Ekspor Wig Kulonprogo Melonjak 57 Persen di Tengah Gejolak Global
Ekspor Kulonprogo menunjukkan tren positif pada semester I 2026. Ekspor wig naik 57 persen, sementara gula semut tetap menjadi komoditas unggulan yang diburu.
Foto ilustrasi sakit perut/keracunan. - Freepik
Harianjogja.com, KULONPROGO—Kasus dugaan keracunan massal yang diduga berasal dari makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kulonprogo semakin menjadi perhatian. Jumlah warga yang mengalami gejala gangguan kesehatan kini mencapai 105 orang dan tidak hanya berasal dari kalangan pelajar, tetapi juga menyentuh kelompok rentan seperti ibu hamil dan ibu menyusui.
Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kulonprogo menunjukkan angka tersebut berasal dari hasil surveilans terhadap 786 penerima manfaat MBG yang dilayani oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangwuni. Dari total korban yang tercatat, sebanyak 98 orang merupakan siswa, empat orang tenaga pendidik dan kependidikan, satu ibu hamil, serta dua ibu menyusui.
Kepala Dinkes Kulonprogo, Susilaningsih, menjelaskan tingkat serangan atau attack rate kasus ini mencapai sekitar 13,5 persen. Menurutnya, dampak kejadian tidak hanya dirasakan di lingkungan sekolah karena cakupan layanan SPPG juga menjangkau kelompok ibu hamil, ibu menyusui, balita, hingga peserta posyandu.
“SPPG ini melayani kelompok 3B, yaitu ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan anak sekolah. Karena itu dampaknya tidak hanya muncul di sekolah, tetapi juga sampai ke masyarakat yang menerima layanan melalui posyandu,” ujar Susilaningsih di Wates, Rabu (22/7/2026).
Sebaran kasus ditemukan di sejumlah lokasi. SMP Negeri 3 Wates menjadi wilayah dengan jumlah korban terbanyak, yakni 98 siswa. Selain itu terdapat dua siswa dan dua tenaga pendidik di SD Negeri Darat, satu tenaga pendidik di SD Negeri Sogan, serta satu siswa dari MI Ma’arif. Sementara itu, kasus pada kelompok masyarakat tercatat di Posyandu Anggrek Karanganyar dan Posyandu Marsudisiwi Kebon Karangwuni yang melibatkan dua ibu menyusui dan satu ibu hamil.
Meski demikian, Dinkes menyebut sebagian besar gejala yang muncul masih tergolong ringan dan dapat ditangani dengan cepat apabila korban segera mendapatkan pertolongan medis.
“Dari laporan yang masuk, gejalanya tidak berat. Untuk ibu hamil juga masih kami dalami usia kehamilannya. Semoga jika nyeri perut yang dialami tidak berlebihan dan usia kehamilan sudah memasuki trimester kedua, tidak memicu kontraksi,” kata Susilaningsih.
Hasil analisis kesehatan menunjukkan nyeri perut menjadi gejala yang paling banyak dikeluhkan dengan persentase mencapai 78 persen. Keluhan lain yang dominan adalah diare sebesar 69 persen, disusul pusing dan mual sekitar 40 persen.
Tim epidemiologi Dinkes juga mencatat masa inkubasi rata-rata sekitar 14 jam 15 menit setelah makanan dikonsumsi. Masa inkubasi tercepat tercatat empat jam, sedangkan yang terlama mencapai 32 jam 45 menit.
Di tengah bertambahnya jumlah korban, Dinkes Kulonprogo melakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE) untuk menelusuri sumber kontaminasi. Fokus pemeriksaan diarahkan pada dapur SPPG Karangwuni yang memasok menu ayam saus barbeque, tahu goreng bawang, dan cah pakcoy.
Dari hasil investigasi awal, petugas menemukan sejumlah faktor yang dinilai berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi pangan. Salah satunya berdasarkan rekaman CCTV yang menunjukkan penjamah makanan tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai standar saat proses pengolahan berlangsung.
Selain itu, terdapat temuan terkait penanganan bahan baku ayam dalam jumlah besar. Sebanyak 249 kilogram ayam diterima pada Minggu malam (19/7/2026) sekitar pukul 18.45 hingga 20.00 WIB. Namun proses memasak baru dimulai sekitar pukul 02.00 WIB dan berlangsung selama 45 menit dalam empat kloter. Makanan tersebut kemudian dikonsumsi penerima manfaat pada pukul 08.00 hingga 10.00 WIB.
Menurut Dinkes, rentang waktu yang cukup panjang antara penerimaan bahan, proses pengolahan, hingga konsumsi berpotensi menjadi titik kritis keamanan pangan, terlebih tidak ditemukan pelabelan waktu penyimpanan maupun informasi kedaluwarsa makanan.
Investigasi juga menghadapi kendala karena tidak tersedianya bank sampel makanan dalam jumlah memadai. Padahal penyedia layanan diwajibkan menyimpan minimal satu porsi utuh makanan di dalam freezer sebagai sampel pembanding apabila terjadi kejadian luar biasa atau dugaan keracunan.
“Sampel yang tersedia sangat sedikit. Meski demikian, sampel tetap kami kirim ke laboratorium untuk dilakukan pemeriksaan dan saat ini masih menunggu hasil resmi,” ujar Susilaningsih.
Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi (KPPG) Sleman, Harsono Budi Waluyo, menyatakan operasional SPPG Karangwuni telah dihentikan sementara sebagai langkah pencegahan. Penghentian dilakukan sampai seluruh proses investigasi dan pemeriksaan selesai.
Menurut Harsono, keselamatan penerima manfaat menjadi prioritas utama sehingga penghentian sementara operasional merupakan prosedur standar yang harus ditempuh ketika muncul dugaan kejadian yang berkaitan dengan keamanan pangan.
“Kami menyampaikan keprihatinan atas adanya dugaan kejadian tersebut. Operasional SPPG dihentikan sementara sebagai langkah preventif sambil menunggu hasil investigasi,” katanya.
Saat ini KPPG Sleman bersama Badan Gizi Nasional masih berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan, Puskesmas, rumah sakit, Balai POM, pemerintah daerah, dan berbagai pihak terkait. Langkah yang dilakukan mencakup pendampingan korban, pengujian sampel makanan, bahan baku dan air, pemeriksaan proses produksi serta distribusi makanan, hingga evaluasi menyeluruh terhadap penerapan higiene sanitasi dan kepatuhan terhadap standar operasional prosedur sebelum layanan dapat kembali dibuka.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Ekspor Kulonprogo menunjukkan tren positif pada semester I 2026. Ekspor wig naik 57 persen, sementara gula semut tetap menjadi komoditas unggulan yang diburu.
Emergency kit mobil dapat membantu pengemudi menghadapi kondisi darurat seperti ban bocor, aki tekor, atau kendaraan mogok. Simak daftar perlengkapan yang wajib
Gunungkidul dipastikan tidak memberangkatkan peserta transmigrasi pada 2026 karena minimnya kuota yang diterima DIY. Padahal, masih ada sekitar 30 kepala keluar
Media Vietnam The Thao 247 menyoroti kemenangan Timnas Indonesia 3-0 atas Bali United. Hasil tersebut dinilai menjadi sinyal kesiapan skuad Garuda menghadapi Pi
Survei Ipsos menunjukkan 75 persen masyarakat Indonesia menilai negaranya berada di jalur yang benar. Angka tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara paling
Pemerintah menyiapkan perluasan dana BPDP untuk kakao guna meningkatkan produktivitas dan mengembalikan kejayaan kakao Indonesia.