HARGA BARANG IMPOR : Gandum dan Kedelai Mulai Naik Harga

David Kurniawan
David Kurniawan Kamis, 10 September 2015 19:20 WIB
HARGA BARANG IMPOR : Gandum dan Kedelai Mulai Naik Harga

Harga barang impor mulai naik untuk komoditas gandum dan kedelai

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Penurunan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mulai berdampak terhadap harga sejumlah kebutuhan di pasaran. Kenaikan harga terjadi pada kebutuhan pokok yang harus dipenuhi melalui mekanisme impor seperti kedelai dan tepung terigu.

Berdasarkan pantauan yang dilakukan Harian Jogja, Rabu (9/9/2015), dampak pelemahan rupiah mulai dirasakan pedagang di Pasar Argosari, Wonosari. Sejumlah kebutuhan pokok yang berasal dari luar negeri mulai mengalami kenaikan.

Komoditas tepung terigu mengalami kenaikan hampir merata di berbagai merek yang tersebar di pasaran. Rata-rata kenaikannya Rp5.000 per sak ukuran 25 kilogram. Perubahan harga itu terjadi sejak dua pekan yang lalu.

“Misalnya untuk merek Segitiga Biru, sebelum naik saya menjual Rp163.000 per sak, tapi sekarang menjadi Rp165.000,” kata salah seorang Pedagang Kelontong di Pasar Argosari, Fajar Faudin kepada Harian Jogja.

Dia mengaku tidak tahu persis kenapa komoditas tepung terigu mengalami kenaikan. Namun dia menduga penyebab perubahan harga itu terjadi karena terpengaruh makin tingginya harga dolar amerika.

“Di Indonesia kan tidak ada tanaman gandum sehingga tepung terigu harus didatangkan dari luar negeri. Adanya kenaikan ini, terpaksa kami juga harus melakukan penyesuaian harga,” ujarnya.

Hal yang tak jauh beda juga terjadi pada komoditas kedelai. Sebelum ada kenaikan, para pedagang menjual bahan pembuat tempe itu dengan harga Rp7.300 per kilogram. Namun sejak tiga hari lalu, harga jual kedelai mulai mengalami kenaikan dan dipasarkan Rp7.350 per kilo.

“Kenaikannya masih relatif kecil. Meski demikian sebagai pedagang saya harus melakukan penyesuaian harga,” ujar Gita, salah seorang pedagang kedelai di Pasar Argosari.

Dia menjelaskan, kenaikan harga kedelai tidak lepas dengan makin terpuruknya nilai tukar rupiah terhadap dollar. Padahal kedelai yang ada di pasaran merupakan kiriman dari luar negeri, dan sebagai dampaknya harga komoditas ini mengalami kenaikan.

“Saya tidak tahu asalnya dari mana, tapi untuk sekarang kedelai yang dipasarkan berasal dari luar negeri,” tutur Gita.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Nina Atmasari
Nina Atmasari Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online