Inflasi Agustus Gunungkidul Tertinggi se-DIY, Ini Pemicunya

David Kurniawan
David Kurniawan Rabu, 02 September 2026 19:17 WIB
Inflasi Agustus Gunungkidul Tertinggi se-DIY, Ini Pemicunya

Kepala BPS Gunungkidul, Agus Hartanto saat memaparkan laju inflasi di Bumi Handayani di Kantor BPS Gunungkidul. Rabu (1/9/2026). Harian Jogja/David Kurniawan

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL— Inflasi Gunungkidul pada Agustus 2026 tercatat 0,28% secara month to month (m to m), menjadi yang tertinggi dibandingkan inflasi di wilayah DIY. Tingginya permintaan kebutuhan pokok yang tidak diimbangi kelancaran pasokan menjadi salah satu faktor yang mendorong kenaikan harga komoditas.

Kepala BPS Gunungkidul, Agus Hartanto mengatakan, meski menjadi daerah dengan inflasi bulanan tertinggi di DIY, kondisi inflasi di Bumi Handayani secara umum masih berada dalam batas toleransi. Secara years on years (yoy), inflasi Gunungkidul tercatat 2,87%.

Angka tersebut masih berada di bawah batas aman yang ditetapkan Pemerintah Pusat sebesar 3,5%. Bahkan, jika dibandingkan secara tahunan, inflasi Gunungkidul justru menjadi yang paling rendah dibandingkan Kota Jogja dan Pemerintah DIY.

“Memang inflasi pada Agustus di Gunungkidul tertinggi di DIY, tapi kalau years on years masih paling rendah karena mencapai 2,87%. Sedangkan untuk Kota Jogja dan Pemerintah DIY, sudah di atas 3%,” kata Agus, Rabu (2/9/2026).

Permintaan Kebutuhan Pokok Meningkat

Agus menjelaskan perbedaan angka inflasi tersebut tidak terlepas dari kondisi permintaan dan pasokan barang. Kebutuhan pokok yang meningkat, sementara rantai pasokan tidak berjalan lancar, dapat memberikan tekanan terhadap harga komoditas di pasaran.

“Tingginya permintaan dan rantai pasokan barang sangat berpengaruh terhadap penyumbang terjadinya inflasi di Gunungkidul,” katanya.

Salah satu komoditas yang paling berpengaruh adalah daging ayam ras. Komoditas tersebut menjadi penyumbang inflasi terbesar di Gunungkidul pada Agustus 2026 dengan kontribusi mencapai 0,18%.

Menurut Agus, kenaikan permintaan daging ayam ras salah satunya berkaitan dengan kebutuhan Program Makan Bergizi Gratis yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto. Kebutuhan dari program tersebut turut meningkatkan permintaan terhadap komoditas daging ayam.

Pada saat yang sama, kebutuhan daging di tengah masyarakat juga meningkat karena mulai banyak dilaksanakan hajatan. Daging ayam menjadi salah satu bahan pangan yang dibutuhkan untuk disajikan kepada tamu undangan.

“Makanya harganya meningkat, yang saat sekarang di kisaran Rp42.000 per kilogram,” katanya.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi di Gunungkidul pada Agustus tidak hanya berkaitan dengan kenaikan permintaan dari masyarakat, tetapi juga kebutuhan pasokan untuk berbagai aktivitas dan program yang berjalan.

Inflasi Gunungkidul Bersifat Fluktuatif

Statistik Ahli Pertama, BPS Gunungkidul Ardiyas Munsyianta mengatakan penghitungan inflasi dilakukan secara rutin setiap bulan. Penghitungan tersebut diperlukan untuk mengetahui pertumbuhan ekonomi di masyarakat.

“Pasti tiap bulannya ada perhitungan inflasi mengacu pada indikator yang telah ditentukan dari pusat,” katanya.

Meski pada Agustus terjadi inflasi sebesar 0,28%, kondisi sepanjang 2026 tidak menunjukkan pola kenaikan harga yang terus-menerus. Dalam beberapa bulan, terutama pada awal tahun, Gunungkidul juga mengalami deflasi.

Ardiyas menjelaskan hasil penghitungan inflasi maupun deflasi dapat berubah atau fluktuatif dari waktu ke waktu. Kondisi tersebut juga dapat dipengaruhi oleh kebijakan yang dikeluarkan Pemerintah Pusat.

“Hasil perhitungan flutuktuatif dan kebijakan dari pemerintah pusat juga bisa berdampak terjadinya deflasi atau inflasi,” katanya.

Dengan demikian, meski inflasi bulanan Gunungkidul pada Agustus menjadi yang tertinggi di DIY, angka inflasi tahunan daerah tersebut masih berada di bawah batas aman Pemerintah Pusat. Pergerakan inflasi tetap dipantau melalui penghitungan rutin setiap bulan dengan mengacu pada indikator yang telah ditentukan dari pusat.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Sunartono
Sunartono Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online