Advertisement

Kami Bekerja Tak Digaji

Bhekti Suryani
Kamis, 03 Januari 2013 - 21:14 WIB
Laila Rochmatin
Kami Bekerja Tak Digaji

Advertisement

http://www.harianjogja.com/baca/2013/01/03/kami-bekerja-tak-digaji-364390/pencarian-korban-laka-laut-2" rel="attachment wp-att-364391">http://images.harianjogja.com/2013/01/070311_BANTUL_Pencarian-Korban-laka-laut_sur-11-370x246.jpg" alt="" width="370" height="246" />JOGJA -- Pekerjaan satu ini kadang harus mempertaruhkan nyawa. Menyusuri belantara pegunungan, berkejaran dengan awan panas gunung berapi atau melawan ombak demi menyelamatkan nyawa banyak orang. Berbagai tantangan itu digeluti para pegiat Search and Rescue (SAR) DIY. Tapi siapa menyangka, meski nyawa sebagai taruhan orang-orang hebat itu kebanyakan bekerja tanpa digaji.

Membayangkan tim SAR menjaga 19 titik pantai DIY dengan peralatan serba lengkap, menerima bayaran sebesar Upah Minimum Kabupaten (UMK), tak pernah terlintas di benak Brotoseno, Komandan SAR DIY. Sebab selama ini, aktivis SAR terbiasa bekerja mandiri tanpa mendapat bayaran dari pemerintah atau siapa pun.

Advertisement

Ia sendiri kendati berlatar pengusaha tak akan mampu bila harus menggaji sekitar 850 anggota SAR yang ada di bawah komandonya. Jangankan menerima upah, kadang timnya harus merogoh kocek dalam-dalam kalau ada bencana. Seperti saat letusan Merapi, dalam sehari, minimal uang Rp5 juta harus keluar untuk operasional SAR. “Semuanya mandiri, kalau ada kejadian meluncur ke lokasi. Siapa yang mau bayar,” tegas Brotoseno saat disambangi Kamis (3/1/2013) di kediamannya di bilangan Monjali, Sleman.

Saat ini tim-nya boleh saja memegang banyak peralatan seperti alat komunikasi Handy Talky (HT) atau perahu karet, namun itu berkat sumbangan para dermawan yang dikumpulkan bertahun-tahun. Kebanyakan bukan dari pemerintah. Memang ada bantuan dari pemerintah seperti kapal cepat untuk mencari korban kecelakaan laut namun jumlahnya tak seberapa.

Pada 2005, awal ia menjabat Komandan SAR, perlatan yang ada hanya sebuah HT tak ada yang lain. “Dulu hanya ada satu HT, mau bicara sama siapa kalau cuma satu, sama demit. Tapi sekarang sudah banyak, masing-masing sudah ada. Itu karena sumbangan, termasuk dari Djoko Santoso waktu jadi Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) karena saya temanan sama beliau,” ungkapnya.

Kondisi di atas memang tak sebanding dengan tanggungjawab yang ditangani. Menjaga sekitar 19 titik pantai DIY dari Gunungkidul hingga Kulonprogo, belum lagi Gunung Merapi yang rutin erupsi. Tapi para aktivis SAR menurutnya, tak pernah mengeluh. Karena prinsip masuk ke dunia ini adalah keikhlasan dan kebanggan untuk menolong sesama. Latar belakang pegiat SAR juga beragam, kebanyakan kalangan menengah ke bawah.

“Banyaknya menengah ke bawah, tapi mereka ikhlas. Ada yang tukang batu, office boy (OB) di tempat saya juga ada yang jadi relawan,” tuturnya.

Di DIY tercatat ada sekitar 850 anggota SAR yang terdiri dari berbagai gabungan lembaga SAR. Seperti SAR Badan Perlindungan Masyarakat (Linmas), SAR Pendamping dan lainnya. Sekitar 350 di antarnya merupakan bagian dari SAR Linmas yang masih beruntung karena mendapat gaji sekitar Rp300.000 per bulan. “Kebanyakan tidak digaji karena bukan SAR Linmas, yang dibayar saja hanya sekitar Rp300.000, katanya upah harus sesuai UMK, tapi kenyataanya jauh dari itu,” lanjutnya.

Brotoseno sendiri mengaku tak mengharapkan ada kucuran dana dari APBN atau APBD untuk membayar tenaga SAR, cukup pemerintah daerah ikut bersinergi. Misalnya berkomunikasi secara intens dengan mereka, menyediakan peralatan yang lengkap seperti pos di 19 titik pantai, peralatan komunikasi, ambulan, perahu untuk pencarian dan peralatan lainnya, agar kerja SAR DIY maksimal.

Ini sebagai upaya menekan angka kecelakaan di  berbagai objek wisata yang belakangan marak. Sebab sepanjang libur Natal dan tahun baru lalu saja, pihaknya mencatat sudah tujuh nyawa wisatawan melayang akibat kecelakaan, baik laut maupun gunung serta satu lagi hilang di laut belum diketemukan.

“Kalau peralatan lengkap, dan ada pos di 19 titik, pertolongan bisa lebih cepat. Ini nggak, kejadian di pantai B masih menunggu peralatan datang dari pantai A,” kritiknya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Berita Pilihan

Advertisement

Target Pajak 11 Persen, Kemenkeu Hadapi Tantangan Global

Target Pajak 11 Persen, Kemenkeu Hadapi Tantangan Global

News
| Jum'at, 17 April 2026, 09:57 WIB

Advertisement

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Tiket

Wisata
| Selasa, 14 April 2026, 21:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement