Anak Milenal Kudu Tahu Sejarah Jogja

Abdul Hamied Razak
Abdul Hamied Razak Rabu, 24 Oktober 2018 22:20 WIB
Anak Milenal Kudu Tahu Sejarah Jogja

Sejarawan UGM Uji Nugroho memberikan materi dalam seminar Sejarah Generasi Milennials Menapaki Sejarah Kota Jogja, di Hotel Neo Awana, Rabu (24/10/2018)./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak

Harianjogja.com, JOGJA—Belajar sejarah bagi sebagian orang kadang membosankan. Namun jika dikemas dengan cara berbeda, belajar sejarah akan mendorong kesadaran orang untuk terus belajar.

Kepala Seksi Sejarah Bidang Sejarah dan Bahasa Dinas Kebudayaan (Disbud) Kota Jogja, Fitria Dyah Anggraeni, mengatakan penyampaian sejarah yang dikemas ala anak muda bisa memotivasi generasi muda untuk belajar sejarah.

Inovasi itu pula yang diterapkan seksi sejarah dan bahasa Disbud Jogja untuk menggaet generasi muda cinta sejarah.
"Anak-anak muda biar melek sejarah didekatkan dengan sejarah kota, biar mereka lebih mengenal Jogja dengan cara mereka. Yakni dengan metode permainan dan fun," katanya di sela-sela kegiatan Seminar Sejarah Generasi Milennials Menapaki Sejarah Kota Jogja, Rabu (24/10).

Hadir dalam seminar tersebut sejarawan dan arkeologi terkenal seperti Inajati Adrisijanti (arkeolog UGM), Uji Nugroho (sejarawan UGM) dan HY Agus Murdiyastomo (sejarawan UNY). Hampir semua narasumber memaparkan sejarah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, perkembangan Kota Jogja hingga kondisi saat ini.

Peserta seminar merupakan mahasiswa dan pelajar yang mendalami disiplin ilmu sejarah dan arkeologi. Jumlah pesertanya mencapai 150 orang. "Setelah seminar ini, mereka akan kami bagi menjadi 25 kelompok untuk melakukan jelajah sejarah di sekitar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.

Masing-masing kelompok akan mendapatkan modul berbeda untuk mengeksplorasi jejak sejarah Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat pada Kamis [25/10] ini," katanya.

Sejarawan UNY HY Agus Murdiyastomo, dari segi arsitektur pembangunan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat diarsiteki oleh Sri Sultan HB I. Hal itu didasari oleh pengalaman membangun kraton sebelumnya. Pembangunan Keraton Ngayogyakarta hadiningrat membutuhkan waktu hanya satu tahun. Peresmian dilakukan pada Kamis Pagi hari 13 Sura atau 7 Oktober 1756 ditandai dengan sengkalan memet Dwi Naga Rasa Tunggal yang terukir di banon kelir Tegal Magangan atau Regal Gadhung Mlathi.

"Bangunan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat dibangun berdasarkan aspek keamanan, religi, filosofi, estetik dan sosial budaya menjadi bahan pertimbangan tata ruang," katanya.

Lokasi Kraton Jogja dibangun di atas tanah datar yang kanan kirinya terdapat tiga sungai. Tempat tersebut saat itu dinamakan Hutan Bering (beringin) di mana terdapat umbul Pacetokan. Di bagian ini raja dan keluarganya tinggal di Cepuri yang dikelilingi benteng dalam (ring 1). Di luar benteng, tinggal para Sentana dan abdi dalem yang dibatasi oleh benteng luar (Baluwarti). Di dalamnya terdapat parit yang lebar dan dalam (ring 2). "Benteng ini masih dikelilingi oleh perkampungan yang dihuni oleh para prajurit dan rumah bangsawan," katanya.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Arief Junianto
Arief Junianto Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online