Musim Hujan Mundur, BPBD Gunungkidul Siapkan 5.100 Tangki Air
Musim hujan di Gunungkidul diprediksi tiba awal Desember. BPBD memastikan anggaran droping air bersih mencukupi hingga akhir 2026.
Salah seorang perajin sedang mengepak produk gula semut di Desa Banyusoco, Kecamatan Playen, Minggu (9/10/2016). (David Kurniawan/JIBI/Harian Jogja)
Gula semut Gunungkidul sudah dirintis dan berharap bisa berkembang seperti di Kulonprogo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL- Gunungkidul memiliki sentra penghasil gula semut yang tersebar di tiga pedusunan di Desa Banyusoco, Kecamatan Playen.
Hanya saja, produksi tersebut masih relatif kecil dan belum bisa menyaingi produksi di Kulonprogo yang sudah dikenal sebagai penghasil gula jawa itu.
Namun demikian, para perajin memiliki mimpi bisa menyaingi produksi di Kulonprogo, terlebih lagi ada klaim jika gula semut yang dihasilkan lebih baik. Terbukti pada 2011 lalu, dalam lomba ketahanan pangan nasional, produksi gula semut Banyusoco berhasil menjadi juara pertama.
Salah seorang Perajin Gula Semut di Desa Banyusoco, Siti Thoyibah mengakui produksi gula yang dihasilkan belum begitu banyak. Pasalnya kegiatan tersebut belum menjadi mata pencaharian utama, sehingga pengerjaannya masih dibagi dengan pekerjaan yang lain.
Proses produksi gula semut, kata Siti, biasanya dilakukan setiap pagi atau sore hari. Sedang di siangnya, para perajin biasanya pergi ke ladang atau melakukan aktivitas lain di luar kegiatan memroduksi gula jawa.
“Setiap perajin sekali produksi hanya menghasilkan gula jawa sekitar 2-3 kilogram saja,” katanya kepada wartawan, Minggu (9/10/2016).
Menurut dia, selain masalah produksi yang masih minim, keterbatasan dalam pemasaran juga menjadi kendala sendiri, sehingga produksi yang dihasilkan kuran begitu dikenal oleh masyarakat.
Bersambung halaman 2
Siti pun membandingkan dengan produksi di Kulonprogo. Di kabupaten tersebut, kata dia, produksinya sudah begitu masif dan menyebar di sejumlah kecamatan.
“Kondisi berbeda di sini, karena baru ada di tiga dusun di Banyusoco, meliputi Dusun Gedad, Klepu dan Sawah Lor,” ujarnya.
Meski belum begitu masif, Siti mengaku memiliki mimpi jika produksi yang dihasilkan bisa setenar gula semut di Kulonprogo. Oleh karenanya, ia meminta partisipasi dari Pemerintah Kabupaten untuk mengembangkan unit usaha tersebut.
“Saat ini peran dari pemerintah masih minim. Contohnya untuk penjualan, perajin harus mengumpulkan gula jawa yang telah dihasilkan kemudian dijual secara bersama-sama,” katanya.
Hal senada diungkapkan oleh Ketua Kelompok Usaha Bersama Guyub Rukun Jihan Astuti. Menurut dia, dari sisi kualitas gula semut yang dihasilkan tidak kalah dengan buatan perajin di Kulonprogo.
“Kendala kita mungkin hanya dipemasaran dan jumlah produksi yang masih sedikit,” katanya.
Dia menjelaskan, untuk lebih memperkenalkan produksi gula semut asal Banyusoco, pihaknya sudah mulai melakukan inovasi pengembangan produk.
Jihan mengatakan, produksi yang dihasilkan tidak hanya sebatas dengan rasa yang original, namun gula semut yang dihasilkan sudah memakai varian rasa, mulai dari jahe, kunir jahe, asem jahe hingga beras kencur.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Musim hujan di Gunungkidul diprediksi tiba awal Desember. BPBD memastikan anggaran droping air bersih mencukupi hingga akhir 2026.
Jadwal KSPN Jogja ke Obelix Sea View dan Pantai Drini, Senin 19 Oktober 2026. Cek jam keberangkatan dan tarif mulai Rp12.000.
Jadwal DAMRI YIA-Jogja Senin 19 Oktober 2026 tersedia untuk lima tujuan. Simak jam keberangkatan dan tarif bus Rp80.000 per penumpang.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Senin 19 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Simak jam keberangkatan dari Stasiun Tugu dan Kutoarjo.
Jadwal KA Bandara YIA 19 Oktober 2026 mencakup layanan reguler dan Xpress. Simak waktu keberangkatan dari Jogja dan Bandara YIA.
Jadwal KRL Solo-Jogja Senin 19 Oktober 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal lengkap dan waktu tiba di Stasiun Jogja.