DPRD Gunungkidul Soroti Proyek Strategis yang Belum Jalan
DPRD Gunungkidul meminta lima proyek strategis senilai Rp17,3 miliar segera dilelang agar pengerjaan tidak molor.
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Hingga awal Agustus ini terdapat 15 kasus perceraian yang diajukan Pegawai Negeri Sipil (PNS) perempuan yang berprofesi sebagai guru dan tenaga kesehatan (nakes).
Kepala Bidang Pembinaan dan Kesejahteraan Pegawai Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Gunungkidul, Muhammad Arif Aldian mengatakan PNS yang terlibat dalam kasus perceraian sampai bulan ini berjumlah 15 pegawai. Rinciannya, 10 kasus PNS mengajukan gugatan cerai, lima kasus lagi digugat cerai. Dari kasus tersebut, empat perkara sudah putus dan dilaporkan ke kantor BKD.
Pada 2013, kata dia, terdapat 26 kasus perceraian dengan rincian, 18 kasus PNS melakukan gugatan cerai dan delapan kasus lainnya PNS digugat cerai. Total yang terselesaikan 17 kasus.
“Untuk saat ini kita belum bisa membandingkan secara pasti bagaimana perkembangannya. Tapi kalau di lihat dari tahun-tahun sebelumnya, tren yang ada cenderung meningkat,” katanya kepada Harianjogja.com, Rabu (6/8/2014).
Arif menjelaskan kasus perceraian yang terjadi didominasi tenaga pengajar dan petugas kesehatan. Menurut dia, hal ini terjadi tidak lepas dari kuota PNS di Pemkab Gunungkidul yang didominasi kedua bidang tersebut.
“Hampir 60 persen lebih PNS didominasi guru dan tenaga kesehatan. Jadi, secara probabilitas kedua bidang ini memiliki peluang yang lebih besar,” sebut Arif.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Gunungkidul meminta lima proyek strategis senilai Rp17,3 miliar segera dilelang agar pengerjaan tidak molor.
DPD DIY dorong percepatan pengesahan RUU Masyarakat Adat demi kepastian hukum dan perlindungan hak masyarakat adat.
Penelitian terbaru ungkap pola tulisan tangan bisa jadi indikator awal penurunan fungsi kognitif pada lansia.
Rupiah melemah ke Rp17.800, DPR tegaskan kondisi bukan krisis 1998. Sektor perbankan dinilai masih stabil.
Tren wisata 2026 berubah, turis kini cari pengalaman emosional, healing, dan perjalanan bermakna ke Jepang, Korea, hingga China.
Peringatan 20 tahun gempa Jogja jadi momentum penguatan kesiapsiagaan bencana berbasis teknologi, kolaborasi, dan edukasi masyarakat.