Ilustrasi-Penimbangan anak balita/JIBI
Harianjogja.com, SLEMAN—Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman menggencarkan upaya penanggulangan stunting. Beberapa upaya seperti pemberian makanan tambahan (PMT) melalui posyandu terus dilakukan.
Kepala Bidang Kesehatan Masyaratat Dinkes Sleman, Wisnu Murtiani, mengatakan sejak ditemukannya kasus stunting secara nasional sejak dua tahun terakhir, jajarannya mulai menggencarkan upaya penanggulangan. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) pada anak balita, di 2016 terdapat 11,8% anak balita yang masuk pada kategori stunting di Sleman. Jumlah tersebut meningkat di 2017 menjadi 11,9% anak balita.
"Tahun ini kami menggencarkan pengendalian stunting mulai dari PMT baik dari Kementerian Kesehatan maupun dari dana bantuan operasional kesehatan [BOK]," katanya saat ditemui Harian Jogja, Jumat (7/9/2018).
Ia mengatakan, permasalahan gangguan pertumbuhan pada anak balita sebagai dampak masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang tepat dalam waktu yang lama banyak ditemukan di beberapa kecamatan seperti Minggir, Moyudan, Seyegan, Kalasan, dan Prambanan. Menurutnya, pola asuh pada anak balita dalam memberikan makanan bisa menjadi penyebab terjadinya stunting.
Tiap bulan Dinkes melakukan pemantauan pada anak balita melalui posyandu. Selain itu angka stunting bisa terlihat di akhir tahun setelah dilakukan pemantauan konsumsi gizi (PSG). "Setiap melakukan pemantauan dilihat pergembangannya, tinggi badan anak balita, apakah sesuai atau tidak," katanya. Wisnu mengatakan masalah stunting akan berdampak pada perkembangan kognitif dan IQ anak. Wisnu mengimbau agar gizi yang diberikan pada anak haruslah sesuai kebutuhan. "Mulai dari protein tercukupi, jangan hanya diberi banyak makanan saja, tapi juga harus proporsional," ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.