilih. Karena itu, calon maupun pendukung diharapkan dapat menerima hasil pemungutan suara.

“Dalam pertandingan mesti ada yang kalah ada yang menang, yang penting yang menang jangan jumawa, yang kalah bisa legowo, itu aja,” ungkapnya.

Dhavid meminta masyarakat tidak berhenti pada melihat judul, potongan video, atau narasi yang menyertai unggahan media sosial. Informasi yang berkaitan dengan Pilur, terutama yang berpotensi memicu konflik, perlu diperiksa kembali sebelum dipercaya atau disebarluaskan.

Pemerintah Kabupaten Bantul sebelumnya juga telah meminta jajaran kapanewon dan kalurahan merespons informasi maupun laporan masyarakat dengan cepat. Pemkab juga memetakan sejumlah potensi kerawanan Pilur, termasuk pada masa tenang dan hari pemungutan suara.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Jumali
Jumali Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online