Kadin dan UGM Jalin Kerja Sama
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjalin sinergi dengan Perguruan Tinggi.
Salah seorang petani menunjukan hasil panen bawang merah di Desa Pulutan, Wonosari, Gunungkidul, Selasa (4/9/2018)./Harian Jogja-Herlambang Jati Kusumo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL—Air masih jadi masalah klise bagi pertanian di Gunungkidul. Salah satunya dirasakan oleh petani di Desa Pulutan, Kecamatan Wonosari.
Ketua Kelompok Tani Sedyo makmur Dusun Dlodokan, Desa Pulutan, Wonosari, Gunungkidul Wasito mengatakan di wilayahnya sebenarnya memiliki potensi pertanian salah satunya tanaman holtikultura, namun saat ini masih ada beberapa kendala yang harus dihadapi petani. "Potensi pertanian di sini besar sebenarnya. Salah satunya bawang merah yang saat ini masuk panen. Namun saat ini masih ada kendala pemenuhan airnya," kata Wasito, Selasa (4/9/2018).
Saat ini para petani memang memiliki sumur ladang yang dapat membantu kebutuhan air untuk pertanian, namun hal tersebut belum bisa menjangkau untuk keseluruhan lahan milik petani.
Selain masalah air, Wasito mengatakan minimnya alat pertanian juga menjadi permasalahan petani saat ini. "Kalau yang dibutuhkan saat ini peralatan seperti kultivator, karena masih terbatas," ujar dia.
Dia mengatakan dengan kultivator pengolahan lahan petani lebih mudah sehingga tenaga yang dikeluarkan petani tidak banyak. Untuk regenerasi petani sendiri menurutnya saat ini sudah baik.
Kepala Desa Pulutan Tri Untoro mengatakan saat ini dukungan dari Dinas Pertanian dan Pangan cukup banyak, namun saat ini untuk pengairan memang masih kurang. "Saat ini pemanfaatan air belum maksimal. Harapannya bendung air di Ngaliyan bisa dimaksimalkan, sehingga penyiraman tidak ada kendala," ujar dia.
Selain masalah air, untuk mempertahankan generasi muda menurut dia memang harus ada dukungan peralatan tani yang maju dan modern, sehingga minat anak muda untuk bertani menjadi tinggi.
Sementara itu, Kepala Bidang perkebunan dan holtikultura Dinas Pertanian dan Pangan, Gunungkidul, Budi Sudartanto mengatakan untuk wilayah Pulutan memang memiliki potensi,namun tidak dipungkiri masih ada beberapa kendala.
"Ya saat ini air masih menjadi kendala, memang menjadi prioritas untuk masalah air itu. Kedua itu masalah alat salah satunya kultivator, dengan alat itu biaya produksi lebih rendah," ujar dia.
Dia berharap petani juga dapat swadaya untuk mendukung pertanian. Menurutnya dengan potensi bawang merah yang ada di Pulutan dapat mendongkrak perekonomian para petani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjalin sinergi dengan Perguruan Tinggi.
Kasus istri gorok leher suami di Bantul terungkap. Dipicu perselingkuhan dari chat WhatsApp, pelaku terancam 10 tahun penjara.
Transformasi ekonomi di DIY dan Jawa Tengah dinilai tidak sepenuhnya menggeser akar budaya lokal.
Jelang Iduladha 2026, Dispertapang Kulonprogo perketat pengawasan hewan kurban. PMK nol kasus, namun ancaman penyakit lain tetap diwaspadai.
PN Tipikor Bengkulu vonis bebas 4 terdakwa kasus korupsi lahan tol. Hakim sebut tidak ada unsur melawan hukum.
Simak jadwal lengkap SPMB SMA/SMK DIY 2026, kuota jalur, hingga tahapan pendaftaran. Pastikan tidak terlewat!