HARGA KEBUTUHAN POKOK : Dekati Bulan Puasa, Harga Tak Terkontrol

David Kurniawan
David Kurniawan Selasa, 10 Mei 2016 19:20 WIB
HARGA KEBUTUHAN POKOK : Dekati Bulan Puasa, Harga Tak Terkontrol

Suasana jual beli di Pasar Argosari beberapa waktu lalu. jelang Puasa, beberapa komoditas kebutuhan pokok mengalami kenaikan. (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)

Harga kebutuhan pokok terus naik.

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Sejumlah pedagang di pasaran Gunungkidul khawatir harga kebutuhan pokok makin tak terkendali seiring makin dekatnya pelaksanaan ibadah puasa dan Hari Raya Idulfitri. Diharapkan adanya kepastian harga sehingga tidak ada yang dirugikan, baik itu untuk pedagang maupun pembeli.

Salah seorang Pedagang di Pasar Argosari, Wonosari Sulastri mengakui jika sejumlah kebutuhan pokok mengalami kenaikan. Salah satunya terlihat dari komoditas gula, baik itu gula pasir, gula batu hingga gula jawa serempak mengalami kenaikan.

Dari tiga barang ini, gula pasir menjadi komoditas yang mengalami kenaikan tertinggi. Untuk saat ini, gula pasir dijual Rp15.500-16.000 per kilogram. Satu bulan yang lalu, gula masih dijual Rp11.000-12.000 per kilonya.

Sementara itu, untuk gula jawa naik dari Rp120.000 per sak ukuran sepuluh kilogram menjadi Rp140.000 per saknya. Gula batu dari Rp14.000 menjadi Rp15.500 per kilonya.

“Kenaikannya sudah tidak wajar. Penurunan harga BBM juga tidak terpengaruh karena harga-harga malah cenderung naik,” katanya kepada Harianjogja.com, Senin (9/5/2016).

Kenaikan harga-harga ini tidak hanya terjadi pada gula. Sebab beberapa komoditas lain seperti bawang merah, bawang putih juga ikut naik. Bawang putih dari harga Rp26.000 menjadi Rp28.000 per kilo dan bawang merah dari Rp30.000 menjadi Rp35.000 per kg.

Menurut Sulastri, kenaikan beberapa komoditas (terutama gula) sudah tidak wajar lagi. Sebagai dampaknya, selain membuat kondisi pasaran menjadi sepi, kenaikan tersebut juga membuat pedagang khawatir sehingga mereka tidak ingin mengambil stok terlalu banyak.

“Kami harus berhati-hati karena bisa merugi apabila ada kenaikan atau penurunan harga yang cepat,” tutur dia.

Hal senada diungkapkan oleh Bambang Edi Waluyo, salah seorang pedagang kelontong di Desa Gedangrejo, Karangmojo. Menurut dia, harga-harga yang kurang stabil harus segera diatasi. Sebab dia takut harga ini akan semakin tak terkontrol seiring datangnya Bulan Puasa dan Hari Raya Idulfitri.
“Saya takut harga-harga akan semakin terkerek naik,” ujar Bambang.

Dia pun berharap pemerintah bisa mengambil kebijakan sehingga fluktuasi harga bisa ditekan. Pergerakan harga yang tidak stabil dampaknya akan dirasakan semua pihak, baik itu pedagang maupun pembeli.

“Faktanya penurunan BBM tidak berpengaruh terhadap harga-harga di pasaran,” ulas Bambang.

Pedagang kelontong di Pasar Candirejo, Semin Sudarti mengatakan, kenaikan harga-harga itu tidak terjadi di seluruh komoditas. Bahkan untuk cabai harganya anjlok, cabai merah keriting dijual 18.000 per kilo. Padahal beberapa waktu lalu harganya sempat tembus di atas Rp30.000 per kg.

“Selain itu ada beberapa kebutuhan yang harganya stabil, misal minya curah Rp12.000 per kg, beras Rp8.500-9.000 per kg  dan telur Rp18.000 per kilo,” katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online