Astrid Widayani Raih Penghargaan Darma Bakti di Hari Pramuka ke-65
Astrid Widayani menerima Penghargaan Darma Bakti pada Hari Pramuka ke-65. Kwarcab Surakarta juga meraih Juara II Pembina Gudep Penegak Berprestasi.
Kondisi rumah Suryanto yang jebol terkena material longsor. /Harian Jogja-Ujang Hasanudin
Harianjogja.com, JOGJA- Hujan lebat mengguyur wilayah DIY pada Rabu (6/3/2019) hingga Kamis (7/3/2019) dini hari menyebabkan sejumlah titik terendam banjir. Selain itu, tanah longsor juga terjadi di beberapa titik, terutama wilayah Gunungkidul.
Kepala Pelaksana BPBD DIY Biwara Yuswantara mengatakan bencana banjir dan tanah longsor terjadi di empat kecamatan di wilayah Gunungkidul meliputi Kecamatan Gedangsari, Semin, Ngawen dan Nglipar. Di Gedangsari, misalnya, luapan air sungai menyebabkan dua desa Hargomulyo dan Mertelu terendam banjir. Dilaporkan juga satu jembatan rusak dan sejumlah ternak milik warga ikut hanyut.
Sedangkan di Kecamatan Nglipar, luapan Sungai Oya menyebabkan banjir di Dusun Negung, Desa Katongan. Sebanyak sembilan kepala keluarga (KK) semoat diungsikan ke Balai Dusun Kedung, Desa Katongan.
"Saya tadi [kemarin] sudah meninjau ke lokasi [Gedangsari]. Luapan air sungai dan banjir di beberapa titik sudah surut. Langkah pertama yang dilakukan adalah assessment. Hingga kini kami masih lakukan pendataan dan evakuasi, belum mengetahui jumlah kerugiannya," katanya kepada Harian Jogja, Kamis [7/3/2019].
Biwara menjelaskan, selain banjir hujan yang turun sejak Rabu siang hingga Kamis dinihari juga berdampak pada tanah longsor di sejumlah titik. Di Kecamatan Gedangsari, tanah longsor merusak tiga ruas jalan penghubung antar-dusun dan dua unit rumah warga.
Tanah longsor di Kecamatan Nglipar menyebabkan sembilan KK atau 17 jiwa mengungsi karena rumahnya rusak. Warga diungsikan ke rumah milik salah seorang warga di Desa Natah, Nglipar.
Selain di Kabupaten Gunungkidul, tanah longsor juga terjadi di Desa Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo. Bencana menyebabkan 1 rumah warga rusak. Di Kota Jogja, longsor terjadi di Kelurahan Tegalrejo, Tegalrejo.
Terhadap potensi longsor tersebut, Biwara juga menemui warga di Gedangsari yang rumahnya berpotensi terkena longsoran. Sebab rumah tersebut berada di lereng yang tanahnya tidak stabil dan berpotensi longsor. Menurutnya, kebijakan untuk merelokasi rumah warga yang berpotensi terkena longsoran sepenuhnya berada ditangan pemerintah kabupaten.
"Saya tanyakan [ke warga] kalau memang membahayakan apakah mau untuk direlokasi? Warga terdampak setuju saja, manut sama aturan [kebijakan] asalkan aman," katanya.
Disinggung soal munculnya rekahan di wilayah Dusun Tonogoro, Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo, Biwara menjelaskan jika BPBD menggandeng UGM untuk melakukan penelitian terhadap potensi rekahan di wilayah Kulonprogo. Jika memang ada laporan terkait munculnya retakan tanah di lereng perbukitan Mereka tentu akan dilakukan upaya-upaya antisipasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Astrid Widayani menerima Penghargaan Darma Bakti pada Hari Pramuka ke-65. Kwarcab Surakarta juga meraih Juara II Pembina Gudep Penegak Berprestasi.
Kemensos mendorong transformasi Puskesos Sleman menjadi pusat layanan dan pemberdayaan sosial. Sumberejo dipilih sebagai lokasi percontohan.
Pemerintah menyiapkan SPP TDLN untuk memungut PPN transaksi digital luar negeri. Sistem tersebut kini memasuki tahap akhir sebelum beroperasi.
KPK menduga sejumlah Kantah di Jatim menyetor uang ke oknum Kanwil BPN Jatim setelah penyidik menemukan uang ratusan juta rupiah.
Blue fire muncul di Kawah Gunung Papandayan. Badan Geologi turun ke lapangan dan mengimbau warga tak beraktivitas dalam radius 500 meter.
Warga Sentolo, Kulonprogo, meninggal setelah masuk gorong-gorong untuk membersihkan sampah yang diduga menyumbat aliran air.