Geopark Gunungsewu Bersiap, Asesor UNESCO Kunjungi Gunungkidul
Asesor UNESCO mengunjungi Luweng Jomblang dan Hutan Wanagama untuk pra-revalidasi Geopark Gunungsewu menjelang penilaian ulang 2027.
Perahu nelayan yang terbalik di laut Selatan Girisubo Gunungkidul. (Istimewa)
Semangat nelayan Gunungkidul dianggap belum optimal
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Dinas Kelautan dan Perikanan Gunungkidul memiliki pekerjaan rumah yang besar untuk bisa mewujudkan cita-cita menjadikan laut selatan sebagai halaman muka DIY. Hal ini tidak lepas keberadaan sumber daya alam di laut yang belum tergarap dengan baik.
Salah satu faktor yang membuat pemanfaatan belum optimal karena kondisi nelayan di Gunungkidul yang masih butuh pelatihan dan pendampingan sehingga dapat menjadi pelaut yang tangguh.
Kepala DKP Gunungkidul Khairudin mengakui, semangat nelayan untuk menguasai lautan masih kurang. Hal ini pun berdampak terhadap pemanfaatan hasil laut yang diperoleh nelayan.
“Dari sisi sumber, di laut sangat melimpah. Tapi potensi ini belum digarap dengan maksimal,” kata Khairudin kepada wartawan di akhir pekan lalu.
Menurut dia, semangat melaut para nelayan yang masih kurang tidak lepas dari pola kultural masyarakat. Diakuinya cikal bakal nelayan Gunungkidul bukan pelaut sehingga memberikan pengaruh besar. Oleh karenanya, untuk bisa menciptakan pelaut yang tangguh masih butuh waktu dan proses pelatihan dan pendampingan secara berkelanjutan.
“Nelayan kita baru ada sejak 30an tahun yang lalu. Sedang sebelum-sebelumnya hanya menjadi petani. Jadi ini berakibat pada lama melaut yang masih di kisaran sehari, padahal untuk mengoperasikan kapal besar butuh waktu sekitar satu minggu. Akibatnya hasil yang diperoleh belum juga maksimal,” ujarnya.
Sebagai dampak dari masalah ini, di wilayah Gunungkidul masih banyak nelayan yang berasal dari luar daerah. Kendati demikian, lanjut Khairudin, keberadaan nelayan luar memiliki dampak positif, salah terkait dengan transfer ilmu dalam melaut.
“Meski ada hasil laut yang dibawa ke luar, tapi keberadaan nelayan luar juga bisa memberikan pelajaran bagi orang Gunungkidul menjadi pelaut yang tangguh dan baik,” kata mantan Kepala Dinas Lingkungan Hidup ini.
Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Gunungkidul Rujimanto juga tidak menampik jika nelayan masih sangat membutuhkan bantuan dari pemerintah. Bantuan itu dibutuhkan sebagai rangsangan untuk memperbesar usaha yang dimiliki.
“Memang untuk menjadikan nelayan yang tangguh butuh proses. Apalagi kegiatan berlayar masih hal baru bagi orang Gunungkidul sehingga stimulan bantuan dari pemerintah masih sangat dibutuhkan,” katanya.
Menurut dia, penghasilan nelayan Gunungkidul mulai ada perbaikan. Indikasi ini terlihat makin banyak nelayan yang sadar dan mulai menyisihkan hasil dari melaut untuk ditabung.
“Dengan menabung maka ada dana cadangan yang bisa digunakan pada saat mendesak, seperti saat paceklik ikan,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Asesor UNESCO mengunjungi Luweng Jomblang dan Hutan Wanagama untuk pra-revalidasi Geopark Gunungsewu menjelang penilaian ulang 2027.
Jadwal Bus KSPN Malioboro-Parangtritis 31 Oktober 2026 tersedia 6 kali sehari. Cek jadwal pulang-pergi dan tarif Rp12.000.
Jadwal KSPN Jogja ke Gunungkidul 31 Oktober 2026 tersedia untuk rute Obelix Sea View dan Pantai Drini. Cek jam dan tarifnya.
Jadwal KA Prameks Jogja-Kutoarjo Sabtu 31 Oktober 2026 tersedia 10 perjalanan. Simak jam keberangkatan dari kedua stasiun.
Jadwal KA Bandara YIA 31 Oktober 2026 tersedia untuk layanan reguler dan Xpress. Simak jam keberangkatan, kedatangan, dan rute kereta.
Jadwal KRL Solo-Jogja Sabtu 31 Oktober 2026 tersedia 12 perjalanan dari Palur. Simak jadwal lengkap setiap stasiun.