Data Desil Bansos Kulonprogo Carut Marut, Aduan Warga Muncul Tiap Hari
Data desil bansos di Kulonprogo kerap berubah. Pendamping PKH menjelaskan mekanisme pemutakhiran data dan proses Musyawarah Kalurahan.
Ilustrasi pemuda. Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Upaya membentengi pelajar dari berbagai perilaku menyimpang terus diperkuat Pemerintah Kabupaten Kulonprogo. Melalui program Kesbangpol Goes to School, sebanyak 46 satuan pendidikan di Kabupaten Kulonprogo menjadi sasaran penguatan wawasan kebangsaan dan pencegahan kenakalan remaja yang berpotensi berujung pada tindak pidana di ruang publik.
Program yang dilaksanakan bertepatan dengan upacara bendera pada Senin (20/7/2026) itu tidak hanya menyasar siswa SMP dan SMA/SMK sederajat, tetapi juga melibatkan langsung para pimpinan daerah sebagai pembina upacara untuk menyampaikan pesan-pesan penting terkait disiplin, keselamatan, dan budaya sekolah yang kondusif.
Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kulonprogo, Pratiwi Ngasaratun, mengatakan program Kesbangpol Goes to School merupakan tindak lanjut dari Instruksi Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Nomor 8512 Tahun 2026 tentang Penanganan Kenakalan Anak Usia Sekolah yang Berujung pada Tindak Pidana di Ruang Publik serta Surat Keputusan Bupati Kulonprogo Nomor 270/A/2026.
Pada pelaksanaannya, Bupati dan Wakil Bupati Kulonprogo, Ketua DPRD Kulonprogo, kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), hingga panewu dilibatkan sebagai pembina upacara di sejumlah sekolah.
Pratiwi menjelaskan, program tersebut telah berjalan secara rutin sejak akhir 2025 dengan menyasar dua SMA/SMK/MAN maupun SMP/MTs setiap bulan. Kehadiran langsung para pemimpin daerah diharapkan mampu memberikan pesan yang lebih kuat kepada para pelajar mengenai pentingnya nasionalisme dan pencegahan perilaku menyimpang.
"Kegiatan Kesbangpol Goes to School menyasar dua SMA/SMK/MAN maupun SMP/MTs setiap bulan sejak akhir 2025 yang lalu. Melalui kehadiran langsung para pemimpin daerah, kami berharap pesan-pesan penguatan nasionalisme, cinta tanah air, dan upaya pencegahan kenakalan remaja lebih menyentuh dan membekas di kalangan siswa," ungkap Pratiwi kepada wartawan, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, program tersebut juga menjadi sarana untuk memperkuat wawasan kebangsaan sekaligus meningkatkan kewaspadaan pelajar terhadap berbagai ancaman yang kini semakin dekat dengan kehidupan remaja, mulai dari radikalisme, judi online, perundungan (bullying), hingga tawuran pelajar.
Selain itu, Kesbangpol Kulonprogo berharap budaya sekolah yang aman, nyaman, dan kondusif dapat terus terbangun melalui keterlibatan seluruh elemen pendidikan dan keluarga.
"Harapan kami ingin membentengi pelajar Kulonprogo dari tindakan negatif yang berujung pada kriminalitas," jelas Pratiwi.
Dalam pelaksanaan upacara bendera, Bupati Kulonprogo Agung Setyawan bertindak sebagai pembina upacara di SMK Negeri 1 Pengasih, sedangkan Wakil Bupati Kulonprogo Ambar Purwoko menjadi pembina upacara di SMK Ma'arif 1 Nanggulan.
Saat memimpin upacara di SMK Negeri 1 Pengasih, Agung Setyawan menegaskan bahwa perilaku negatif pada anak tidak muncul secara tiba-tiba. Menurutnya, perubahan perilaku sering kali diawali dari pembiaran terhadap hal-hal yang dianggap sepele di lingkungan terdekat, terutama keluarga dan sekolah.
Ia mencontohkan kebiasaan membiarkan kendaraan anak tidak sesuai standar, seperti penggunaan satu spion atau modifikasi knalpot, dapat menjadi awal dari pengabaian terhadap aturan. Hal serupa juga berlaku di lingkungan sekolah ketika pelanggaran tata tertib dibiarkan tanpa pembinaan.
"Perubahan perilaku anak berawal dari pembiaran di lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Misalnya membiarkan spion motor anak hanya satu, ban dipasang tidak standar, atau knalpot diubah. Begitu juga di sekolah, jika anak membiarkan bajunya keluar atau menggunakan sepatu yang tidak sesuai aturan tanpa alasan sah, itu bentuk pembangkangan awal yang harus diluruskan," tegas Agung Setyawan.
Melalui program Kesbangpol Goes to School, Pemerintah Kabupaten Kulonprogo berharap pencegahan kenakalan remaja tidak hanya dilakukan ketika permasalahan muncul, tetapi dimulai sejak dini melalui pembinaan karakter, penguatan disiplin, serta sinergi antara keluarga, sekolah, dan pemerintah. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman sekaligus mengurangi potensi pelajar terlibat dalam berbagai tindakan yang merugikan diri sendiri maupun masyarakat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Data desil bansos di Kulonprogo kerap berubah. Pendamping PKH menjelaskan mekanisme pemutakhiran data dan proses Musyawarah Kalurahan.
Dewan Pendidikan Nasional mengingatkan orang tua tak perlu memaksa anak ikut bimbel karena TKA bukan penentu kelulusan.
Lipstik Lipsing kembali setelah 16 tahun hiatus. Penampilan di Candi Prambanan menghidupkan nostalgia penggemar lewat lagu-lagu legendaris mereka.
ASN Pemkot Jogja kini bisa mengajukan cuti, termasuk cuti darurat, lewat JSS. Verifikasi hingga persetujuan dilakukan secara elektronik.
DPR menyoroti cost recovery 2027 yang naik menjadi US$10,1 miliar saat lifting migas masih turun dan realisasi di bawah target.
Dugaan keracunan MBG di Turi, Sleman, membuat sekitar 70 siswa mendapat penanganan. Biaya rawat inap akan ditanggung BGN atau SPPG.