Kadin dan UGM Jalin Kerja Sama
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjalin sinergi dengan Perguruan Tinggi.
Ilustrasi warga mengevakuasi pohon tumbang./Istimewa-FPRB Srimulyo
Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Jelang peralihan musim dari kemarau ke penghujan (pancaroba) yang diprediksi terjadi mulai Oktober mendatang, sejumlah dampak perlu diwaspadai. Di antaranya adalah pohon tumbang dan tanah ambles.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Gunungkidul, Edy Basuki mengatakan untuk tanah ambles dipengaruhi karena geografis Gunungkidul yang merupakan batuan kapur atau karst. "Munculnya lubang atau tanah amblas tersebut, semakin mudah muncul karena pengaruh hujan atau air yang meresap ke celah-celah tanah. Biasanya terjadi pada permukaan tanah yang cekung," kata Edy, Kamis (13/9/2018).
Edy mengatakan setidaknya pada saat musim hujan awal tahun ini terjadi sekitar 20 kejadian tanah ambles, baik berukuran kecil maupun besar. Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan BPBD Gunungkidul mengantisipasi dengan memasang sejumlah papan peringatan di lokasi tanah ambles, maupun memasang tali untuk pembatas tanah ambles.
"Biasanya untuk tanah ambles yang berukuran kecil, warga menutup sendiri dengan jerami atau dedauan. Tetapi kami memghimbau agar tidak menutup dengan tumpukan sampah," kata Edy.
Selain tanah ambles, pohon tumbang menjadi perhatian BPBD Gunungkidul. Edy mengungkapkan untuk pencegahan pohon tumbang biasanya dilakukan pemangkasan pohon, yang biasanya warga mengajukan permohonan.
Belajar dari bencana banjir akhir tahun lalu Edy berharap masyarakat yang ada di sekitaran sungai untuk lebih waspada.
Terkait dengan tanah ambles, Kepala Balai Pengawasan dan perijinan ESDM wilayah, Gunungkidul, Pramuji Reswandono, mengatakan Gunungkidul memiliki ekosistem kawasan karst. "Ekosistem kawasan karst kan pola sistemnya didapati aliran bawah tanah. Banyak sistem, akuifer, gua, celah-celahnya banyak berhubungan," ujarnya.
Dia mengatakan karena banyak wilayah Karst di Gunungkidul terutama di Selatan menyebabkan tidak ada sungai permukaan. Kebanyakan sungai berada di bawah tanah seperti, Semanu, Tepus, Rongkop, Girisubo, Purwosari, Panggang, Tanjungsari, Paliyan, sebagian Playen.
Kawasan karst di wilayah Gunungkidul sifat nya memiliki rongga yang menuju aliran sungai bawah tanah. "Batu gamping/ kawasan karst ketika kena air hujan akan ada pelarutan, lalu ketemu sungai bawah tanah," kata dia.
Jika rongga tersebut tidak berada di pemukiman tidak akan begitu membahayakan. Namun jika ada disekitar pemukiman atau tempat aktivitas warga perlu ada tindakan menurutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menjalin sinergi dengan Perguruan Tinggi.
Menteri PPPA menyebut paparan judi online terhadap 200 ribu anak menjadi ancaman serius bagi perlindungan dan tumbuh kembang anak.
Pemkab Bantul menargetkan 10 Koperasi Desa Merah Putih siap diresmikan Agustus 2026 dengan fokus usaha kebutuhan pokok dan produk lokal.
Kemenhub menyesuaikan fuel surcharge pesawat domestik mulai 13 Mei 2026 akibat kenaikan harga avtur demi menjaga operasional maskapai.
Jadwal KRL Solo-Jogja Minggu 17 Mei 2026 lengkap dari Palur hingga Yogyakarta, tersedia keberangkatan pagi sampai malam hari.
Manchester City juara Piala FA 2026 setelah mengalahkan Chelsea 1-0 di final Wembley lewat gol Antoine Semenyo.