Pilur Gunungkidul 2026, 31 Kalurahan Segera Bentuk Panitia Pemilihan
Pilur Gunungkidul 2026 segera dimulai. Regulasi hampir rampung, 31 kalurahan siap gelar pemilihan lurah serentak mulai Juni.
Dua ekor kera ekor panjang berada di atap rumah warga Dusun Sureng I, Desa Purwodadi, Kecamatan Tepus, Jumat (7/4/2017). (JIBI/Irwan A. Syambudi)
Dinas Pertanian dan Pangan mengaku sudah mendapatkan laporan adanya serangan kera ekor panjang di pertanian milik warga
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Pertanian dan Pangan mengaku sudah mendapatkan laporan adanya serangan http://m.harianjogja.com/?p=808135">kera ekor panjang di pertanian milik warga. Untuk mengantisipasi, para petani diajak untuk menanam tanaman buah sebagai cara agar kera tidak sampai merambah ke area pertanian.
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Bambang Wisnu Broto mengatakan, serangan kera ekor panjang terjadi di wilayah utara dan selatan. Beberapa daerah yang terserang di antaranya, Desa Pundungsari, Semin; Purwodadi, Tepus; Dusun Pyuyon, Pacarejo, Semanu, serta di wilayah lain seperti di Kecamatan Paliyan dan beberapa kecamatan lainnya.
Kendati demikian, sambung Bambang, cakupan luas serangan belum diketahui pasti jumlah kerugiannya. Hal ini terjadi karena, untuk membuktikan adanya serangan sangat susah. Selain itu, dari laporan yang ada, cakupan lahan yang dijarah relatif masih kecil.
“Memang ada di beberapa titik, baik di wilayah utara maupun selatan. Tapi untuk cakupannya masih kecil,” katanya kepada wartawan di akhir pekan lalu.
Menurut dia, meski belum memberikan dampak yang signifikan. Namun serangan tersebut harus dilakukan antisipasi dan hal tersebut tidak bisa dilakukan oleh dinas pertanian dan pangan sendiri. Sebab pencegahan harus dilakukan lintas sektoral sehingga hasilnya dapat maksimal.
“Masalah ini terus berulang setiap tahunnya. Sebab serangan terjadi dikarenakan kawanan kera tidak lagi memiliki jatah pangan,” kata mantan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan ini.
Untuk langkah antisipasi selain melibatkan elemen dari lintas sektoral, Bambang juga mengajak para petani melakukan tanaman buah seperti jambu, talok hingga salam.
Dia menyakini, beberapa tanaman buah bisa dijadikan alternatif atau cadangan makanan kera sehingga dapat menghindarkan area pertanian menjadi ladang jarahan.
“Memang proses ini butuh waktu. Tapi kalau itu dapat dilakukan maka saya yakin akan memberikan hasil yang positif. Untuk itu saya mengajak petani melakukan penanaman tanaman buah di area pertanian,” kata Bambang lagi.
Salah seorang warga dusun Bonpon, Desa Pundungsari, Kecamatan Semin, Widodo mengatakan, petani di dusunnya resah. Sebab, sejak beberapa bulan terakhir munculn serangan kera ekor panjang yang memakan apa saja yang ditanam petani di ladang. “Semua habis, mulai dari ketela, jagung dan tanaman lainnya,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Pilur Gunungkidul 2026 segera dimulai. Regulasi hampir rampung, 31 kalurahan siap gelar pemilihan lurah serentak mulai Juni.
Kasus korupsi kredit fiktif di bank BUMN Banjarmasin rugikan negara Rp4,7 miliar. Tiga terdakwa dituntut 4,5 tahun penjara.
DPP Kota Jogja periksa 1.718 hewan kurban jelang Iduladha 2026. Semua dinyatakan sehat dan layak dijual di pasar tiban.
Kecelakaan di Jalan Terong–Mangunan Bantul menewaskan pejalan kaki. Polisi sebut jarak dekat jadi penyebab utama.
KPK memeriksa Plt Bupati Tulungagung dan sejumlah kepala dinas terkait dugaan aliran uang kasus pemerasan Bupati nonaktif.
Motif pembacokan pelajar di depan SMAN 3 Jogja terungkap. Geng Vozter disebut patroli menjaga wilayah usai info tawuran.