Tawon Jadi Fauna Khas Gunungkidul, Bukan Belalang Goreng
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menilai fenomena tanah ambles yang terjadi masih dalam kewajaran
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul menilai fenomena tanah ambles yang terjadi masih dalam kewajaran. Adapun pertimbangnnya, kejadian tersebut belum membahayakan karena lokasinya jauh dari pemukiman warga.
Baca juga : http://m.harianjogja.com/?p=889473">Tanah Ambles Meluas Warga Dilanda Kekhawatiran
Kepala Seksi Kedaruratan dan Logistik BPBD Gunungkidul Sutaryono mengatakan, pihaknya sudah menerima laporan terkait dengan fenomena tanah ambles. Kendati demikian, laporan yang masuk sebatas pemberitahuan karena hingga sekarang kejadian itu tidak sampai menimbulkan korban jiwa.
“Masih aman karena lokasi kejadian jauh dari lingkungan permukiman sehingga risiko masih sangat kecil,” katanya, Selasa (30/1/2018).
Meski risiko ancaman masih kecil, namun dia mengingatkan masyarakat untuk tetap waspada dan berhati-hati. Ini lantaran, potensi tanah ambles merata di seluruh wilayah Gunungkidul yang mayoritas didominasi kawasan kars.
Guna mengurangi risiko itu, lanjut Sutaryono, BPBD akan terus memperluas jaringah desa tangguh bencana. Hingga sekarang, jumlah desa ini di Gunungkidul ada sekitar 60 desa. Rencananya di tahun ini keberadaannya akan ditambah di 10 titik.
“Diharapkan dengan desa tangguh bencana, warga bisa melakukan penanganan saat terjadi musibah, termasuk di dalamnya saat ada fenomena tanah ambles,” tuturnya.
Lebih jauh dikatakan Sutaryono, selain memperluas jaringan desa tangguh bencana, penanganan fenomena tanah ambles juga dilakukan dengan berkoordinasi dengan BPBD DIY.
“Mereka [BPBD DIY] akan menindaklanjuti dengan menerjunkan tenaga ahli untuk melakukan kajian ilimiah tentang fenomena tanah ambles di Gunungkidul,” kata pejabat yang akan menduduki posisi Kepala Bidang Usaha Mikro Kecil dan Menengah, Dinas Koperasi UKM ini.
Sebelumnya diberitakan, petani di Krambilsawit, Saptosari khawatir potensi meluasnya tanah ambles yang menimpa ladang pertanian milik tiga orang warga. Kekhawatiran ini muncul dikarenakan intensitas hujan yang terus akan menggerus ladang-ladang lain di sekitar lokasi.
Salah seorang petani di Desa Krambilsawit, Parwanto mengatakan, lokasi tanah ambles merupakan ladang milik tiga warga, yakni Harjo Wiyono, Giyono dan Ngadiman. Menurut dia, lokasi amblesan terus meluas seiring hujan yang terus turun.
“Kejadian pertama [tanah ambles] terlih 11 Desember lalu dan luasannya belum seperti sekarang. Kalau saat ini panjangnya sudah mencapai 20 meter dengan dalam lima meter,” katanya kepada wartawan, Senin (29/1/2018).
Menurut dia, pascakejadian, para petani sudah melaporkan ke pemerintah desa. Namun hingga sekarang belum ada tindak lanjut untuk mengatasi tanah ambles tersebut. “Kondisi ini jelas membuat petani khawatir. Untungnya, polisi sudah memasang garis pengaman untuk berjaga-jaga,” ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Tawon resmi menjadi fauna khas Gunungkidul menggantikan anggapan belalang sebagai ikon daerah, sesuai Perda Nomor 3 Tahun 1999.
Sebanyak 9.000 onthelis dan onthelista dari berbagai penjuru Indonesia memeriahkan rangkaian International Veteran Cycle Association (IVCA) Rally
Rupiah melemah ke Rp17.717 per dolar AS dipicu ekspektasi suku bunga The Fed tinggi lebih lama dan sentimen geopolitik global.
Satgas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Perguruan Tinggi (PPKPT) UPN Veteran Yogyakarta mengungkapkan ada tujuh dosen yang diduga terlibat kasus kekerasan se
Turnamen padel internasional FIP Bronze di Jogja diserbu lebih dari 200 peserta dan dorong sport tourism DIY.
Jadwal bola malam ini 22–23 Mei 2026: Arema vs PSIM, final Jepang U-17 vs China, hingga laga Eropa.