Kelok 23 Gunungkidul Dilengkapi Rest Area dan 3 Gardu Pandang
Kelok 23 di perbatasan Gunungkidul-Bantul segera dibuka. Selain gardu pandang, kawasan ini akan dilengkapi rest area dan gerai UMKM.
Desa Gedangrejo, Kecamatan Karangmojo memiliki tradisi unik untuk mewujudkan rasa syukur kepada Tuhan Maha Esa. Tiap tahun mereka menggelar acara bersih desa yang dikemas dalam tradisi Cing Cing Goling. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com David Kurniawan.
Mungkin bagi masyarakat, cerita tentang Cing Cing Goling merupakan hal biasa dan hapalan di luar kepala. Sebab, cerita tersebut sudah diturunkan leluhur mereka sejak dahulu kala.
Namun, saat ditanya tentang asal usul Desa Gedangrejo, masyarakat sekitar belum ada yang tahu. Umumnya, mereka menjawab apabila nama itu sudah ada sejak dulu. Kepala Desa Gedangrejo Suprapto pun mengaku tidak mengetahui asal usul desa, karena sejak lahir nama itu sudah ada.
“Saya kurang tahu, karena sejak dulu sudah ada nama Gedangrejo,” kata dia kepada Harianjogja.com, Jumat (10/10/2014).
Suprapto menjelaskan saat ini pihak desa sedang mencoba menyusun sejarah asal usul desa. Hanya, proses tersebut tidaklah mudah karena membutuhkan waktu yang relatif lama.
Namun, dia menyarakan untuk menemui salah satu sesepuh desa, yakni Rejo Tamsi. Suprapto berpendapat, dia tahu banyak tentang seluk beluk desa.
“Mbah Rejo mungkin tahu banyak, karena ia salah seorang yang dituakan. Untuk saat ini, saya mohon maaf belum bisa memberikan informasi yang diharapkan,” ungkap dia.
Sementara itu, saat menemui Rejo Tamsi, 90, ada gambaran tentang asal usul Gedangrejo. Menurut dia, awalnya nama desa bukan Gedangrejo, tapi hanya Gedangan. Namun, sejak 1950-an nama desa diubah dan dikenal hingga saat ini dengan nama Gedangrejo.
“Awalnya hanya Gedangan saja. Tapi, saat masa kemerdekaan nama diubah menjadi Gedangrejo,” kata Mbah Rejo.
Dia bercerita, asal usul Gedangan erat kaitannya dengan pelarian prajurit Majapahit. Kisah itu sendiri diabadikan dengan pelaksanaan tradisi Cing Cing Goling.
Ada beberapa versi terkait tokoh dalam tradisi tersebut. Sebagian masyarakat menyebut tokoh utama adalah Wisang Sanjaya dan istri dengan dibantu Ki Tropoyo.
Sedang menurut versi Mbah Rejo, tokoh tersebut adalah Pisang Sanjaya beserta istri dan dibantu Ki Tropoyo.
Dia menegaskan tokoh utama cerita tersebut adalah Pisang Sanjaya. Sebab, nama desa juga diambil dari tokoh pelarian itu. Hanya, untuk lebih merakyatkan, maka dipakai kata gedang.
“Dalam susunan bahasa Jawa itu sama. Pisang untuk sebutan dengan krama inggil, sedangkan gedang sebutan untuk ngaka. Jadi, sebenarnya sama. Tapi, agar lebih merakyat digunakanlah kata gedang,” ungkap dia.
Mbah Rejo menjelaskan, penamaan desa tidak lepas dari jasa-jasa prajurit Majapahit yang memakmurkan wilayah.
“Dulu di sini baru ada tiga rumah. Namun, saat mereka datang dan membangun bendungan, tanah sekitar menjadi subur. Dampaknya, banyak warga yang tinggal dan sepakat untuk membuat desa,” tutur lelaki berusia 90 tahun itu.
Menurut dia, peninggalan Pisang Sanjaya masih dapat terlihat sampai sekarang. Selain tradisi Cing Cing Goling yang diperingati tiap tahun, juga ada bendungan untuk irigasi.
“Hingga saat ini kedua makam pasangan suami istri itu juga masih ada. Letaknya, juga tidak jauh dari bendungan tersebut, hanya kurang lebih satu kilometer,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kelok 23 di perbatasan Gunungkidul-Bantul segera dibuka. Selain gardu pandang, kawasan ini akan dilengkapi rest area dan gerai UMKM.
Jadwal Commuter Line Prameks Yogyakarta-Kutoarjo Selasa 8 September 2026. 5 perjalanan dari Jogja dan 5 dari Kutoarjo. Cek jadwal lengkap di sini.
Jadwal KRL Jogja-Solo Selasa 8 September 2026 tersedia 15 perjalanan. Cek jadwal lengkap Yogyakarta-Palur dan tarif KRL Rp8.000.
Jadwal KRL Solo-Jogja Selasa 8 September 2026 lengkap 12 perjalanan dari Palur. Cek waktu kedatangan di 12 stasiun, aturan pembayaran, dan info perubahan jadwal
Pemerintah Kalurahan (Pemkal) Bendung, Semin berencana memeperluas kawasan Lumbung Mataraman dari semula 1,2 hektare menjadi 2,2 hektare untuk menyasar MBG.
Janice Tjen mengaku bersyukur kembali tampil di US Open 2026 meski langkahnya di nomor ganda putri terhenti usai kalah dari Aldila Sutjiadi.