Ideologi Ekstrem Masuk Ruang Digital, Amir Mahmud Ingatkan Pentingnya Pancasila
Ideologi ekstrem menyasar ruang digital. Amir Mahmud menilai Pancasila, literasi, dialog dan ketahanan sosial penting menjaga persatuan bangsa.
Peserta Fashion Show Busana Adat Jawa memamerkan karyanya di Pendopo Universitas Widya Mataram, KT III/237, Jl. Dalem Mangkubumen, Kadipaten, Kraton Jogja, Sabtu (23/3/2019)./Harian Jogja-Abdul Hamid Razak
Harianjogja.com, JOGJA—Dinas Kebudayaan (Disbud) Jogja menggelar Fashion Show Busana Adat Jawa, Sabtu (23/3). Kegiatan tersebut merupakan kelanjutan dari lokakarya yang digelar selama dua hari sebelumnya.
Kabid Adat, Seni dan Tradisi Disbud Jogja Adi Murti Wulandari mengatakan fashion show tersebut sebagai media praktek bagi peserta lokakarya yang berasal oleh 14 kecamatan di Kota Jogja. Worskhop yang digelar sejak Kamis-Jumat (21-22/3/2019) tersebut mengangkat tema Revitalisasi Budaya Busana Adat.
"Mereka mempraktekkan materi yang sudah didapat bagaimana menampilkan busana adat Jawa yang benar," katanya seusai kegiatan di Pendopo Universitas Widya Mataram, Kraton, Jogja.
Menurut dia kegiatan tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman yang benar terhadap busana adat Jawa. Pasalnya selama ini pemahaman masyarakat atas busana adat semakin luntur, terutama dalam memahami pakemnya.
"Setelah fashion show ternyata masih ada yang perlu dievaluasi oleh juri. Masih ada kesalahan pemakaian busana adat yang tidak sesuai dengan pakem," ujar Wulan.
Perluas Kepesertaan
Untuk terus memberikan pemahaman kepada masyarakat dan menjaga kelestarian tradisi, Disbud akan terus menggelar workshop serupa. Bahkan tahun depan, katanya, Disbud akan lebih memperluas kepesertaan.
Dari sebelumnya hanya lingkup kecamatan ke lingkup kelurahaan. "Tahun depan peserta kami minta dari masing-masing kelurahan agar upaya menjaga kelestarian tradisi bisa lebih luas. Kami akan terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait busana adat jawa ini," katanya.
Selama fashion show, hasil penataan busana adat peserta dinilai oleh Prof. Suwardi Endraswara dan Prof. Suwarna dari UNY serta dosen ISI Jogja, Sri Hanjati.
Hanjati menilai selama penilaian fashion show masih banyak hasil busana adat yang perlu diperbaiki. Banyak yang masih belum sesuai dengan pakem. Padahal busana adat Jawa untuk Jogja memiliki pakem sendiri dan tidak boleh dilanggar. Dia berharap agar warga Jogja bisa bangga mengenakan pakaian adat Jawa sesuai pakem yang ada.
"Setiap peserta ada kekurangan. Kami berharap kalau bisa pesertanya lebih luas lagi ke tingkat kelurahan. Termasuk tema yang diangkat, jangan hanya busana adat. Upacara adat juga perlu diedukasi agar sesuai dengan pakem yang ada," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ideologi ekstrem menyasar ruang digital. Amir Mahmud menilai Pancasila, literasi, dialog dan ketahanan sosial penting menjaga persatuan bangsa.
Kim Jong Un meminta Korea Utara mempercepat pengembangan senjata nirawak berbasis AI untuk meningkatkan kemampuan tempur dan modernisasi militer
Bulog Semarang memastikan stok beras 81.600 ton cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat hingga lima bulan, termasuk saat Natal dan Tahun Baru.
Paguyuban Dukuh Sleman meminta siltap Rp2,9 juta per bulan dipertahankan dan menyampaikan dua usulan lain terkait pembangunan serta tunjangan purna tugas.
BPBD Bantul meminta FPRB di seluruh wilayah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi pancaroba dan potensi pohon tumbang akibat angin kencang.
Menyambut libur akhir pekan Oktober 2026, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BNI) memastikan kebutuhan transaksi perbankan masyarakat di JJateng dan DIY