Kondisi Kekeringan di Gunungkidul Dinilai Belum Parah

Jalu Rahman Dewantara
Jalu Rahman Dewantara Rabu, 27 Juni 2018 08:17 WIB
Kondisi Kekeringan di Gunungkidul Dinilai Belum Parah

Ilustrasi kemarau di ladang pertanian/Bisnis Indonesia-Rachman

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL-Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat 96.523 jiwa di 54 desa, 11 kecamatan alami kekeringan. Namun, tidak semua wilayah kering total.

Sebelumnya, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan kekeringan dialami di 11 kecamatan yang ada di Kabupaten Gunungkidul.

Menanggapi hal itu Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Edy Basuki mengatakan, kekeringan tidak seperti yang diresahkan di media. "Seolah-olah kering tidak ada air, di sana, padahal masih ada air, baik dari PDAM, SPAMDes, dan tampungan air hujan," ujarnya saat ditemui awak media di Kantor BPBD Gunungkidul, Selasa (26/6/2018).

Menurutnya, masyarakat Gunungkidul kini telah terbiasa dengan kekeringan yang saban tahun melanda. Adapun jika sudah tidak memiliki air bersih, masyarakat akan mencari sumber air atau membeli air bersih dari tangki swasta yang lewat.

BPBD Gunungkidul sendiri saat ini sudah berkoordinasi dengan kecamatan dan PDAM Tirta Handayani untuk memetakan wilayah mana saja yang mengalami kekeringan paling parah.

Edy menambahkan, pihaknya mengerahkan enam unit truk yang setiap hari mendistribusikan 24 tangki air bersih ke wilayah terdampak kekeringan. Selain itu, ada sembilan kecamatan yang selama ini mengalami kekeringan juga telah mendapat distribusi air bersih.

Sementara itu, Direktur PDAM Tirta Handayani Isnawan Febrianto mengatakan, saat ini total cakupan PDAM Tirta Handayani mencapai 65 persen dan ditambah SPAMDes 25 persen. Ditotla jaringan perpipaan mencapai 80%.

Adapun sisa 20 persen kata Isnawan merupakan air mandiri, sumur gali atau air permukaan. Hal ini berlaku di daerah tertentu yang geografisnya tidak mungkin dilayani perpipaan sehingga harus dilakukan droping.

Isnawan mengaku saat ini ada sejumlah kendala yang dihadapi. Seperti di Bribin I, Semanu, pompa air rusak beberapa kali sehingga menyebabkan suplai air ke wilayah timur Gunungkidul tersendat. Selain itu, sumber air di Baron, kecamatan Tanjungsari, yang selama ini menyuplai wilayah Paliyan sering mengalami kendala mati listrik.

Kedepan, PDAM Tirta Handayani akan menambah sumur bor pompa. Hal ini sebagai solusi jangka panjang gun memudahkan dalam distribusi air. "Kalau hanya meningkatkan kekuatan pompa itu tidak mengatasi masalah jangka panjang," ucapnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Kusnul Isti Qomah
Kusnul Isti Qomah Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online