Penambak udang di Dusun Glagah, Desa Glagah, Temon, Kulonprogo sedang memanen udang pada Sabtu (26/1/2019). /Harian Jogja-Fahmi Ahmad Burhan.
Harianjogja.com, KULONPROGO--Penambak udang di Selatan Bandara New Yogyakarta International Airport (NYIA) sudah mendapatkan sosialisasi terkait pengosongan lahan tambak mereka karena dampak pembangunan Bandara NYIA. Penambak menginginkan usulan tempat baru untuk menambak di Pantai Trisik, Desa Banaran, Kecamatan Galur, Kulonprogo bisa terealisasi.
Penambak Udang di Dusun Glagah, Desa Glagah, Temon, Supangadi mengatakan pihaknya sudah mendapatkan sosialisasi dari Pemkab Kulonprogo terkait pengosongan lahan tambak di Maret 2019 nanti. "Kami sudah persiapkan, tapi sebelumnya kami akan pastikan dulu seperti apa informasinya," kata Supangadi pada Harian Jogja, Sabtu (26/1/2019).
Ia mengatakan dalam sosialisasi yang diberikan oleh Pemkab, tidak ditawarkan fasilitas lebih lanjut terkait tempat menambak udang baru. "Hanya diminta dikosongkan saja," ujarnya.
Pihaknya berharap Pemkab Kulonprogo bisa memberikan fasilitas lahan baru bagi para penambak yang akan dikosongkan. Tambak di Selatan Bandara NYIA ada sekitar 300 kolam memanjang dari Pantai Congot sampai Pantai Glagah.
Supangadi mengaku sebelum rencana pengosongan di Maret tahun ini, pada 2018 lalu juga, sekitar 1.000 kolam tambak juga terkena dampak pembangunan NYIA. Menurutnya, sebagian penambak yang terkena dampak pembangunan NYIA memilih untuk tidak menambak udang lagi, meski ada juga yang pindah tempat menambak.
Ketika akan dipindah ke lokasi baru, kata dia, butuh biaya yang tidak sedikit juga. Namun, ia berharap dan akan mempersiapkannya apabila ada lokasi baru yang diusulkan Pemkab.
Salah satu penambak lainnya di Dusun Glagah, Desa Glagah, Temon, Kulonprogo Wiknyo mengatakan panen udang biasanya tiga bulan sekali. "Ada sebagian yang sudah panen, tidak mesti sama panennya. Tapi jarak antara tebar dan panen itu tiga bulanan," katanya.
Wiknyo akan mempersiapkan berbagai kebutuhan tambak apabila nantinya dilakukan pengosongan maupun pemindahan. Menurutnya biaya yang dibutuhkan dalam satu tambak bisa sampai Rp50 juta.
Sebelumnya, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Sudarna mengatakan, pengosongan pada lokasi tambak di Selatan Bandara NYIA itu karena dampak pembangunan wind barier dan sabuk hijau yang akan dibangun di awal Maret 2019. "Kami mulai sosialisasikan dari sekarang, agar penambak bisa mempersiapkan, mulai dari tebar benih atau kegiatan lainnya supaya menyesuaikan waktu," ujar Sudarna.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.