WISATA GUNUNGKIDUL : Pemandu Gua Pindul Wajib Taati SOP dalam Penyusuran

David Kurniawan
David Kurniawan Minggu, 03 Januari 2016 13:20 WIB
WISATA GUNUNGKIDUL : Pemandu Gua Pindul Wajib Taati SOP dalam Penyusuran

Sejumlah pemandu saat mengatur wisatawan yang akan menyusuri Gua Pindul, Sabtu (2/1/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)

Wisata Gunungkidul Gua pindul selalu menarik perhatian sejak pertamakali dibuka untuk umum.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Obyek wisata Gua Pindul di Desa Bejiharjo, Kecamatan Karangmojo tidak hanya menawarkan keindahan alam. Dari obyek ini, perekonomian warga sekitar ikut terdongkrak. Banyak warga yang menjadi pemandu wisata, meski harus bolak balik masuk ke dalam gua sepanjang 300 meter ini.

Sejak dibuka pertama kali pada 2010 lalu, Gua Pindul menjadi salah satu magnet pariwisata di Gunungkidul. Setiap tahunnya puluhan ribu pengunjung menyusuri gua itu. sebagai dampaknya, di sekitar lokasi geliat ekonomi terus terjadi.

Berbagai jasa mulai ditawarkan mulai dari menyangkut urusan perut, penyediaan toilet umum hingga jasa memandu wisata masuk ke dalam gua. Khusus untuk pemandu wisata, jumlahnya sangat banyak dan hampir mencapai ribuan. Gambaran ini terlihat adanya sepuluh pengelola yang memberikan pelayanan jasa tersebut.

Meski telah memasuki musim hujan, Sabtu (2/1/2016) siang, cuaca di seputaran terasa terik. Namun kondisi ini, tak membuat Basuki, salah seorang pemandu wisata Pindul patah semangat. Ia tidak henti-hentinya memberikan pengarahan kepada ketujuh wistawan yang akan ia bawa.

Ia mengaku sudah menunggu antrean masuk ke gua selama kurang dari setengah jam. Di musim liburan seperti sekarang, jumlah kunjungan meningkat pesat, sehingga berdampak terhadap penghasilan Basuki.

Di hari biasa, setiap harinya hanya bisa memandu maksimal sebanyak tiga kali. Tapi memasuki musim liburan, Basuki mengaku bisa memandu dengan hingga tujuh kali penyusuran.

“Konsekuensinya saya harus berlama-lama di dalam air. Kalau di hari biasa penyusuran hanya butuh waktu 30 menit, tapi kalau ramai seperti sekarang butuh waktu hingga 1,5 jam,” kata Basuki kepada Harianjogja.com, Sabtu kemarin.

Dia mengakui saat berlama-lama di air akan berdampak terhadap kondisi tubuh. Terlebih lagi, peralatan yang digunakan tidak standar karena hanya berbekal pelampung dan pakaian seadanya saja. Namun hal tersebut tidak membuat nyalinya ciut dan tetap melakukan pekerjaan ini.

“Dingin sih dingin, tapi tetap saya jalani. Jasa pemanduan kan tidak dilakukan secara terus menerus karena dibuat jadwal dengan pemandu lain, sehingga saat istirahat digunakan untuk memulihkan kondisi tubuh,” ulasnya.

Basuki mengatakan, memilih pekerjaan ini karena pendapatan yang diperoleh lebih besar ketimbang saat bertani. Meski tak mau mengaku berapa penghasilan setiap bulannya, ia mengisayaratkan bahwa yang diperolehnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Pokoknya cukup. Jika dibandingkan dengan bertani, hasilnya jauh lebih besar,” katanya.

Hal senada juga diungkapkan Kabul, pemandu wisata lainnya. untuk menjaga kondisi tubuh, ia tidak melakukan persiapan khusus. Hanya saja, ia menekankan pada dirinya sendiri untuk makan tepat waktu.

Cara ini diakuinya sangat ampuh untuk menjaga kondisi tubuh meski harus berkali-kali masuk ke sungai dan menyusuri lorong Gua Pindul. “Yang paling penting kondisi bandan harus fit. Salah satu cara untuk mewujudkannya dengan menjaga pola dan waktu makan,” kata Kabul.

Koordinator Forum Kemitraan Polisi Masyarakat (FKPM) Pindul Sumbodo mengatakan, untuk jasa pemanduan disesuaikan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang dibuat sejak 2010 lalu. para pemandu harus menaati aturan ini, karena sangat berkaitan erat dengan keselamatan pengunjung atau pemandu sendiri.

Salah satu prosedur yang ditaati, setiap pemandu maksimal hanya membawa tujuh orang wisatawan untuk menyusuri gua. Kondisi itu hanya berlaku saat musim liburan, sedang di hari biasa pengunjung yang dibawa dibatasi lima orang saja. “Aturan ini harus ditaati bersama,” tegas Sumbodo.

Disinggung mengenai upah yang didapatkan pemandu, ia tidak bisa memastikan karena yang diterima berbeda. Hal ini tidak lepas dari banyaknya wisatawan yang di antar atau kebijakan yang ditetapkan di masing-masing operator.

“Makin banyak upaya pendampingan yang dilakukan maka potensi uang yang diterima bisa semakin tinggi. Bahkan untuk pemandu yang senior, setiap bulannya bisa mengatongi uang Rp3 juta,” ungkapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online