Gunung Merapi berstatus waspada, Selasa (22/5/2018)./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA-Dari berbagai indikasi yang muncul, seperti deformasi yang tidak siginifikan, BPPTKG memperkirakan Gunung Merapi menuju erupsi efusif, bukan letusan eksplosif seperti pada 2010.
Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan (BPPTKG) menjelaskan, jika perkiraan itu tepat, karena mungkin saja aktivitas Gunung Merapi akan terus menurun jadi normal kembali, letusannya akan menghasilkan awas panas, sebagaimana letusan sebelumnya. Awan panas merupakan karakter khas dari erupsi Gunung Merapi.
Untuk benar-benar meletus, ada beberapa tahapan yang akan dilalui. Dan itu belum muncul hingga saat ini. Rentetan erupsi yang terjadi tempo hari baru merupakan awal menuju proses magmatik.
Proses magmatik baru akan dimulai ketika ada inflasi atau penggembungan tubuh gunung api akibat dari pergerakan magma. Tanda yang lain adalah adanya api diam. Setelah itu baru masuk tahap pembentukan kubah lava. Jika tekanan dari dalam gunung masih kuat, barulah kemudian terjadi erupsi.
Mengenai potensi kekuatan awas panas yang mungkin timbul hingga kini belum bisa dikalkulasikan. “Untuk mengetahui kekuatan awan panas harus dihitung dulu volume magma yang naik berapa? kira-kira luncurannya berapa? Nanti kita kan bisa modelling. Kalau sekarang tidak bisa lihat, karena magma belum ada yang menuju ke permukaan,” ucap Hanik.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.