Berapa Produksi Lobster di Gunungkidul?

David Kurniawan
David Kurniawan Kamis, 04 Desember 2014 04:20 WIB
Berapa Produksi Lobster di Gunungkidul?

Nelayan menimbangkan lobster hasil tangkapannya di TPI Pantai Baron.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL– Selama ini jumlah produksi lobster di Gunungkidul tidak diketahui secara pasti. Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul masih kesulitan mendata produksi lobster di pantai selatan Gunungkidul.

Data yang dimiliki DKP merupakan data penelitian 2010-2011, hasil kerja sama Kementerian Kelautan dan Perikanan dengan Australian Center for Internasional Agriculture Research (ACIAR).

Dalam dua tahun itu, terjadi peningkatan hasil tangkapan lobster oleh nelayan, dari awalnya 82,417 ton pada 2011, menjadi 89,629 ton pada tahun berikutnya.

Kepala DKP Gunungkidul Agus Priyanto mengaku, panen lobster yang sifatnya musiman menjadi salah satu kendala proses pendataan. Ditambah, penjualan udang raksasa itu tidak melalui proses retribusi.

“Untuk saat ini, kami masih berpegang pada data lama. Sebab, untuk pendataan kami belum bisa,” ungkap Agus di lobi kantor Pemerintah Kabupaten, Selasa (2/12/2014).

Menurut dia, beberapa tahun lalu di Gunungkidul ada penelitian tentang tangkapan lobster. Penelitian tersebut merupakan kerja sama antara pemerintah pusat dengan ACIAR.

“Pendataan dilakukan dalam retang waktu 2011-2012. Kalau dilihat dari hasil penelitian itu, tangkapan lobster ada kenaikan sekitar tujuh ton,” paparnya.

Hanya Agus menegaskan, data tersebut tidak bisa menjadi patokan. Sebab, selain belum ada pembaruan data, hasil tangkapan cenderung menurun tiap tahun.
“Meski menurun, dari sisi harga kondisinya terus stabil di pasaran,” sebutnya.

Dia mencontohkan, di Gunungkidul ada enam jenis lobster, yakni batu, pakistan, bambu, batik dan mutiara.
Lobster batu merupakan jenis lobster yang paling mudah didapat di perairan Gunungkidul. Sementara, dari sisi harga juga paling murah.

Untuk mendapatkan lobster jenis itu, pembeli minimal harus merogoh kocek Rp250.000 per kilogram. Sementara, untuk jenis mutiara harga dipatok Rp900.000 per kg. Lobster banyak ditangkap saat memasuki musim hujan.

Penangkapan dilakukan dengan dua cara, yakni menggunakan jaring rendet dan jaring geonet. Namun, untuk wilayah Gunungkidul penangkapan masih menggunakan jaring rendet. Caranya, jaring yang dilengkapi dengan besi berbentuk lingkaran di sebar di sela-sela karang.

“Biasanya nelayan memasang pada sore hari dan diambil keesokan harinya,’ ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online