Dagelan Mataram, Mati & Sulit Kembali...

08 September 2013 05:00 WIB Jogja Share :

[caption id="attachment_445312" align="alignleft" width="450"]http://www.harianjogja.com/?attachment_id=445312" rel="attachment wp-att-445312">http://images.harianjogja.com/2013/09/dagelan-antara-foto.jpeg" alt="" width="450" height="257" /> Foto ilustrasi pentas dagelan. (JIBI/Harian Jogja/Antara)[/caption]

Betapa bahagia menjadi warga Jogja yang hidup di era Basiyo dan Dagelan Mataram. Bisa menonton lawakan yang bisa bikin tertawa lepas. Penat pun hilang. Tapi sekarang, hampir tidak ada tontonan yang bisa membuat penonton tertawa terbahak-bahak.

Jika pun ada hanya satu dua kali dalam setahun. Itu pun dengan tiket berharga mahal. Akankah lawakan ala Dagelan Mataram kembali lahir? Berikut laporan wartawan Harian Jogja Kurniyanto.

“Niki jam sing istimewa, sakplek le kulo tuku mboten tau nglanggar jam sepuluh , jam sanga terus…”

Bagi para pecinta Dagelan Mataram tentu tidak asing dengan kalimat di atas. Itulah penggalan adegan Basiyo Mbecak. Bagi masyarakat yang hidup di era 1970-1980-an tidak asing dengan tontonan yang penuh dengan banyolan ini.
Saat itu, sosok Basiyo dan Dagelan Mataram memang sangat fenomenal.
Gaungnya tidak hanya santer di Jogja, tapi juga Jawa Tengah. Menikmati kopi panas dan pisang goreng menjadi semakin nikmat manakala mendengarkan banyolan Basiyo dari radio.

Setiap Basiyo pentas hampir pasti ratusan orang tidak tua, muda pasti menyaksikan. Bahkan euforia Basiyo tidak hanya terjadi saat ia sedang pentas. Basiyo adalah magnet bagi kelahiran kelompok Dagelan Mataram yang anggotanya sebagian besar anak muda.

Tidak hanya itu, Dagelan Mataram bahkan menjadi tontonan favorit warga. Jika suatu desa atau kecamatan tengah menggelar suatu hajatan hampir pasti Dagelan Mataram dipilih menjadi suguhan. "Bahkan lomba Dagelan Mataram disponsori pemerintah daerah," kata Bondan Nusantara, salah satu sutradara ketoprak Jogja yang juga pernah menjadi pelaku Dagelan Mataram, Sabtu (7/9/2013).

Sayangnya euforia ini tidak bertahan lama. Sepeninggal Basiyo pada 1979 silam, kelompok Dagelan Mataram mulai menghilang satu persatu. Yang lebih memprihatinkan lagi, Dagelan Mataram juga ditinggalkan penonton.

Banyak faktor yang menjadi penyebab Dagelan Mataram saat ini mati suri. Salah satunya persoalan zaman yang terus berubah. Selera masyarakat terhadap seni pertunjukan telah bergeser. "Apalagi setelah televisi muncul dan menjadi hiburan utama masyarakat," katanya.

Selain itu, kata Bondan, ada faktor dari Dagelan Mataram yang membuat tidak lagi bisa diterima masyarakat. Yakni, penggunaan bahasa Jawa.
“Saat ini kan banyak anak muda yang tidak bisa bahasa Jawa," terangnya.

Serpihan Sejarah

Bondan menjelaskan sebelum Dagelan Mataram dipopulerkan Basiyo empat dasawarsa lalu, sebenarnya seni ini sudah muncul pada 1938. Mulanya, Dagelan Mataram dipopulerkan para abdi dalem Kraton yang diminta memberikan hiburan kepada raja. Lawakan ini lambat laun berkembang hingga akhirnya dibawa ke luar Kraton dan berformat lawakan.

“Lawakan ini materinya cukup sederhana menyinggung kehidupan masyarakat sehari-hari,” jelas Bondan

Sejauh ini berdasar pengamatan Bondan, kelompok yang secara full mengusung Dagelan Mataram bisa didengarkan di RRI Jogja setiap Rabu. Hanya, penontonya mayoritas sudah berusia lanjut, begitu juga dengan para pemain.
“Ya, tidak lebih cuma menjadi ajang nostalgia saja,” ucapnya.

Bondan pun meyakini kalau Dagelan Mataram hanya menjadi serpihan sejarah yang pernah muncul di Jogja. Sejauh apapun upaya yang dilakukan pemerintah atau swasta untuk menghidupkan Dagelan Mataram tidak akan bisa mengembalikan kejayaan layaknya masa Basiyo. “Zamannya memang berubah,” ucapnya.

Susilo Nugroho atau yang terkenal dengan sebutan Den Baguse Ngarso, salah satu pelaku Dagelan Mataram, menyebut budaya pop yang berkembang saat ini juga memiliki andil membuat Dagelan Mataram sulit untuk berkembang. Lawakan yang “laku” dan digemari pasar saat ini, kata dia, cenderung instan.

“Dalam artian pelawak dituntut untuk secepatnya membuat penonton tertawa,” katanya saat ditemui Harian Jogja di kediamannya Jogokaryan, Jumat (9/7/2013).

Hal ini juga kerap ia rasakan. Sebagai seorang pelawak ia kerap mendapatkan job untuk tampil di panggung dengan waktu singkat, misalnya selama 10 menit. Selama rentang waktu itu, ia pun mau tidak mau harus berpikir keras bagaimana caranya mengocok perut penonton. Padahal karakter ini sangat kontras dengan konsep lawakan yang ada di Dagelan Mataram.

“Dagelan Mataram itu lawakannya mengalir antara satu pemain dengan pemain lain. Bahkan terkadang kelucuan dibangun pada pertengahan dan akhir pentas. Inilah yang membuat Dagelan Mataram bertolak belakang dengan trend lawakan saat ini,” bebernya.

Meski kelompok Dagelan Mataram perlahan hilang, Susilo menilai spirit Dagelan Mataram akan terus ada. Spirit ini bahkan terlihat dari lawakan yang dilakukan pelawak muda Jogja saat mereka tampil di panggung.

“Saya sesekali lihat mereka [anak muda] yang melawak dengan cara penuh spontanitas salah satunya Stand Up Comedy. Mereka kan tidak sedikit membawakan secara spontan. Nah ini adalah salah satu spirit Dagelan Mataram itu sendiri,” ungkapnya.