Jaga Irigasi Pertanian, 120 Tenaga OP DIY Masih Honorer
Sekitar 120 tenaga OP jaringan irigasi DIY masih berstatus honorer. Mereka didorong menjadi PPPK, setidaknya melalui skema paruh waktu
Ilustrasi belanja online-Magnific
Harianjogja.com, BANTUL—Tekanan ekonomi membuat sejumlah pekerja di Bantul mengubah cara mengatur keuangan rumah tangga. Mulai dari memangkas belanja bulanan, memilih barang berpromo, beralih ke bahan bakar yang lebih murah, hingga mencari pekerjaan tambahan dilakukan agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Perubahan pola pengeluaran tersebut dirasakan Doni Ramadan, seorang pekerja yang berdomisili di Bantul. Ia mengaku telah memperketat anggaran belanja selama sekitar enam bulan terakhir, terutama untuk kebutuhan sehari-hari seperti sabun, kopi, dan bahan pokok.
“Iya sejak 6 bulan terkahir ini, saya menekan uang belanja bulanan. Seperti sabun, kopi, dan bahan pokok lainnya,” kata Doni, Kamis (8/10).
Doni mengatakan pertimbangan saat membeli kebutuhan rumah tangga kini tidak lagi sama seperti sebelumnya. Jika dahulu kualitas produk menjadi perhatian utama, sekarang harga dan ketersediaan promo lebih menentukan pilihannya.
“Sebelum ini, saya liat kualitas tapi sekarang yang ada promo pasti saya beli untuk sabun kopi dan lain-lain,” ujarnya.
Beralih ke BBM dan Rokok yang Lebih Murah
Penghematan tidak hanya dilakukan saat berbelanja kebutuhan rumah tangga. Doni juga mengubah pilihan bahan bakar minyak (BBM) untuk mengurangi pengeluaran.
Ia yang sebelumnya menggunakan Pertamax kini beralih ke Pertalite. Doni bahkan memilih mengantre di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) karena menilai pembelian BBM secara eceran lebih mahal.
“Selain itu, untuk bbm dulu saya beli pertamax. Sekarang belinya pertalite dan ikut antre di pom karena kalau beli eceran lebih mahal,” katanya.
Penyesuaian pengeluaran juga menyentuh kebutuhan rokok. Doni kini memilih produk dengan harga lebih rendah dibandingkan yang biasa dibelinya.
“Rokok juga dari harga 27rb sekarang yang 16rb lebih terjangkau. Akhir-akhir ini ekonominya emang kacau,” ucapnya.
Pengalaman Doni memperlihatkan bagaimana penyesuaian anggaran dilakukan pada berbagai pos pengeluaran. Barang kebutuhan harian, bahan bakar, hingga rokok menjadi bagian dari pengeluaran yang kini dipertimbangkan berdasarkan keterjangkauan harga.
Pilih Efisiensi dan Mencari Penghasilan Tambahan
Penyesuaian serupa juga dilakukan Rosita, pekerja yang berdomisili di Bantul. Namun, ia memilih cara berbeda dalam menghadapi tekanan pengeluaran.
Rosita mengaku tidak menurunkan kualitas barang yang dibelinya. Ia lebih mengutamakan efisiensi dalam menggunakan uang sekaligus berusaha meningkatkan penghasilan agar kebutuhan sehari-hari tetap tercukupi.
“Untuk downgrade barang gak ada sih mas. tapi sekarang lebih ke efisiensi sama memilih kerja lebih keras lagi buat mencukupi kebutuhan,” kata Rosita.
Salah satu pos pengeluaran yang disiasatinya adalah pembelian pakaian. Rosita mengatakan dirinya sebelumnya cukup sering membeli baju, tetapi kini lebih banyak mencari produk pre-loved atau pakaian bekas yang masih bisa digunakan.
Selain memilih barang bekas, ia juga menunggu kesempatan untuk mendapatkan harga yang lebih terjangkau melalui promo.
“Berhubung saya cewek, dan sering beli baju. Sekarang saya lebih nyari barang-barang pre-loved atau bekas, kalau nggak ya cari promo,” ujarnya.
Kebiasaan bersosialisasi turut mengalami penyesuaian. Rosita mengurangi anggaran untuk ngopi dan nongkrong agar pengeluaran tersebut dapat ditekan dan uang yang tersedia bisa digunakan untuk kebutuhan lain.
Upaya menambah pemasukan juga dilakukan dengan mencari pekerjaan lepas atau freelance. Menurut Rosita, langkah tersebut menjadi salah satu cara untuk membantu memenuhi kebutuhan di tengah kondisi ekonomi yang dirasakannya.
“Sama untuk jatah ngopi dan nongkrong saya kurangi. Selain itu saya juga cari-cari kerja freelance untuk mencukupi kebutuhan,” katanya.
Kisah Doni dan Rosita menunjukkan dua cara pekerja di Bantul menyesuaikan diri dengan tekanan pengeluaran. Doni mengubah pilihan produk ke barang yang lebih murah, sedangkan Rosita mengutamakan efisiensi, mencari barang pre-loved, mengurangi anggaran nongkrong, dan berusaha memperoleh penghasilan tambahan.
Keduanya melakukan penyesuaian dalam keseharian agar kebutuhan tetap terpenuhi, meski melalui strategi yang berbeda.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Sekitar 120 tenaga OP jaringan irigasi DIY masih berstatus honorer. Mereka didorong menjadi PPPK, setidaknya melalui skema paruh waktu
Hermanto Tanoko mengakuisisi Taman Dayu melalui Tancorp dan Tanrise Property. Simak kisah istri ditegur satpam hingga strategi bisnisnya.
Korupsi motor listrik BGN merugikan negara Rp863,85 miliar. Kejagung menyerahkan lima tersangka dan barang bukti kepada JPU.
BPJPH memastikan wajib halal berlaku 18 Oktober 2026 dan menyiapkan aturan khusus bagi UMK serta produk impor.
Tekanan ekonomi membuat pekerja di Bantul memangkas belanja, berburu promo, memilih barang pre-loved, dan mencari pekerjaan tambahan.
Redaksi kembali menghadirkan rangkuman Top Ten News Harianjogja.com edisi Sabtu (10/10/2026) yang merangkum isu paling hangat dan strategis