Perbukitan Menoreh Menjadi Prioritas Penyaluran Bantuan Air Bersih

Beny Prasetya
Beny Prasetya Selasa, 04 September 2018 21:15 WIB
Perbukitan Menoreh Menjadi Prioritas Penyaluran Bantuan Air Bersih

Penyaluran bantuan air bersih di Dusun Sumbersari, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang, Selasa (4/9/2018).Harian Jogja-Beny Prasetya

Harianjogja.com, KULONPROGOWilayah Menoreh masih menjadi prioritas utama penyaluran bantuan air bersih. Hal tersebut dilakukan karena biaya operasional dropping air di area pegunungan sangat mepet.

Wahono, salah seorang anggota Tagana Kulonprogo yang berada dibawah naungan Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kulonprogo, menyatakan wilayah Menoreh menjadi prioritas penyaluran bantuan air bersih. Selasa (4/9/2018), Tagana Kulonprogo menyalurkan bantuan air bersih ke Dusun Sumbersari, Desa Banjarasri, Kecamatan Kalibawang. Dusun yang berada di kawasan perbukitan paling luar Kabupaten Kulonprogo itu mendapat bantuan air bersih dari pegawai Kantor Pajak Pratama Kulonprogo.

"Prioritas penyaluran air bersih yang berasal dari bantuan coorporate social responsibility [CSR] kami tempatkan di empat kecamatan yang memang membutuhkan bantuan," Wahono, Selasa.

Empat kecamatan yang menjadi prioritas masing-masing Kecamatan Samigaluh, Kalibawang, Girimulyo dan Kokap. Menurutnya, keempat wilayah itu menjadi prioritas dengan pertimbangan lokasi pengambilan air yang cukup jauh dan kondisi medan jalan yang menanjak. Tagana kewalahan dengan medan yang dilalui, terlebih truk tangki pengangkut air harus membawa 5.000 liter air bersih."Perjalanan sangat jauh dan membutuhkan waktu berjam-jam," katanya.

Salah seorang warga Desa Banjarasri yang menerima bantuan air bersih, Sutirah, mengaku selama lima bulan dusunnya baru mendapatkan 15 kali bantuan air bersih. Padahal satu tangki harus digunakan untuk mencukupi kebutuhan 80 kepala keluarga (KK).

"Biasanya kami mengambil air di Sumber Pucungan meski jaraknya sangat jauh, yakni sekitar tiga kilometer. Kalau beli air sebanyak 1.500 liter, harganya Rp150.000," katanya.

Ia juga selama kemarau, air PDAM sudah tidak mengalir. Sejumlah sumur warga juga mengering. "Untuk mencukupi kebutuhan, kami harus mengambil air ke Sumber Pucungan yang jaraknya sangat jauh," katanya.

Koordinator dropping Air Tagana Kulonprogo, Ibnu Wibowo, mengaku sering memberikan subsidi silang biaya operasional dropping air. Jarak jauh untuk wilayah pegunungan seperti Samigaluh dan sekitarnya harus ditambah sisa solar dari dropping air di wilayah lebih dekat seperti Sentolo, Pengasih dan lainnya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Yudhi Kusdiyanto
Yudhi Kusdiyanto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online