Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida Dikaji, 32 Anak Divisum
Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida, 32 anak divisum, SPMB 2026, Waisak, hingga sapi kurban Presiden Prabowo.
Gunung Merapi Waspada, Selasa (22/5/2018)./Harian Jogja-Desi Suryanto
Harianjogja.com, JOGJA- Aktivitas Gunung Merapi secara kasat mata dalam beberapa hari terakhir terkesan landai. Meski begitu, status waspada (level II) gunung ini belum dicabut. Sebab proses magmatik masih berlangsung.
Kepala Seksi Gunung Merapi Badan Penelitian dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian (BPPTKG) Jogja Agus Budi Santoso mengatakan lembaganya belum menurunkan status Merapi ke level I atau normal sejak ditingkatkan menjadi waspada atau level II pada 23 Mei lalu.
Dia beralasan aktivitas Merapi hingga kini masih cukup tinggi. Apalagi selama empat tahun terakhir Merapi tidak melakukan aktivitas letusan.
"Letusan freatik terakhir terjadi 20 April 2014. Letusan freatik Merapi kembali terjadi pada 11 Mei 2018, diikuti aktivitas letusan yang intensif pada tanggal 21 dan 24 Mei 2018," jelasnya saat jumpa pers di kantor BPPTKG Jogja, Kamis (31/5/2018).
Menurut Agus, dari segi kegempaan aktivitas Merapi masih cukup tinggi. Gempa Vulkanik Tektonik (VT) tercatat kurang dari satu kali per hari. Adapun embusan tercatat tiga kali perhari, kegempaan multiphase (MP) guguran dan hembusan yang cukup tinggi atau terjadi tiga kali sehari.
"Multiphase merupakan gempa yang mencerminkan proses pergerakan fluida diantara rekahan batuan pada sumber yang dangkal atau dipermukaan," jelasnya.
Untuk gempa embusan tercatat tujuh kali sehari, dan gempa tektonik satu kali sehari. Embusan merupakan rekaman gempa yang mencerminkan proses pelepasan gas dan guguran adalah rekaman gempa yang mencerminkan guguran batuan.
"Produksi gas dan aktivitas pelepasan gas masih terus berlangsung. Magma terus berjalan ke atas. Hanya saja untuk posisinya di mana kami sedang cari," ujar Budi.
Jika dilihat dari seismik realtime secara kumulatif, lanjut Budi, tidak terjadi peningkatan. Begitu juga dengan hasil pengukuran deformasi. "Deformasi menunjukkan deflasi 21-24 Mei ketika terjadi rentetat letusan freatik. Dan saat ini, deflasi ataupun inflasi tidak terjadi," paparnya.
Berdasarkan data pengukuran SO2 dari tanggal 21-30 Mei, BPPTKG menilai kondisi di sekitar Merapi hanya 90 ton per hari. Kondisi tersebut relatif tidak berubah sejak letusan terakhir terjadi pada 24 Mei.
"Saat ini, aktivitas vulkanik masih didominasi pelepasan gas. Ini ditunjukkan dengan aktivitas kegempaan. Oleh karena aktivitas vulkanik masih cukup tinggi maka kami belum mencabut status waspada atau level dua," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Top Ten News Jogja 16 Mei 2026: Mandala Krida, 32 anak divisum, SPMB 2026, Waisak, hingga sapi kurban Presiden Prabowo.
Simak jadwal terbaru KRL Jogja-Solo Senin 18 Mei 2026 dari Stasiun Yogyakarta sampai Palur. Tarif tetap Rp8.000 sekali jalan.
Cek jadwal terbaru KRL Solo-Jogja Senin 18 Mei 2026 lengkap dari Palur sampai Yogyakarta. Tarif tetap Rp8.000 sekali perjalanan.
Fabio Di Giannantonio menangi MotoGP Catalunya 2026 yang dua kali dihentikan akibat kecelakaan beruntun di Barcelona.
BMKG memprediksi hujan masih berpotensi terjadi di sejumlah wilayah DIY hingga 20 Mei 2026 akibat pengaruh fenomena MJO.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit melantik Kalemdiklat Polri, lima kapolda baru, dan satu pejabat utama Mabes Polri di Jakarta.