Krisis Air Bersih Melanda 17 Kapanewon Gunungkidul, 5.100 Tangki Disiapkan
Gunungkidul mendapat tambahan anggaran untuk 5.100 tangki air bersih. Bantuan disalurkan hingga November karena krisis air masih terjadi.
Petugas SPBU di Mijahan saat melayani pembelian pertalite, Senin (29/8/2015). (Harian Jogja/David Kurniawan)
SPBU Pertalite Jogja sudah meluas ke Gunungkidul, namun kurang diminati warga
Harianjogja.com, GUNUGNKIDUL– Dua Stasiun Pegisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Gunungkidul mulai memasarkan pertalite sejak awal September ini. Hanya saja, tingkat konsumsi bahan bakar jenis baru ini masih kalah dengan pertamax atau pun premium.
Dari pantauan yang dilakukan Harian Jogja di SPBU Mijahan, Semanu, Senin (28/9/2015) umumnya pengendara kendaraan bermotor masih memilih bensin [premium] atau pun pertamax sebagai bahan bakar. Kebanyakan warga yang menggunakan pertalite karena rasa penasaran dengan bahan bakar ini.
Guna mendongkrak penjualan di SPBU tersebut, pengelola pun memasang spanduk dengan tulisan menjual pertalite di dekat papan informasi harga BBM. Adapun harga BBM ini dipasarkan Rp8.300 per liternya.
Salah seorang petugas SPBU Mijahan, Fajar Sugiyarto mengatakan warga sudah mulai membeli pertalite. Namun tingkat konsumsinya, masih kalah dengan pertamax atau pun bensin. “Masih jauh, karena rata-rata per harinya baru laku 500 liter,” kata Fajar.
Dia menjelaskan, ada beberapa faktor yang membuat warga belum berani menggunakan BBM dengan kadar Research Octane Number (RON) 90 ini. Beberapa faktor itu antara lain, selain masih baru, BBM jenis ini belum bisa tersedia di seluruh SPBU dan hanya beberapa tempat saja yang menjualnya.
“Kami sudah coba menawarkan ke konsumen, tapi mereka tetap tak bergeming dan masih memilih BBM jenis yang lain,” ungkapnya.
Sementara itu, salah seorang pembeli Harjono mengaku penasaran dengan pertalite. Untuk itu, dia pun mencoba menggunakan BBM tersebut.
“Saya hanya ingin coba saja, karena berdasarkan berita di televisi katanya kualitasnya lebih baik dari premium,” ujar Harjono.
Dia pun mengakui, belum bisa merasakan keunggulan yang ada dalam pertalite. Selama ini guna menghidupkan mesin motornya banyak menggunakan bensin sebagai bahan bakar. “Kalau hasilnya bagus, bisa saya dipertimbangkan untuk terus digunakan. Apalagi dari sisi harga, juga tidak jauh beda dengan premium,” tuturnya.
Terpisah, Kepala Seksi Distribusi dan Perlindungan Konsumen Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan Energi Sumber Daya Mineral (Disperindagkop ESDM) Gunungkidul Supriyadi mengakui, penjualan pertalite sudah dilakukan sejak awal bulan ini. Hanya saja, tempat penjualannya masih terbatas, karena baru dua SPBU yang melayani penjualan pertalite.
“Belum semua menjual, karena baru ada di SPBU di Mijahan [Semanu] dan Duwet [Wonosari],” kata Supriyadi, kemarin.
Disinggung mengenai konsumsi pertalite, Supriyadi belum bisa menyebutkan jumlahnya. Namun, ia berjanji akan terus memantaunya sehingga diketahui berapa konsumsi yang dibeli oleh masyarakat.
“Kemungkinan baru bisa terlihat di akhir [September] atau awal bulan nanti. Sebab, hingga sekarang belum ada laporan yang masuk ke kami,” tutur dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul mendapat tambahan anggaran untuk 5.100 tangki air bersih. Bantuan disalurkan hingga November karena krisis air masih terjadi.
Sebanyak 413 siswa, guru, dan karyawan SMKN 2 Jogja mengalami mual hingga diare usai menyantap MBG. Penyebab masih diselidiki.
Menhub Dudy Purwagandhi mengganti Dirjen Hubla Muhammad Masyhud dengan Lollan Panjaitan sebagai bagian dari evaluasi internal Kemenhub.
Tekanan akademik, tuntutan awal karier, hingga proses pencarian jati diri dapat menjadi sumber stres bagi kelompok dewasa muda.
Pengajar Ponpes Ash Sholihah di Sleman ditahan terkait kasus kekerasan seksual terhadap alumni santriwati dan terancam 12 tahun penjara.
Berkas Febrie Adriansyah telah P-21 dan dilimpahkan ke Kejari Jaksel. Tim hukum siap menguji bukti dan tuduhan jaksa di persidangan.