Tabungan Simpeda Capai Rp75 Triliun, BPD Perkuat Layanan Digital
Bank Pembangunan Daerah (BPD) se-Indonesia bertemu di malam puncak Penarikan Undian Nasional Tabungan Simpeda Tahun XXXVII-2026
Kelompok Sanggar Bambu saat berkunjung di Griya Harian Jogja, Selasa (8/1) siang./Harian Jogja-Arief Junianto
Harianjogja.com, JOGJA--Sebagai komunitas seni tertua di DIY, Sanggar Bambu terus eksis. Dalam memperingati 60 tahun mereka berkarya, komunitas yang beranggotakan seniman lintas genre itu menggelar pentas drama.
Tak biasa, pergelaran drama yang mereka gelar kali ini bakal dibesut oleh lima orang sutradara sekaligus. Dalam pentas bertajuk Ronggolawe Makar itu, kelima sutradara bakal menukangi lima fragmen yang berbeda-beda.
“Kelima fragmen itu masing-masing adalah Jaman Old, Jaman Now, Monolog, Narasi, dan Dialog Metafisis,” kata Totok Buchori, Ketua Sanggar Bambu saat berkunjung ke Griya Harian Jogja, Selasa (8/1).
Kelima sutradara itu, kata dia, di antaranya adalah sutradara Teater Gandrik, Jujuk Prabowo; seniman teater Luwi Darto, aktor teater Lita Pauh Indrajaya; dan seniman teater senior Untung Basuki.
Dia mengatakan naskah Ronggolawe Makar diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Joko Santosa. Tak tanggung-tanggung, naskah pentas itu digarap oleh dua tokoh sastra dan budaya DIY, yakni Aprianus Salam dan Indra Tranggono.
Rencananya, kata dia, pentas berdurasi sekitar 1,5 jam itu akan digelar pada Mei mendatang di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.
Salah satu sutradara pementasan, Untung Basuki mengatakan setidaknya ada 50 lebih aktor teater akan terlibat dalam pementasan tersebut. Dia menjelaskan dalam pementasan itu nantinya akan memanfaatkan lima setting spot yang berbeda dalam satu panggung. “Kelima setting itu akan mewakli masing-masing fragmen,” kata dia.
Menurut dia, Ronggolawe Makar menjadi sebuah penanda istimewa masa 60 tahun Sanggar Bambu berkesenian. Meski Ronggolawe Makar berakar dari kisah sejarah, namun dia menegaskan pementasan tersebut bakal dikemas secara kontemporer. “Jadi pementasan itu tidak sepenuhnya jadi pentas teater tradisi. Kami akan mengemasnya secara berbeda,” ucap seniman yang kerap mementaskan musikalisasi puisi itu.
Sekadar diketahui, Sanggar Bambu merupakan komunitas seni yang didirikan oleh sejumlah seniman lintas genre, seperti Soenarto Pr, Kirdjomulyo, dan Danarto pada 1 April 1959.
Sebagai komunitas seni, nama Sanggar Bambu tak bisa dipandang remeh bagi perkembangan seni di Indonesia. Di antaranya sejumlah patung monumen yang tersebar di beberapa kota, salah satunya monumen Ahmad Yani di Jakarta.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
DPRD Kulon Progo mendorong pemerataan perbaikan jalan untuk memperlancar distribusi hasil pertanian, usaha UMKM, dan ekonomi warga.
Suara Ibu Indonesia Yogyakarta menyampaikan empat tuntutan kepada pemerintah dalam aksi kreatif di Titik Nol Kilometer Jogja.
PSS Sleman membenahi detail bertahan dan menyerang demi membalas kekalahan dari Garudayaksa FC pada pekan ke-8 Super League 2026/2027.
UGM melatih petani di Wonosari, Gunungkidul, mengenali dan mengendalikan hama serta penyakit tanaman pangan dan hortikultura.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah siap mendukung pengembangan Kabupaten Magelang sebagai sentra sapi perah baru untuk memperkuat upaya mencapai swasembada susu