7 Ekor Kambing Warga Tepus Mati Diserang Hewan Misterius
Tujuh kambing warga Tepus, Gunungkidul, mati dengan luka gigitan diduga akibat serangan kawanan hewan liar di tengah kemarau
Ilustrasi buah durian (JIBI/Solopos/Dok.)
Pertanian Gunungkidul, sentra buah Patuk kembali menuai kerugian
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL -- Cuaca ekstrem yang terjadi akhir-akhir tidak hanya meningkatkan potensi bencana di Gunungkidul. Namun fenomena ini juga berpengaruh terhadap sentra buah di Kecamatan Patuk karena mengalami gagal panen.
Seorang petani di Desa Putat, Kecamatan Patuk Bambang Widiyadi mengatakan, di wilayahnya terdapat tiga jenis tanaman buah yang menjadi sektor unggulan meliputi rambutan, mangga dan durian. Jika melihat dari musim, kata dia, harusnya ketiga buah itu sudah bisa dipanen. Namun sampai saat ini tidak ada tanda-tanda bisa memetik hasil dari tanaman yang ditanam di sekitar perkarangan rumah tersebut.
“Tidak ada hasilnya dan kondisi sekarang lebih parah dari hasil panen yang ada di tahun sebelumnya,” kata Bambang kepada wartawan, Senin (16/1/2017).
Dia menduga, kegagalan panen terjadi karena tingginya curah hujan. Akibatnya pohon-pohon yang harusnya berbuah tidak bisa melakukan penyerbukan sehingga upaya pembuahan tak berhasil.
“Jangankan buah, wong bunganya saja tidak ada. Kondisi ini terjadi di seluruh komoditas mulai dari mangga, durian dan rambutan,” ungkapnya.
Hal senada diungkapkan oleh Ranto Wiyatno, petani lain di Dusun Plumbungan, Putat, Patuk. Menurut dia, sejumlah pohon buah yang dimiliki tidak ada yang berkembang. Akibatnya ia tidak bisa menikmati hasil dari tanaman-tanaman tersebut. “Gara-gara hujan yang tinggi, pohon yang saya miliki tidak berbuah,” katanya.
Dia menjelaskan, akibat kejadian ini tidak bisa menambahkan penghasilan, selain mata pencarian utama sebagai petani.
“Apa yang mau dijual, wong buahnya tidak ada,” katanya.Kegagalan Sejak 2016
Sementara itu, Camat Patuk Haryo Ambar Suwardi mengungkapkan, kegagalan panen buah di kawasan Patuk sudah terjadi sejak 2016 lalu. Namun demikian, ia tidak menampik bahwa keadaan sekarang lebih parah karena kegagalan panen merata di semua komoditas.
“Tahun lalu yang berkurang drastis hanya durian, tapi sekarang pohon mangga dan rambutan yang dimiliki petani ikut-ikutan tak berbuah,” kata Ambar.
Menurut dia, kegagalan panen yang dialami petani secara kasat mata dapat dilihat di sepanjang jalan yang menjadi tempat penjualan-penjualan buah. Di musim panen seperti sekarang ini, katanya, seharusnya sudah banyak petani yang menjual hasil kebun yang dimiliki, namun untuk sekarang sangat sulit ditemukan.
“Tidak ada yang panen dan kalau pun ada hasilnya turun drastis,” ungkap mantan Camat Ponjong ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tujuh kambing warga Tepus, Gunungkidul, mati dengan luka gigitan diduga akibat serangan kawanan hewan liar di tengah kemarau
Jelang kewajiban sertifikasi halal 17 Oktober 2026, baru 16 dari 42 SPPG di Kota Jogja tercatat telah memiliki sertifikat halal.
Perbandingan iPhone 18 Pro Max vs Galaxy S27 Ultra dari kamera, baterai, chipset, layar, harga hingga prediksi spesifikasinya.
Sebanyak 42 penerbangan di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali terdampak erupsi Gunung Anak Krakatau hingga Minggu sore.
Pesawat aerosport Sky Ranger jatuh dan terbakar di persawahan Blora. Dua awak selamat dengan luka ringan setelah pendaratan darurat.
Garuda Indonesia membatalkan penerbangan dari dan menuju Jakarta, Bandung, dan Lampung hingga 7 September 2026 akibat abu vulkanik Anak Krakatau.