Viral Mobil Pelat Merah Halangi Ambulans di Demakijo, Ini Klarifikasi Pemkab Sleman
Video mobil pelat merah diduga menghalangi ambulans di Demakijo Sleman viral. Pemkab Sleman memastikan kendaraan tersebut bukan aset pemerintah daerah.
Foto ilustrasi Gunung Merapi (Gigih M. Hanafi)
Masalah lingkungan di lereng Merapi perlu segera dituntaskan
Harianjogja.com, SLEMAN -- Kerusakan ekosistem di lereng Gunung Merapi masih belum sepenuhnya pulih. Banyak lahan yang masih gundul dan tidak ditumbuhi pepohonan. Penghijauan dibutuhkan karena wilayah tersebut merupakan daerah resapan air.
Di sisi barat lereng Merapi, Dusun Kemiri, Purwobinangun, Pakem misalnya masih banyak lahan sepanjang tepian Kali Boyong. Sebagai salah satu resapan air, BPJS Ketenagakerjaan dan Pemerintah DIY melakukan aksi penanaman pohon di wilayah tersebut. Total terdapat 10.000 pohon yang ditanam di sepanjang kali tersebut.
“Ini untuk menjaga kelangsungan ekosistem di lereng Gunung Merapi,” kata Direktur Rencana Strategis dan Teknologi BPJS Ketenagakerjaan Sumarjono, di sela-sela kegiatan penanaman pohon di kawasan TNGM (taman nasional gunung merapi) Sleman, Jumat (2/12/2016) pagi.
Selain puluhan karyawan BPJS Ketenagakerjaan, kegiatan tersebut melibatkan warga sekitar dan relawan bencana Gunung Merapi. Terdapat tiga jenis pohon yang ditanam di wilayah tersebut, meliputi pohon aren, salak dan puspa. Menurut Sumarjono, keberadaan pohon Aren tersebut nantinya bisa dimanfaatkan masyarakat. Misalnya untuk mengambil nira agar perekonomian masyarakat juga terangkat.
"Reboisasi ini dilakukan supaya ekosistem kembali lagi. Ini resapan air yang sangat dibutuhkan. Banyak warga yang mengambil air dari sini, termasuk sisi Selatan DIY," katanya.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan DIY Sutarto mengatakan, penanaman pohon untuk konservasi lingkungan bagian dari upaya untuk memulihkan kondisi alam. Menurutnya, sumber daya alam yang ada di sekitar tidak dapat dipisahkan dari perkembangan sosial ekonomi dan lain sebagainya.
“Penanaman pohon merupakan bentuk salah satu partisipasi untuk menjaga lingkungan. Jadi bukan hanya kegiatan menanam, tapi juga dimaknai sebagai komitemen melesetariakan dan menghijaukan bumi," ujarnya.
Sutarto menegaskan, kebutuhan air ke depan akan bertambah sehingga saat musim hujan masyarakat diimbau untuk memanen air. Salah satu caranya, dengan menahan air meresap kelapisan tanah. Jika itu dilakukan maka kebutuhan air dalam jangka panjang bisa teratasi.
“Masyarakat wajib menjaga lingkungan masing-masing sebagai wilayah resapan air. Apalagi, air dimanfaatkan tidak hanya warga Sleman tapi juga warga Jogja. Bahkan PDAM Jogja mensuplay kebutuhan air dari sini,” katanya.
Sementara itu, Presiden Serikat Pekerja BPJS Ketenagakerjaan Eko Purnomo menjelaskan, pihaknya juga memberikan bantuan jaminan sosial ketenagakerjaan bagi 500 relawan bencana di DIY. “Bantuan tersebut diberikan karena selama ini para relawan bencana memiliki resiko sosial. Bantuan tersebut diberikan untuk memberikan jaminan kecelakaan kerja saat relawan menangani bencana,” ujar Eko.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Video mobil pelat merah diduga menghalangi ambulans di Demakijo Sleman viral. Pemkab Sleman memastikan kendaraan tersebut bukan aset pemerintah daerah.
Jadwal KRL Solo-Jogja September 2026 relasi Palur–Tugu Jogja lengkap di 13 stasiun, mulai pukul 05.00 WIB hingga perjalanan terakhir malam.
Jadwal KRL Jogja–Solo September 2026 relasi Stasiun Tugu ke Palur lengkap di 13 stasiun, mulai pukul 05.05 WIB hingga perjalanan malam.
GPI 2026 menempatkan Islandia sebagai negara paling damai dan Rusia paling tidak damai. Indonesia berada di peringkat ke-69 dunia.
Komisi C DPRD DIY berharap Transfer ke Daerah (TKD) dari pemerintah pusat untuk 2027 naik minimal 10%. Tambahan dana tersebut dinilai dibutuhkan untuk menutup k
Hindari malware di Android dengan mengunduh aplikasi dari sumber resmi, memeriksa izin akses, dan mengaktifkan Google Play Protect.