PENATAAN KOTA (1/2): Trotoar Milik Kita Bersama

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jum'at, 25 Januari 2019 21:30 WIB
PENATAAN KOTA (1/2): Trotoar Milik Kita Bersama

Sejumlah warga memanfaatkan jalur baru kawasan pedestrian Kotabaru sisi barat, Jogja, Selasa (22/1)./Harian Jogja-Gigih M. Hanafi

Harianjogja.com, JOGJA—Wajah Kota Jogja dipercantik. Bukan hanya sisi muka yang jamak dikunjungi wisatawan dalam dan luar negeri, tetapi juga bagian lain. Upaya ini tidak hanya untuk menegakkan Jogja sebagai Kota Istimewa, tetapi juga memenuhi hak-hak yang seharusnya dinikmati warga sejak dulu kala. Apa saja perubahan itu dan bagaimana evaluasi sementara ini?

Sabtu (29/12/2018), Malioboro menunjukkan ciri khas saat-saat musim libur. Sesak dan riuh. Kendaraan berjejal mengitari jantung Jogja ini. Pengemudi kendaraan tak bermotor, roda dua, empat hingga enam sama-sama berpayah-payah menembus jalanan yang memiliki lebar 2 x 3,5 meter.

Meski harus berjalan gremet, mereka adalah pengemudi-pengemudi beruntung yang mampu menembus keramaian Malioboro. Hanya, mereka harus menguatkan mata untuk memperhatikan sekitar. Jangan sampai lengah, supaya bodi kendaraan tetap mulus seperti sebelum masuk Ring I Jogja tersebut. Selebihnya, kaki dan tangan harus siap berkoordinasi secara berkelanjutan untuk berjalan maju 20 sentimeter setiap setengah menit.

Jika sudah seperti ini, para pemuja mesin automatik untuk setiap jenis kendaraan menaikkan puja-puji lebih besar kepada Sang Semesta. Setidaknya tenaga mereka tidak habis untuk memainkan persneling, gigi, gas dan rem secara bersamaan. Bagi pemain kendaraan manual, apalagi bagi pengemudi kendaraan yang belum power steering, rasa njarem mungkin menemani keesokan harinya.

Kelelahan para pengemudi yang melintasi Malioboro tak ada artinya dibandingkan mereka yang harus berputar-putar. Entah dari utara-barat-timur-selatan-kembali ke utara atau sebaliknya.

Lewat endi iki? Ket mau muter-muter. (Lewat mana ini? Dari tadi jalan berputar-putar)? Kata seorang pengemudi ojek online berjaket hijau yang melintas di Jalan Mataram, Jogja malam itu kepada rekan sesama pengemudi daring.

Iyo kabeh ditutup [Iya semua ditutup],” balas pengemudi yang lain.

Lautan Manusia

Jika jalan utama, sirip-sirip dan lingkaran besar Malioboro padat oleh kendaraan, bagaimana dengan jalur pedestrian? Jogja sudah bebenah, seharusnya area ini lebih nyaman dilintasi daripada jalan raya. Jawabannya ternyata sama saja.

Orang-orang berusaha berjalan dari berbagai sisi di Malioboro. Ada yang baru masuk Malioboro, sebagian ada yang berjuang keluar dari kawasan itu. Dari sisi jumlah, orang yang berjalan secara berkelompok lebih banyak daripada yang sendiri atau berdua. Tujuan mereka mengunjungi area itu juga beragam. Sebagian berlibur bersama keluarga, hal ini tampak dari sapaan mereka saat memanggil kawanan dalam satu kelompok dengan sebutan kakak, abang, mbak, mas, tante, om dan yang lainnya.

Sisanya merupakan rombongan pelajar yang study tour. Tampaknya sekolah sengaja memilih libur akhir tahun untuk membawa anak didiknya bertamasya demi menjaga waktu efektif belajar siswa tak terpotong. Pola pikir ini juga diamini beberapa sekolah dari berbagai kota dari dan luar Pulau Jawa. Alhasil Malioboro pada H-3 Tahun Baru menjadi lautan kendaraan dan manusia.

“Malioboro penuh sekali. Kita ke sini lagi pas Malioboro sepi saja,” kata seorang pelajar yang berjalan di samping Harian Jogja.

“Kalau mau sepi, ya ke sini pas subuh saja,” jawab rekan si pelajar sambil tersenyum. Dari jawabannya, dia terlihat familier dengan Jogja. Beberapa kali pun dia terlihat menjelaskan mengenai spot foto yang harus dibidik di sepanjang Malioboro. Meski mengenal kota ini dengan baik, termasuk kemacetan yang menjadi, dia tampak tak terganggu dengan kepadatan malam itu.

Suroto Bebenah

Kepala Bidang Binamarga Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Kota Jogja Umi Akhsanti menyatakan pembangunan jalur pedestrian di Suroto merupakan salah satu agenda penataan Kota Jogja menggunakan dana keistimewaan (danais). Konsentrasi penggunaan dana ini untuk mempercantik sumbu filosofi di Jogja, seperti Kotabaru, Kotagede, Kraton, Pakualaman dan Malioboro.

Jika tahun lalu, pembenahan digelar di Jalan Suroto dan Malioboro, tahun ini fokusnya di sekitar Jalan Sudirman. Tepatnya di selatan Toko Gramedia hingga restoran cepat saji Mc Donald, sedangkan tahun depan penataan rencana diadakan di sekitar Jalan Ahmad Dahlan. Khusus Kotagede, penataan masih belum dilakukan karena daerah tersebut masih fokus pada pembangunan drainase. “Saat ini kami masih review, sebulan lagi mungkin baru jelas, katanya, Rabu (9/1).

Ditanya soal penataan di kawasan Kridosono, Umi mengaku belum dapat berbicara banyak. Pasalnya hal tersebut bukanlah wewenangnya. Kendati demikian, dia memastikan penataan ini selain memberikan alternatif wisata bagi warga atau pengunjung Jogja, juga untuk memberikan fasilitas yang layak bagi setiap pejalan kaki.

“Dari sekian jalan yang diwacanakan menjadi pedestrian, paling maksimal Suroto. Karena Jogja kota yang kecil. Jadi tidak semua bisa seideal Suroto. Di kota lain, seperti Surabaya, pedestrian itu juga ada di beberapa kawasan, belum menyeluruh di setiap jalan,” katanya.

Jika selama ini banyak yang mengeluhkan mengenai trotoar yang tak ramah untuk penyandang disablitas, Umi menuturkan hal tersebut kian diminimkan. Selain dilengkapi guiding block, sudut turunan antartrotoar tidak terlalu terasa. Bahkan Umi berkelakar, jika ada semut yang melintas pun, semut itu tidak akan tergelincir sehingga aman bagi setiap orang, termasuk difabel, orang tua maupun anak-anak.

Saat Harian Jogja melintasi area ini, sejumlah orang sudah memanfaatkan. Ada yang memilih sekadar berjalan-jalan atau bersantai bersama rekan. Hawa sejuk memang belum begitu terasa di kawasan ini. Sebab pohon-pohon tanjung yang ditanam sebagian ditebang karena sudah mati oleh ulah benalu. Namun, Umi mengatakan sebentar lagi pohon-pohon itu akan tumbuh sehingga suasana akan terasa berbeda.

Di beberapa ruas jalan yang memotong jalur tengah Suroto, terlihat pagar-pagar temporer berwarna oranye yang terbentang. Pagar ini dipasang untuk menghalangi pengemudi memotong jalan sehingga kemacetan di kawasan tersebut dapat diminimalkan.

Sayangnya, trotoar ini tak sepenuhnya dapat termanfaatkan sesuai peruntukan. Masih saja ada warga yang nekat memotong jalan menunggangi motor dengan melintasi sela-sela pot di sisi tengah pedestrian Suroto.

Umi menyampaikan pihaknya terus memberikan edukasi demi menyadarkan warga mengenai fungsi trotoar sepenuhnya. Di sisi lain, dia menekankan jika pedestrian ini merupakan fasilitas publik sehingga masyarakat diharapkan dapat ikut menjaga. Bahkan menegur jika terjadi hal-hal yang diluar peruntukan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Share

Mediani Dyah Natalia
Mediani Dyah Natalia Jurnalis Harian Jogja, bagian dari Bisnis Indonesia Group menulis untuk media cetak dan online