PROSTITUSI TERSELUBUNG REMAJA : Sinyal Merah dari Gunung Kapur

Foto Ilustrasi razia PSK (JIBI/Harian Jogja - Reuters)
17 Juni 2013 10:53 WIB Gunungkidul Share :

[caption id="attachment_416495" align="alignleft" width="370"]http://www.harianjogja.com/baca/2013/06/17/prostitusi-terselubung-remaja-sinyal-merah-dari-gunung-kapur-416494/prostitusi-ilustrasi-reuters" rel="attachment wp-att-416495">http://images.harianjogja.com/2013/06/PROSTITUSI-ILUSTRASI-reuters-370x244.jpg" alt="" width="370" height="244" /> Foto Ilustrasi Prostitusi
JIBI/Harian Jogja/Reuters[/caption]

Prostitusi terselubung yang melibatkan anak-anak muda ada di mana-mana. Termasuk di Kabupaten Gunungkidul. Jalan KH Agus Salim belum sunyi. Kehidupan di salah satu jalan utama di Kota Wonosari itu masih berjalan meski jam sudah melewati angka 22.00 WIB.

Di sebuah warung angkringan yang ada di jalan tersebut, beberapa laki-laki duduk santai menunggu rasa kantuk datang untuk kemudian pulang dan tidur. Dua wanita juga tampak ada di sana. Satu berperawakan mungil dengan kulit putih bersih, satu lagi berperawakan gemuk. Usia mereka sekitar 18-19 tahun. Wanita yang bertubuh gemuk ini beberapa kali menerima panggilan melalui telepon selularnya.

Tidak berselang lama, dua sepeda motor datang dan berhenti sekitar lima meter dari angkringan tersebut. Kedua wanita tersebut langsung berdiri dan menghampiri dua laki-laki yang masih duduk di atas motornya masing-masing.

Karena jarak yang tidak jauh, Harian Jogja yang kebetulan berada di warung tersebut dengan jelas bisa menguping apa yang mereka bicarakan.

”Ini Nita, cantik kan?” kata wanita gemuk tersebut kepada orang yang ditemuinya. Mereka pun bersalam-salaman.

”Tapi masa Rp500.000. Kemahalan,” kata salah satu laki-laki tersebut.

”Ya enggak lah. Memang segitu tarifnya. Malah yang Rp1,5 juta juga ada. Kalau mau yang murah saya ada yang lain. Tetapi tidak bisa malam ini,” wanita gemuk dengan celana jins dan Tshirt merah itu menjawab. Orang-orang yang duduk di dalam warung mulai senyum-senyum tanggap apa yang terjadi.

”Dodolan [jualan],” seloroh seseorang yang ada di tempat itu sambil senyum.
Pembicaraan dua wanita dengan tamunya itu terus mengalir. Bahkan kian berani. Kata-kata vulgar bahkan jorok diucapkan dengan nada keras.

Entah apa yang terjadi, kedua laki-laki itu kemudian pergi. Sementara dua wanita kembali ke warung, menyelesaikan pembayaran dan kemudian juga pergi. Harian Jogja pun mencoba mengejarnya

”Boleh tanya-tanya tidak?” tanya Harian Jogja ketika kedua wanita itu sudah duduk di atas sepeda motornya. Akhirnya pembicaraan seputar wanita panggilan pun terjadi.

Dian, sebut saja demikian, wanita yang bertubuh gendut itu pun dengan terbuka menawarkan banyak pilihan wanita yang bisa di-booking. Usianya rata-rata masih di bawah 20 tahun. ”Yang SMA juga ada. Tinggal pesen lewat saya,” katanya.

Tarifnya? Bervariasi. ”Ada yang Rp250.000 tetapi ada juga yang sampai Rp1 juta. Tidak termasuk tempat. Hotel bayar sendiri,” katanya sambil tertawa.

Ketika ditanya kenapa dua laki-laki tadi tidak jadi mem-booking Nita, temannya yang dia bawa. Menurutnya karena tidak ada kesepekatan harga. ”Dia nawarnya Rp250.000. Nisanya tidak mau ya sudah. Saya kan tidak memaksa. Ya, kan Nit?”
Nita yang duduk di jok motor belakang hanya tersenyum simpul. Gadis ini memang terlihat pendiam. Beberapa kali ditanya hanya senyum saja jawabannya.

Dian mengaku sudah sekitar satu tahun menjadi ”mami” bagi teman-temannya sendiri. ”Saya kan jelek siapa juga yang mau, jadi mending jadi penyalur saja. Ha ha ha..” tertawanya begitu keras.

Obrolan tidak berjalan lama. Mereka mulai curiga karena Harian Jogja terus bertanya banyak hal. Keduanya melesat ke arah barat dengan sepeda motornya.

Di tengah cap kota tertinggal, ternyata kehidupan anak muda di wilayah ini tidak kalah parah dengan kota. Seks bebas, dan pelacuran marak terjadi. Namun semuanya dilakukan dengan sistem jaringan yang sangat tertutup. Seseorang yang hendak membooking harus melalui penghubung. ”Kalau langsung ke orangnya sangat sulit,” kata Anto salah seorang warga Wonosari.

Dia mengisahkan suatu saat dia mengontak seorang wanita panggilan muda. Nomor itu dia dapat dari temannya yang pernah membooking wanita tersebut. Tetapi saat dihubungi wanita itu berkilah bisa diajak kencan.

”Setelah itu saya coba telepon lagi. Nomornya sudah mati. Jadi memang harus lewat penyalur. Dan katanya penyalur itu ya hanya temannya sendiri,” terangnya.
Jika benar yang dikatakan Anto tersebut, maka kasus Dian dan Nita menjadi gambaran.

Dian sebagai penyalur dan Nita sebagai wanita panggilan. Wajar, saat ditanya Nita lebih banyak diam. Dengan sistem jaringan ini pula, maka para wanita panggilan itu tidak akan ditemui dengan mudah di tempat terbuka. ”Mereka masih muda-muda. Bahkan banyak yang masih sekolah SMA,” katanya lagi.

Maraknya prostitusi di Gunungkidul juga dapat terlihat dalam penjuakan kondom. Bahkan salah satu apotek terpaksa membatasi penjualan karena konsumen alat kontrasepsi itu kebanyakan anak di bawah umur.

Apotek Simpang Empat Budegan, Piyaman, Wonosari sejak sebulan terakhir membatasi penjualan. “Sekarang kami lihat-lihat dulu. Kalau orangnya kelihatan masih muda atau kelihatan masih anak sekolah kami bilang tidak ada atau habis" ucap salah satu karyawan apotek.

Sebulan terakhir, apotik tersebut hanya menjual tidak lebih dari 3-4 bungkus saja. “Kalau sebelum-sebelumnya memang laku keras,” katanya.

Kabar maraknya pelacuran terselubung di Gunungkidul sepertinya tak bisa dipungkiri lagi. Hal ini ibarat sebuah sinyal merah yang harus ditanggapi secara cepat dan bijaksana.