Kasus Bertambah, Cek Data Covid-19 di DIY 18 Maret
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Ilustrasi pohon kakao/Harian Jogja-Salsabila Annisa Azmi
Harianjogja.com, KULONPROGO—Produksi kakao di Kulonprogo hanya mampu dijual langsung dan belum bisa diolah secara maksimal. Di Kalibawang yang menjadi sentra tanaman kakao, hanya ada satu rumah produksi saja yang mampu mengolah kakao menjadi beragam produk olahan.
Petani kakao di Dusun Slanden, Desa Banjaroya, Kalibawang, Johan Salbiantoro, yang juga sebagai Sekretaris Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Kalibawang, mengatakan produksi kakao di Kalibawang cukup tinggi.
Kualitasnya pun dianggap bisa bersaing dengan kakao lainnya di luar Kulonprogo. “Terkadang ada dari Prancis dan Korea yang mengambil sampel kakao dari Kulonprogo, nantinya di sana [Prancis dan Korea] diolah lagi,” ujarnya kepada Harian Jogja, Jumat (26/4/2019).
Setiap panen dia memisahkan antara kakao yang mempunyai kualitas bagus dan kualitas yang ada di bawahnya. Ketika kualitasnya sedang tidak bagus, Johan hanya menjual kakao di pasar lokal saja. Di kelompok taninya, dalam sepekan bisa terkumpul sampai 80 kilogram kakao yang siap dipasarkan.
Harga kakao ketika sedang dalam kualitas bagus bisa terjual sampai Rp40.000 per kilogram. Apabila kualitas kakao sedang tidak bagus maka hanya terjual Rp25.000 per kilogram. “Biasanya kalau saat musim hujan, buah kakao kualitasnya tidak bagus, banyak juga terserang hama, produksinya juga turun. Kalau produksi baik itu di Juni sampai Oktober,” ucap Johan.
Menurut dia, produksi kakao Kulonprogo sangat potensial untuk dikembangkan namun sejauh ini belum banyak rumah produksi yang mengolah lagi kakaonya di Kulonprogo. "Di Kalibawang ini sentranya tanaman kakao tetapi rumah produksinya paling hanya satu saja,” kata Johan.
Kelompok Wanita Tani (KWT) Pawon Gendis merupakan rumah produksi cokelat di Kalibawang yang mengolah kakao asli Kalibawang menjadi cokelat. Ketua KWT Pawon Gendis, Dwi Martuti Rahayu, mengatakan dengan mengolahnya menjadi cokelat, ia mendapatkan nilai tambah.
Dalam sebulan dia membutuhkan kakao dari petani sampai 70 kilogram. Sementara, omzet bisa ia dapatkan dalam sebulannya sampai Rp10 juta. Namun, dalam mengembangkan produk kakao itu, harus ada inovasi agar punya pangsa pasar tersendiri.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Kasus Covid-19 di DIY kembali melonjak. Pada Kamis (18/3/2021), gugus tugas setempat melaporkan penambahan kasus baru sebanyak 257.
Kemlu RI mengonfirmasi tujuh WNI tewas akibat kapal tenggelam di Pulau Pangkor, Malaysia. Tujuh korban lainnya masih dicari.
Pemerintah menyiapkan aturan KPR tenor 40 tahun agar cicilan rumah lebih ringan dan akses rumah murah semakin mudah dijangkau masyarakat.
Bahlil Lahadalia mengaku sudah menjelaskan aturan baru harga patokan mineral kepada investor dan Kedubes China di tengah kekhawatiran regulasi tambang.
DPRD DIY menyoroti indikator kinerja daerah yang baru 40 persen meski ekonomi DIY tumbuh dan angka kemiskinan menurun.
Maskapai penerbangan Eropa mulai memangkas penerbangan akibat lonjakan harga bahan bakar jet yang membuat sejumlah rute tidak lagi menguntungkan.