Lumbung Mataraman Ubah Lahan Terbatas Jadi Sumber Pangan

Anisatul Umah
Anisatul Umah Minggu, 04 Oktober 2026 17:57 WIB
Lumbung Mataraman Ubah Lahan Terbatas Jadi Sumber Pangan

Lurah Bendung, Didik Rubiyanto saat menunjukan pemeliharaan tanaman bawang merah di Lumbung Mataraman Bendung, Semin, Sabtu (29/8/2026)/ Harian Jogja-David Kurniawan.

Harianjogja.com, JOGJA— Keterbatasan lahan menjadi salah satu tantangan pertanian, tetapi kondisi itu tidak menghentikan pengembangan pangan berbasis masyarakat. Melalui Lumbung Mataraman, pekarangan rumah, lahan kelompok tani, hingga tanah yang belum tergarap didorong menjadi ruang produktif sesuai potensi masing-masing wilayah.

Gerakan tersebut ditampilkan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY melalui Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman 2026 di Jogja Agro Park (JAP) Nanggulan, Kulonprogo, 2-3 Oktober 2026. Kegiatan itu mengusung tema 'Tuwuh Ngrembaka, Ngembangno Lumbung Mataraman – Modernitas dalam Kearifan Lokal'.

Sebanyak 10 kalurahan yang memiliki Lumbung Mataraman dan 15 Kelompok Wanita Tani (KWT) ambil bagian dalam kegiatan tersebut. Total terdapat 25 stan yang menampilkan berbagai inovasi pertanian berbasis potensi lokal.

Kepala DPKP DIY Aris Eko Nugroho mengatakan Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman bukan hanya menjadi ruang pameran. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah bagi kelompok untuk bertukar pengetahuan dan pengalaman dalam mengembangkan pertanian sesuai potensi wilayah masing-masing.

Lahan Terbatas Diolah dengan Beragam Model

Menurut Aris, Lumbung Mataraman pada dasarnya mengembangkan konsep nandur opo sing dipangan, dipangan opo sing ditandur. Namun, penerapannya berkembang mengikuti kreativitas masyarakat.

"Ada yang menggabungkan dengan peternakan, perikanan maupun tanaman. Potensi lahan yang ada dikembangkan melalui inovasi dan pemilihan komoditas sesuai kebutuhan serta minat masyarakat," ujarnya dalam keterangan resminya, Sabtu (3/10/2026).

Optimalisasi tidak hanya dilakukan pada lahan yang sudah produktif. Tanah Kasultanan dan Tanah Kadipaten maupun lahan milik masyarakat yang masih belum tergarap juga menjadi bagian dari pengembangan tersebut.

Aris menjelaskan konsep yang diterapkan berupa integrated farming. Model ini tidak hanya menyasar generasi muda, tetapi juga merangkul keluarga miskin agar terlibat aktif dalam meningkatkan taraf ekonomi dan ketersediaan pangan mereka.

Pengembangan komoditas terutama diarahkan pada sektor hortikultura. Jenisnya meliputi sayuran, buah-buahan, tanaman obat keluarga (TOGA), tanaman hias, serta komoditas lain yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah.

Sudah Mencakup 23 Kalurahan

Hingga saat ini, pengembangan Lumbung Mataraman berbasis kalurahan telah mencakup 23 kalurahan di DIY. Sementara kelompok berbasis gabungan kelompok tani (Gapoktan) mencapai hampir 300 kelompok.

Bagi DPKP DIY, Gebyar Inovasi Lumbung Mataraman diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan pameran. Agenda tersebut diharapkan berlanjut setiap tahun sebagai ruang apresiasi sekaligus pembelajaran bagi masyarakat.

"Gebyar Inovasi diharapkan terus menjadi agenda tahunan sekaligus ruang apresiasi dan pembelajaran bagi masyarakat. Berbagai inovasi yang ditampilkan dapat menjadi referensi bagi kelompok maupun wilayah lain untuk mengembangkan model pertanian sesuai potensi setempat," jelasnya.

Ketahanan Pangan Dimulai dari Lingkungan Terdekat

Staf Ahli Gubernur DIY Bidang Ekonomi dan Pembangunan Noviar Rahmad mengatakan ketahanan pangan dapat dibangun dari ruang terdekat masyarakat. Pekarangan rumah dan lahan kelompok tani dinilai dapat berperan dalam memperkuat ketahanan pangan apabila dikelola berdasarkan karakteristik dan keunggulan wilayah.

Ia menyampaikan tidak semua tempat harus menanam komoditas yang sama dan tidak semua kelompok harus menerapkan pola yang seragam.

"Justru kekuatan Lumbung Mataraman terletak pada kemampuannya membaca potensi lokal, kemudian mengembangkannya menjadi sumber pangan dan kesejahteraan," ujarnya membacakan sambutan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Menurutnya, demonstration plot (demplot) dapat digunakan sebagai ruang belajar bersama bagi petani dan penyuluh. Teknologi pertanian modern juga dapat dipadukan dengan kearifan lokal untuk menguji pola budidaya, pengelolaan air, pemupukan, serta integrasi pertanian yang mencakup tanaman, ternak, dan perikanan.

"Lumbung Mataraman harus menjadi gerakan yang hidup—hidup di pekarangan keluarga, di kelompok tani, dan dalam pengetahuan masyarakat bahwa tanah yang dikelola dengan ketekunan serta kebersamaan akan selalu memberi kehidupan," lanjutnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online