Gunungkidul Kekurangan 936 Guru, Disdik Tarik Tenaga dari Sekolah Swasta
Gunungkidul kekurangan guru SD-SMP. Disdik menugaskan guru sekolah swasta dan guru TK untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga pendidik.
Petugas dari Gudang Bulog Logandeng sedang menurunkan jatah beras miskin untuk warga di Desa Bejiharjo, Karangmojo, Jumat (5/8/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Kemiskinan Gunungkidul ditangani salah satunya dengan mengubah raskin menjadi kupon
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mendukung rencana pemerintah mengganti beras untuk warga miskin (Raskin) dengan kupon pangan.
Namun sebelum kebijakan itu benar-benar diterapkan, pemkab berharap ada validasi data penerima sehingga bantuan bisa tepat sasaran dan tidak menimbulkan gejolak di masyarakat.
Kepala Bagian Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Daerah Gunungkidul Bambang Sukemi mengaku sudah mendengar informasi terkait dengan proses perubahan pemberian bantuan kepada warga kurang mampu.
Rencananya di tahun depan, bantuan yang disalurkan bukan lagi berbentuk beras, namun berupa kupon yang bisa ditukarkan dengan aneka kebutuhan pokok di warung-warung yang telah ditunjuk.
Kendati demikian, metode ini menurut Bambang masih berpotensi menimbulkan kerawanan sosial. Berkaca dalam pemberian raskin, penyaluran tersebut dinilai masih banyak penyimpangan.
Salah satunya adanya kegiatan masyarakat yang membagi rata bantuan tersebut dengan warga lain yang tak mendapatkan jatah bantuan.
“Meski demi asas pemerataan, ini sebenarnya tidak boleh. Jadi sebelum program diluncurkan, kami minta data penerima manfaat harus lebih akurat sehingga bantuan bisa lebih tepat sasaran,” kata Bambang kepada wartawan di akhir pekan lalu.
Menurut dia, akurasi data ini sangat dibutuhkan dan harus ada pemutakhiran. Kondisi masyarakat yang sangat dinamis maka memungkinkan adanya perubahan kapan saja.
Bambang tidak menampik, untuk saat ini data keluarga penerima manfaat masih menggunakan data dari Program Perlindungan Sosial (PPLS) 2011.
Oleh karenanya, ia sangat berharap jika pendataan yang dilakukan di 2015 lalu bisa lebih akurat, terutama berkaitan dengan bantuan program untuk rumah tangga penerima manfaat.
“Tujuan dari pemberian kupon pangan adalah untuk menghindarkan dari adanya sistem bagi-bagi di masyarakat. namun yang jadi catatan, akurasi data harus benar-benar disajikan sehingga potensi gejolak di masyarakat bisa dikurangi,” ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Gunungkidul kekurangan guru SD-SMP. Disdik menugaskan guru sekolah swasta dan guru TK untuk membantu memenuhi kebutuhan tenaga pendidik.
Rachel/Febi kalah 16-21, 17-21 dari Treesa/Gayatri pada 16 besar Denmark Open 2026. Indonesia pun kehilangan seluruh wakil di ganda putri.
Malaysia menempati peringkat kelima Digital Nomad Visa Index 2026 dengan skor 82,9. Simak posisi Bali dan daftar 10 destinasi teratas.
Sentra kerajinan kulit Manding, Bantul, sepi pembeli. Perajin menghadapi persaingan toko online dan keluhan konsumen soal kualitas produk.
Simak jadwal lengkap BRI Super League pekan kelima pada 16–18 Oktober 2026. Persita vs Persija digelar Sabtu, Persib vs Persik pada Minggu.
Pengujian jaringan 5G di kereta Jogja–Solo mencatat kecepatan unduh lebih dari 200 Mbps di sejumlah titik, di tengah pertumbuhan trafik internet 17%.