Imunisasi Anak Sekolah di Gunungkidul Tembus 96,8%, Penyisiran Masih Berlanjut
BIAS Gunungkidul mencapai 96%. Dinkes terus melakukan penyisiran untuk meningkatkan cakupan vaksinasi siswa kelas 1, 2, dan 5.
Puluk Organik sempurna belum bisa diterapkan di Gunungkidul. Petani masih menggunakan pupuk kimia namun dengan takaran tertentu
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Gunungkidul memprediksi panen di Musim Tanam Pertama tahun ini meningkat sekitar 4%.
Namun untuk meningkatkan produktivitas yang lebih maksimal, petani harus didampingi secara berkelanjutan. Selain itu, upaya perawatan disarankan untuk menggunakan pupuk organik.
Ketua Ikatan Petani Organik Gunungkidul Iswanto mengatakan, petani belum bisa meninggalkan pupuk kimia. Padahal kalau hal tersebut bisa dilakukan, maka panen yang didapatkan akan lebih maksimal.
“Masih belum bisa, namun proses itu akan kami lakukan secara perlahan. Caranya dengan mengurangi pupuk kimia dan diganti dengan organik dengan cara bertahap,” kata Iswanto kepada wartawan, saat meninjau panen padi demplot di Dusun Tumpak, Ngawu, Playen, Minggu (15/3/2015).
Dia mengakui, saat ini model pertanian yang dikembangkan masih semi organik, karena masih menggunakan sebagian pupuk kimia untuk pemeliharaan. Namun demikian, panen yang dihasilkan dapat maksimal karena per hektare mampu menghasilkan 12 ton gabah.
“Selain pola pemeliharaan, guna meningkatkan produktivitas harus ditingkatkan dengan cara memperbanyak program pendampingan melalui sekolah-sekolah lapangan,” ujarnya.
Menurut dia, untuk menggairahkan petani untuk bercocok tanam tidak hanya sebatas pelatihan teori. Sebab, masyarakat perlu diberikan praktik di lapangan, bagaimana cara menanam dan bertani dengan benar.
Dia berpendapat dengan pendekatan sistem pertanian ini, sangat memungkinkan Gunungkidul menjadi wilayah swasembada pangan. Kalau itu bisa diujudkan maka kesejahteraan petani otomatis akan meningkat.
“Yang jelas dengan model pertanian ini, residu bahan kimia akan semakin berkurang. Saya juga sudah membuktikannya untuk tanaman cabai, kalau dengan metode biasa petani hanya panen 15 kali, maka dengan semi organik bisa mencapai 22 kali panen dalam setahun,” imbuhnya.
Kepala Dusun Tumpak, Desa Ngawu Playen, Sumanto mengaku telah menerapkan pola pertanian semi organik. Hasilnya pun cukup memuaskan, sebab setiap dua meter persegi lahan mampu menghasilkan delapan kilogram gabah, sementara dengan pupuk kimia murni hanya menghasilkan 5,6 kilogram.
“Komposisinaya 75% pupuk organiK dan sisanya menggunakan phonska. Hasilnya pun sangat baik,” kata Sumanto.
Dia mengakui, hasil panen ini merupakan yang terbesar selama menggarap sawah. Sumanto pun mengaku tidak lagi bergantung terhadap keberadaan pupuk yang seringkali terhambat dalam penyaluran. “Model ini akan saya pakai terus,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
BIAS Gunungkidul mencapai 96%. Dinkes terus melakukan penyisiran untuk meningkatkan cakupan vaksinasi siswa kelas 1, 2, dan 5.
Harga BBM terbaru 12 September 2026 di Pertamina, BP-AKR, Shell, dan Vivo. Pertamax Turbo, Dexlite hingga BBM diesel mengalami kenaikan.
Prabowo menghadiri KTT BRICS ke-18 di India sebagai anggota penuh untuk memperkuat peran Indonesia dalam kerja sama multilateral.
Bupati Klaten Hamenang Wajar Ismoyo menerima audiensi grup paduan suara asal Klaten, Vocalista Angel, di Ruang Kerja Bupati Klaten, Jumat (11/9/2026).
Kelok 23 Kretek-Girijati diuji coba 14-20 September 2026. Simak jam operasional, kendaraan yang boleh melintas, dan aturan uji coba.
Korut menembakkan sejumlah rudal balistik sejauh 250 km ke Laut Jepang setelah latihan gabungan Korsel, Jepang, dan AS berakhir.