Sekretaris PDIP DIY Yan Kurnia Ajak Anak Muda Gotong Royong Atasi Sampah

Media Digital
Media Digital Kamis, 29 Oktober 2026 07:27 WIB
Sekretaris PDIP DIY Yan Kurnia Ajak Anak Muda Gotong Royong Atasi Sampah

Yan Kurnia Kustanto mengajak anak muda mengatasi persoalan sampah di DIY melalui gotong royong dan menyiapkan empat teba modern di Depok. /Istimewa.

Harianjogja.com, SLEMAN—Sekretaris DPD PDI Perjuangan DIY, Yan Kurnia Kustanto, mengajak generasi muda terlibat aktif dalam penanganan sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Momentum Hari Sumpah Pemuda ke-98 dinilai menjadi kesempatan untuk mengubah semangat persatuan menjadi gerakan nyata merawat lingkungan.

Yan yang juga anggota DPRD DIY itu menilai persoalan sampah perlu diselesaikan melalui keterlibatan masyarakat, terutama anak muda. Menurut dia, kesadaran mengelola sampah dari sumbernya merupakan langkah sederhana yang dapat dikerjakan bersama di tengah kondisi persampahan DIY yang kian serius.

“Jumlah beban sampah dari Sleman, Kota, dan Bantul per hari sudah mencapai kisaran 900 ton lebih. Kapasitas TPA sudah tidak memadai. Makna persatuan itu harus mewujud menjadi kegotongroyongan menyelesaikan persoalan sampah,” ungkap Yan dikutip Kamis (29/10/2026).

Ia menegaskan peringatan Hari Sumpah Pemuda tidak cukup berhenti pada pengulangan ikrar persatuan atau kegiatan seremonial. Semangat tersebut, menurut dia, perlu diwujudkan melalui aksi bersama untuk menyelesaikan persoalan lingkungan.

Sebagai langkah konkret, Yan tengah menyiapkan empat teba modern mandiri di Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Fasilitas tersebut akan dibangun di wilayah Caturtunggal dan Condongcatur sebagai proyek percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat.

Proyek tersebut juga dirancang membuka ruang partisipasi bagi komunitas pemuda. Yan berharap anak muda tidak hanya terlibat dalam pembangunan fasilitas, tetapi juga ikut menggerakkan kebiasaan pengelolaan sampah di lingkungan masing-masing.

“Ini pilot project yang akan memberi ruang partisipasi kepada kaum muda. Saya menjalankan instruksi Ibu Megawati merawat pertiwi,” ujarnya.

Menurut Yan, keberadaan teba modern dapat menjadi sarana belajar bersama lintas generasi. Anak muda diharapkan berperan dalam mengajak warga memilah sampah, mengorganisasi kerja bakti, memberikan edukasi kepada masyarakat, serta menjaga konsistensi kebiasaan tersebut.

Namun, ia menilai keberhasilan pengelolaan teba tidak cukup bergantung pada ketersediaan fasilitas. Pengelolaan yang tepat, pembagian tanggung jawab, dan konsistensi penggunaan juga diperlukan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Gotong Royong Harus Berjalan Bersama Peran Pemerintah

Yan menekankan gerakan masyarakat tidak boleh menggeser tanggung jawab pemerintah dalam menangani persoalan sampah. Edukasi, penyediaan sarana, dan sistem pengangkutan tetap perlu berjalan beriringan dengan partisipasi warga.

“Gotong royong warga tidak boleh menjadi pengganti kewajiban pemerintah. Edukasi, sarana, dan sistem pengangkutan tetap harus berjalan bersama gerakan masyarakat,” tegasnya.

Ia juga mengajak generasi muda memaknai Sumpah Pemuda melalui kepedulian terhadap lingkungan. Menurut dia, penanganan sampah perlu dimulai dari sumbernya agar jumlah sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir dapat dikurangi.

“Semangat pemuda baru bermakna kalau kepedulian menjadi kebiasaan, lalu tumbuh menjadi gerakan,” pungkasnya.

Selain persoalan sampah, ajakan Yan tersebut juga dikaitkan dengan pentingnya menjaga lingkungan di tengah kondisi darurat kebakaran hutan yang melanda sejumlah daerah di Indonesia. Ia berharap semangat gotong royong dapat menjadi bagian dari upaya merawat lingkungan secara berkelanjutan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online