ROYAL WEDDING NGAYOGYAKARTA : Suvenir Pernikahan Dibuat Oleh Para Difabel

24 Oktober 2013 00:05 WIB Jogja Share :

Harianjogja.com-Tidak banyak publik yang tahu jika suvenir http://www.harianjogja.com/baca/2013/10/23/royal-wedding-ngayogyakarta-hormati-kirab-aktivitas-bisnis-malioboro-terhenti-458917" target="_blank">pernikahan GKR Hayu dengan KPH Notogero ternyata buah karya dari penyandang disabilitas dari Pusat Rehabilitasi Yakkum yang berlokasi di Jl. Kaliurang Km 13,5, Sleman.

Rasa haru bercampur bangga dirasakan sejumlah perajin cenderamata di Pusat Rehabilitasi Yakkum. Mereka tidak pernah menyangka bakal ketiban rezeki dengan mendapatkan pekerjaan membuat suvenir pernikahan GKR Hayu dengan KPH Notonegoro.

“Yang membuat kami lebih bangga adalah kami yang penyandang disabilitas bisa mendapat kepercayaan untuk membuat suvenir anak raja,” ucap Herni Sulistyowati, staf penjaga toko Yakkum Craft yang posisinya masih berada di areal Pusat Rehabilitasi Yakkum saat ditemui Harian Jogja, awal pekan ini.

Herni menceritakan, pada Juli lalu ia kedatangan staf Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jogja yang mengaku utusan dari Kraton. Dalam pertemuan itu, Herni diminta untuk membuatkan suvenir pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro sebanyak 3.000 buah.

"Begitu dapat pesanan perasaan senang bukan main. Apalagi kami ini kan beberapa bulan terakhir ini sepi order. Tapi begitu tahu jumlahnya 3.000 kami sempat langsung menolak karena kami merasa tidak mampu membuat suvenir sebanyak itu. Apalagi waktunya mepet sekali,” katanya.

Namun di luar dugaan, Dekranasda terus mendesak agar suvenir pernikahan tetap dibuat perajin Yakkum. Terlebih, kata Herni, yang meminta langsung adalah Sri Sultan Hamengku Buwono X. “Pokoknya dibuat semampunya saja,” ujar Herni menirukan permintaan pihak Dekranasda kala itu.

Akhirnya setelah terjadi kesepakatan, perajin Yakkum membuat 300 buah saja. Adapun kekurangan lainnya, sambungnya, Kraton mencari tambahan di tempat lain. ”Karena kami hanya bisa 300 buah saja. Maka suvenir itu rencananya diberikan kepada tamu VVIP sekelas presiden, menteri, gubernur, ” terang Herni.
Pada awal Agustus, sejumlah perajin mulai mengerjakan suvenir yang dipesan.  Menurut Herni, semula terdapat dua suvenir yang akan dibuat untuk pernikahan Kraton yakni puzzle dan paper tole. Pilihan pertama ditolak karena dinilai kurang cocok diberikan kepada tamu undangan sehinggga pilihan jatuh kepada paper tole.

Paper tole yang dibuat perajin di Yakkum menggunakan bahan dasar lembaran kertas foto yang kemudian dirangkai menjadi gambar tiga dimensi dengan wujud bangunan Bangsal Pagelaran Kraton Jogja berukuran sekitar 18 X 15 sentimeter. Tepat di atas Pagelaran ditulis GKR Hayu dan KPH Notonegoro, Yogyakarta 22 Oktober 2013.

“Kenapa kami bikin paper tole berwujud Bangsal Pagelaran Kraton Jogja karena itu sesuai pesanan Kraton. Jadi Kraton kasih lukisan ke kami terus kami bikin paper tole,” bebernya.

Pembuatan paper tole sempat molor hampir dua pekan dan baru dimulai pertengahan Agustus. Ini disebabkan karena font tulisan di paper tole yang sudah dibuat oleh perajin Yakkum dinilai masih kurang artististik sehingga oleh Kraton diminta untuk mengulang kembali.

Dengan waktu yang tersisa itu, perajin mengebut pembuatan suvenir, terlebih mereka diminta untuk mempercepat pengerjaan dari yang semula 7 September menjadi 2 September. Pasalnya, suvenir itu akan diberikan bersamaan dengan undangan pernikahan GKR Hayu dan KPH Notonegoro.

“Sampai-sampai yang bikin suvenir tidak tidur semalaman agar bisa segera menyelesaikan pesanan secara tepat waktu. Tapi semua pada kuat kok, soalnya kan mau dapat duit,” kata Herni sembari tertawa.

Pengerjaan suvenir dilakukan lima perajin yang dahulu pernah menjadi pasien Pusat Rehabilitasi Yakkum. Menurut Herni, tidak banyak perajin Yakkum Craft yang bisa membuat paper tole karena memiliki tingkat kerumitan yang cukup tinggi. “Susahnya itu motong detail-detail gambar dan memasangnya terutama jika bagian ukurannya sangat kecil,” ucapnya.

Bukan Kali Pertama
Sejatinya bukan kali pertama Yakkum Craft mendapatkan pesanan suvenir dari tokoh terkenal. Sebelumnya, perajin Yakkum Craft sering mendapatkan pesanan dari Kementerian ataupun Kedutaan Besar.

Pada 2005 lalu, Presiden Suriname Ronald Venetiaan juga pernah menyambangi Yakkum Craft dan memborong sejumlah kerajinan tangan yang dibuat oleh pasien Pusat Rehabiltasi Yakkum.