Astrid Widayani Raih Penghargaan Darma Bakti di Hari Pramuka ke-65
Astrid Widayani menerima Penghargaan Darma Bakti pada Hari Pramuka ke-65. Kwarcab Surakarta juga meraih Juara II Pembina Gudep Penegak Berprestasi.
Ilustrasi leptospirosis,/JIBI
Harianjogja.com, JOGJA--Kasus penyakit leptospirosis hingga akhir Januari lalu tercatat 11 suspek. Dinas Kesehatan (Dinkes) DIY meminta agar masyarakat tetap mewaspadai potensi penyebaran penyakit akibat kencing tikus ini karena potensi hujan masih tinggi.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DIY Berty Murtianingsih mengatakan data suspek Leptospirosis tersebut mengalami penurunan dibandingkan data tahun lalu pada periode yang sama sebanyak 18 kasus dan 2017 sebanyak 23 kasus.
"Munculnya kasus leptospirosis ini biasanya muncul saat seperti ini [musim hujan]," terangnya kepada Harian Jogja, Senin (11/2/2019).
Persebaran suspek Leptospirosis tersebut, katanya, potensial terjadi di wilayah-wilayah yang selama ini mengalami genangan air. Seperti area persawahan, aliran sungai dan daerah banjir. Meski begitu, katanya, masyarakat tidak perlu khawatir kalau selama melakukan aktivitas seperti membersihkan selokan menggunakan APD atau alat pelindung diri.
"Asal menggunakan APD seperti sepatu boot dan sarung tangan tidak perlu khawatir saat beraktivitas di sawah," katanya.
Keberadaan APD dinilai penting untuk melindungi diri dari luka akibat terkena duri atau benda lainnya saat beraktivitas. Sebab luka yang terjadi dikhawatirkan terkena kuman leptospira. Jika tidak menggunakan APD, luka tersebut harus segera dibersihkan. "Misalnya saat banjir, ada luka, pakai APD. Itu aman. Kuman ini hidup dari kencing tikus yang mengikuti aliran air," katanya.
Dibandingkan DBD, katanya, kematian kasus Leptospirosis lebih tinggi. Pada 2018, dari 186 kasus penyakit leptospirosis sebanyak 16 orang suspek meninggal dunia. Adapun tahun ini masih belum ada kasus suspek Leptospirosis yang meninggal dunia. "Angka kematian leptospirosis lebih tinggi DBD karena leptospirosis tidak memiliki tanda khusus, cepat menyebar ke seluruh tubuh bahkan menyerang ginjal. Ini berbeda dengan DBD, periksa darah cepat diketahui hasilnya. Kalau leptospirosis, karena bakteri hasil pemeriksaan lebih lama," katanya.
Kepala Dinkes DIY, Pembayun Setyaningastutie meminta warga untuk mewaspadai penyakit yang disebabkan oleh kencing tikus ini dengan memperhatikan gejala-gejalanya. jika terserang penyakit ini, di antaranya adalah demam dan manggigil, batuk, diare, muntah atau keduanya, sakit kepala, nyeri otot terutama di bagian punggung dan betis, ruam pada kulit, dan mata merah serta iritasi.
"Jika terlambat penanganannya bisa berdampak fatal. Kalau ditemukan gejala-gejala seperti di atas, harus segera ke fasilitas kesehatan. Jangan- tunda-tunda,” tegasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Astrid Widayani menerima Penghargaan Darma Bakti pada Hari Pramuka ke-65. Kwarcab Surakarta juga meraih Juara II Pembina Gudep Penegak Berprestasi.
Joan Mir meninggalkan Honda untuk bergabung dengan Gresini pada MotoGP 2027. Ia mengaku sempat berharap Honda kembali kompetitif.
Jadwal final bulu tangkis Asian Games 2026 menampilkan Amri/Nita dan Leo/Daniel. Simak jam, lawan, venue, dan siaran langsung.
Manchester City dinyatakan bersalah atas 114 dari 115 dakwaan. Ferran Soriano menegaskan proses hukum masih panjang dan klub akan melawan.
Discord mulai menerapkan verifikasi usia global. Lebih dari 90% pengguna tak perlu unggah ID, tetapi sejumlah fitur akan dibatasi.
Italia menang 4-1 atas Turki di UEFA Nations League. Pio Esposito mencetak gol sekaligus mengukir catatan sejarah bersama Azzurri.