SD Muhammadiyah Sapen Pertahankan Gelar, Tarakanita Bumijo Cetak Sejarah di MLSC Jogja
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Ilustrasi perubahan iklim./JIBI
Harianjogja.com, JOGJA--Hawa di wilayah Jogja dalam beberapa hari terakhir terasa gerah. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Klimatologi Yogyakarta mencatat suhu udara maksimum di siang hari saat ini berkisar 32-33 derajat Celcius.
"Kondisi ini masih batas normal. Suhu udara yang cukup panas saat ini terjadi karena posisi semu Matahari berada di kisaran equator. Itu sebabnya wilayah DIY mendapatkan banyak curahan Matahari," kata Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Yogyakarta, Djoko Budiyono kepada Harian Jogja, Selasa (25/9/2018).
Dengan posisi gerak semu Matahari di sekitar ekuator (equinox), maka pergerakan posisi semu Matahari secara perlahan-lahan akan bergerak ke bagian selatan equator. Wilayah DIY yang berada di selatan ekuator, lanjut Djoko, akan mendapatkan curahan Matahari yang lebih besar lagi.
BMKG memperkirakan suhu udara rata-rata maksimum pada Oktober mendatang, untuk wilayah DIY bisa mencapai 33-35 derajat Celcius. "Paparan panas Matahari yang lebih besar lagi terjadi sekitar Oktober. Saat itu, Matahari berada di atas wilayah DIY," katanya.
Bertepatan dengan kondisi itu, kata Djoko, wilayah DIY akan memasuki masa pancaroba dari musim kemarau ke musim penghujan. Memasuki pancaroba, BMKG mengimbau agar masyarakat mulai mempersiapkan diri menghadapi cuaca ekstrem yang berpotensi muncul. Potensi cuaca ekstrem selama pancaroba, kata Djoko, pada siang hari panas kemudian sore hari bisa berubah secara signifikan menjadi berawan dan hujan. "Hujan bisa turun dengan intensitas sedang hingga lebat dengan skala lokal maupun durasinya pendek. Hujan juga dapat disertai petir dan angin kencang. Ini perlu diwaspadai," katanya.
Untuk itu, Djoko berharap agar masyarakat mulai membersihkan drainase, selokan, sungai dari sampah, memangkas pohon yang sudah tua dan bercabang, memperbaiki atap rumah yang rusak. "Masyarakat juga harus menjaga kesehatan dengan minum air putih yang cukup," katanya.
Sedangkan untuk pesisir selatan, yang perlu diperhatikan ketika musim pancaroba adalah tingginya gelombang laut. Gelombang tersebut diperkirakan bisa mencapai 2 hingga 3,5 meter. "Bagi petani harus siap menghadapai masa tanam yang sesuai iklim," katanya.
Sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jogja sudah bersiap menghadapi musim pancaroba yang biasanya ditandai dengan cuaca ekstrem. Apalagi di wilayah Jogja, potensi pohon tumbang masih bisa terjadi. "Kami berharap warga yang memiliki pohon rindang di persil milik pribadi memperhatikan kondisi ranting, cabang maupun pengakarannya," kata Kepala Pelaksana BPBD Jogja Hari Wahyudi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
SD Muhammadiyah Sapen kembali juara KU 12 MLSC Jogja. SD Tarakanita Bumijo I mencetak sejarah sebagai juara baru KU 10 dengan top skor 36 gol.
Dinkes Bantul memastikan belum ada temuan influenza A hingga 29 September 2026 meski terdapat laporan 24 kasus di DIY.
MK menyatakan permohonan hak mempertahankan nomor HP saat berganti operator atau MNP tidak dapat diterima karena dinilai kabur.
Disdik Sleman menyebut laporan SD Negeri Ledoknongko tidak mencantumkan siswa sebagai ABK, berbeda dengan informasi awal kepolisian.
Kejagung menyatakan Kolonel Budi Utomo tersangka dugaan korupsi tata kelola MBG dan ditahan sejak Agustus 2026 di Pomdam Jaya.
Indonesia menguasai 41% produksi nikel olahan dunia. Pemerintah mendorong hilirisasi berlanjut ke ekosistem baterai.