Agrinas Beri Beasiswa untuk Anak Muda Papua, Disiapkan Jadi Tenaga Perkebunan Sawit
Agrinas Palma Nusantara memberikan beasiswa kepada 25 anak Papua Selatan untuk mengikuti pendidikan perkebunan sawit selama tiga tahun.
Dua dosen USD Monica Eviandaru Madyaningrum (kanan) dan Y Tri Subagya dalam seminar bertajuk Menyoal Identitas Meretas Diskriminasi dan Kekerasan Kolektif, Jumat (8/6/2018)./Harian Jogja- Sunartono
Harianjogja.com, SLEMAN – Persoalan identitas hampir dirasakan sebagian besar kalangan minoritas. Sayangnya masalah ini kerap dibawa untuk kepentingan politik.
Isu tentang identitas dan kekerasan dibahas dalam Seminar Doktor Universitas Sanata Dharma (USD) bertajuk Menyoal Identitas Meretas Diskriminasi dan Kekerasan Kolektif di Ruang Koendjono, Gedung Pusat USD, Jumat (8/6/2018).
Rektor USD Johanes Eka Priyatma mengatakan persoalan identitas sebenarnya telah terjadi sejak lama, sehingga masih harus terus diperjuangkan.
Masalah identitas dirasakan hampir sebagian besar masyarakat terutama minoritas. Parahnya, isu identitas seringkali kerap dipakai untuk kepentingan konstelasi politik sehingga persoalannya semakin kompleks.
“Persoalan identitas selalu menjadi perbincangan, sehingga ini sudah masuk pada tataran wilayah yang rumit, apalagi sering dibawa ke ranah politik, yang kadang dipakai untuk memenangkan konstelasi politik,” kata Eka di sela-sela pembukaan seminar, Jumat.
Ia menambahkan, meski hakekat kemanusiaan sebenarnya adalah satu yang seharusnya semua dianggap sama, hal itu tidak bisa diterima dengan mudah oleh beberapa kelompok masyarakat.
Kenyataan itu selaras dengan kasus radikalisme dan intoleransi yang juga sering terjadi akhir-akhir ini. “Maka diskusi dalam perspektif minoritas ini sangat penting dalam hal perkara identitas, karena [perkara identitas] tidak mudah untuk diaktualisasikan,” ujarnya.
Meski demikian, lanjut Eka, bangsa Indonesia harus meyakini bahwa selama 50 tahun terakhir termasuk saat ini kondisi itu lebih baik dibandingkan 50 tahun ke belakang sebelum Indonesia merdeka.
Sehingga tidak ada alasan untuk tidak optimistis dengan peradaban ke depan akan lebih baik lagi.
“Kita di perguruan tingi harus ikut berfikir membantu bangsa ini mengatasi persoalan tersebut. Karena kebangsaan kita sebagai bangsa Indonesia belum berakhir masih terus diperjuangkan. Bahkan beberapa perguruan tinggi menggelar acara khusus untuk menegaskan bahwa dirinya adalah pancasilais,” ungkap Eka.
Dalam seminar itu menghadirkan dua narasumber doktor dari USD, antara lain Monica Eviandaru Madyaningrum mempresentasikan tentang pendekatan kritis dalam studi disabilitas menyoal psikologi diskrimiantif. Serta Y Tri Subagya terkait relasi idetnitas etnik dan agama terhadap kekerasan kolektif.
Penyandang disabilitas bagi Monica Eviandari termasuk salah satu identitas yang sering terpinggirkan atau minoritas. Berdasarkan hasil penelitiannya, kunci persoalan disabilitas bukan pada kondisi fisik individu yang mengalaminya, namun justru pada cara pandang yang digunakan orang untuk memaknai dan merespons disabilitas.
“Apapun karya dan beragam aspek diri dan individu penyandang disabilitas cenderung diabaikan karena mereka seolah-olah hanya ditentukan oleh karakter fisik atau mentalnya yang dianggap abnormal,” kata dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Agrinas Palma Nusantara memberikan beasiswa kepada 25 anak Papua Selatan untuk mengikuti pendidikan perkebunan sawit selama tiga tahun.
Prabowo mengakui pelaksanaan MBG masih memiliki banyak kekurangan. Sebanyak 353 orang dipecat dan BGN menguji CCTV berbasis AI.
Dino Patti Djalal membantah hoaks bertamu ke rumah Dubes Singapura bersama Saiful Mujani dan menilai kabar itu sebagai upaya menggiring opini.
Arema FC menang 4-0 atas Dewa United di Stadion Kanjuruhan. Careca mencetak dua gol, disusul Samuel Otusanya dan Juliam Guevara.
Anggota VI BPK Fathan Subchi meninggal dunia pada usia 56 tahun saat menjalankan tugas pemeriksaan di Moskow, Rusia, Minggu (25/10/2026).
Warga Cawan menghentikan penambangan pasir dan batu dengan alat berat di bantaran Sungai Progo karena mengancam konservasi dan wisata Mbudho Island